Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

Rabu, 31 Agustus 2005

Tempe Dan Tahu Cegah Kanker Usus Besar

Kasus kanker usus besar atau kolorektal menempati urutan enam dari sepuluh penyakit serius yang paling banyak diderita penduduk Indonesia, umumnya mereka yang berusia di bawah 40 tahun. Namun, sebenarnya kanker usus besar dapat dicegah dengan cara yang sederhana, seperti mengonsumsi tempe dan tahu. Murah bukan?

Menurut penelitian Aru Wisaksono Sudoyo dari dokter dari Divisi Hematologi Onkologi Medik FK Universitas Indonesia, penyebab utama kanker ini pada usia muda terjadi karena faktor gaya hidup dan lingkungan mereka, misalnya kaum eksekutif muda.

"Banyak mengonsumsi sate, steak, hamburger atau hot dog tanpa diimbangi konsumsi sayur dan buah membuat tubuh rentan terhadap terjadinya kanker usus besar," paparnya.
Selain pola makan yang salah dan tidak sehat itu diperburuk oleh kebiasaan merokok, minum alkohol, soda, minuman berpewarna sintetik yang kaya zat karsinogen.

Susahnya, lanjut Aru, gejala penyakit berbahaya ini nampak sepele dan lebih mirip penyakit sembelit yakni sukar buang air besar dan daerah di sekitar perut terasa mual dan agak nyeri.
Untuk itu dia menyarankan agar para eksekutif muda yang mempunyai keluhan kesehatan seperti itu segera melakukan pemeriksaan screening atau peneropongan jaringan usus besar dengan menggunakan peralatan endoskopi.

Sementara itu dr. Agus Sudiro Waspodo mengatakan kanker kolorektal patut diwaspadai jika telah timbul gejala berupa sumbatan usus atau perdarahan lewat anus, biasanya kanker sudah mencapai stadium tiga atau empat.

"Harapan untuk sembuh tipis. Karenanya perlu deteksi dini, terutama pada mereka yang berusia di atas 40 tahun," ujarnya.
Menurut Agus, kanker kolorektal jika ditangani dengan benar memiliki kesempatan sembuh hingga 50%-70% dengan operasi tetapi harus ditemukan dalam stadium dini, yaitu saat kanker masih ada di dinding lapisan dalam usus.

Pada saat ini kanker bisa disembuhkan dengan pengambilan tumor atau pemotongan usus tempat tumor berada lalu usus yang bebas tumor itu disambung lagi dengan bagian usus yang sehat.
Angka harapan hidup lima tahun adalah 90% pada kanker yang masih bersifat lokal, 58% pada kanker regional (menyebar di sekitar), dan hanya 5% jika telah menyebar jauh. Keluhan lain dari kanker kolorektal adalah nyeri perut, muntah, perubahan pola buang air (sulit), tidak nafsu makan, dan penurunan berat badan.

Deteksi dini bisa dilakukan dengan cara kolonoskopi atau sigmoidoskopi, yaitu pemeriksaan usus lewat teropong yang dimasukkan dari dubur setiap 3-5 tahun pada pria ataupun wanita yang berusia diatas 50 tahun serta pemeriksaan darah. Bagi yang berusia di atas 40 tahun cukup setahun sekali dengan metode colok dubur.

"Tapi ada cara yang sangat mudah untuk mewaspadai kanker ini. Deteksi dini bisa dilakukan dengan memeriksa tinja saat buang air besar (BAB). Jika ada darah pada saat BAB, bisa diwaspadai sebagai kanker kolorektal," ujar Kepala Instalasi Endoskopi RSKD itu.

Meski begitu darah pada tinja juga belum tentu menunjukkan kanker. Harus diperiksa lebih lanjut penyebab darah ini. Karena, darah di tinja menunjukkan ada luka pada dinding usus bisa karena radang, infeksi, pembuluh darah pecah, diare, juga kembung.

Karena sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti kanker kolorektal. Maka langkah-langkah pencegahan lah yang dianjurkan dan secara disiplin dijalankan.
Sebagai senjata untuk melawan paparan zat karsinogenik yang diduga menjadi salah satu penyebab kanker adalah dengan cara menghindari makanan yang kaya zat karsinogenik.

Makanan yang termasuk kaya zat karsinogenik a.l asam lemak dari makanan tinggi lemak jenuh, cairan empedu, daging asap, makanan yang diawetkan, alkohol dan rokok
"Sebagai anjuran untuk mencegah kanker kolorektal adalah mengonsumsi makanan berserat tinggi alami yaitu sayuran dan buah-buahan," kata Aru.

Sebagai sifat alaminya, serat akan menyerap air serta zat karsinogenik yang ada di dalam usus, sehingga memperbesar berat dan volume tinja. Hal ini akan meningkatkan gerak peristaltik usus untuk mendorong tinja keluar.

"Ini artinya kontak dinding usus dengan zat karsinogenik makin singkat, sehingga tidak sempat mengubah sel menjadi ganas," tambah Agus.cbn

Sumber: Banjarmasin Post

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia