Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
Senin, 31 Mei 2004
Teknik Baru Mengobati Penyakit Kanker
Pengobatan kanker saat ini mengalami
perkembangan baru. Jika dahulu pasien kanker
diobati dengan operasi, radioterapi dan
kemoterapi konvensional, maka kini mulai
digunakan obat-obatan yang mempunyai target
spesifik pada komponen sel yang berperan
dalam proses pertumbuhan dan pembelahan sel
kanker. Obat-obat dengan target molekuler
tersebut dalam penggunaannya dapat digunakan
tunggal atau kombinasi dengan obat-obat
antikanker standar.
Dengan menggunakan obat yang khusus membidik
komponen tersebut diharapkan terapi menjadi
tepat sasaran dan mengurangi efek pada sel
normal, sehingga akan meningkatkan tingkat
kesembuhan pasien dan mengurangi efek
samping serta memperbaiki kualitas hidup
pasien.
Hal ini disampaikan Prof Dr A Harryanto
Reksodiputro dari Divisi Hematologi-Onkologi
Medik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
(FKUI/RSCM) dalam Simposium
Hematologi-Onkologi Medik XI yang
berlangsung di Jakarta, Sabtu (29/5).
Dijelaskannya, kanker memberi dampak negatif
klinis antara lain gangguan hipofisis yang
menyebabkan cita rasa hilang, mulut pahit,
dan hilangnya rasa lapar. Terjadi juga
gangguan metabolisme tubuh yang menyebabkan
hilangnya nafsu makan dan berat badan turun,
gangguan pada saraf yang menyebabkan merasa
lemas walaupun cukup olahraga. Selain itu
timbul gangguan metabolik seperti
keseimbangan elektrolit, cairan, asam basa,
dan gula darah. Efek lain adalah munculnya
gangguan psikologis.
Penderita kanker juga akan mengalami otot
tungkai dan lengan mengecil. Hal ini
disebabkan berbagai racun yang dibentuk oleh
sel kanker dan disebarkan ke seluruh tubuh.
Penderita kanker justru meninggal karena
racun itu, bukan akibat sel kanker secara
langsung. Di sisi lain, obat-obat kanker
amat toksik atau beracun, sehingga dapat
menimbulkan gangguan fungsi jantung, ginjal,
sumsum tulang, dan saluran cerna.
Teknik baru
Pengobatan dengan teknik baru itu,
dijelaskan Asrul Harsal dari Divisi
Hematologi Onkologi Medik FKUI/RSCM, untuk
kanker paru, yang menjadi target bidikan
dari sekian banyak molekul spesifik sel
kanker paru adalah reseptor EGFR (epidermal
growth factor receptor). "Dengan menggunakan
obat gefitinib akan menghambat pertumbuhan
sel dan menghambat pertumbuhan pembuluh
darah pada sel kanker sehingga mencegah
penyebaran sel. Dengan demikian kematian sel
kanker meningkat pula," urainya.
Penggunaan obat ini secara tunggal akan
memberi respons 11–19 persen.
Pada masa mendatang, jika bisa dikenal data
awal mutasi gen ini, kemungkinan gefitinib
akan dipakai sebagai pilihan pertama
kemoterapi. Obat ini bisa dipakai baik
setelah operasi maupun sebagai pemakaian
pertama pada indikasi kemoterapi KPBSK
(kanker paru bukan sel kecil) stadium IIIB
dan IV pada kelompok pasien tertentu, karena
akan memberikan hasil baik sekali dengan
efek toksik ringan.
Dijelaskan Prof dr Zubairi Djoerban, juga
dari Divisi Hematologi Onkologi Medik FKUI,
pada kanker payudara, salah satu molekul
spesifik yang menjadi target adalah HER-2
(Human Epidermal growth factor Receptor)–2.
Reseptor HER-2 berperan menyampaikan sinyal
perintah pertumbuhan, pembelahan, dan
diferensiasi sel normal.
Jika terjadi amplifikasi pada gen HER-2 maka
akan terjadi ekspresi berlebihan dari
protein HER-2 yang mengakibatkan pertumbuhan
sel yang tidak terkendali.
Reseptor HER-2
Pasien yang mempunyai reseptor HER-2
berlebihan pada sel kankernya terbukti angka
kekambuhannya lebih tinggi dan angka
ketahanan hidupnya lebih rendah dibandingkan
dengan pasien yang sel kankernya tidak
mempunyai reseptor HER-2 berlebihan.
Menurut Zubairi, untuk kasus penyakit
tersebut kini dapat diobati dengan
memberikan obat trastuzumab. Obat dapat
diberikan secara tunggal atau kombinasi
dengan obat kemoterapi standar. Pemberian
trastuzumab yang dikombinasi dengan obat
kemoterapi standar pada pasien kanker
payudara stadium lanjut terbukti dapat
memperlambat progresivitas penyakit,
meningkatkan respons pengobatan,
memperpanjang masa respons, menurunkan angka
kematian, dan meningkatkan angka ketahanan
hidup.
Trastuzumab adalah obat yang dapat berikatan
secara spesifik dengan reseptor HER-2
sehingga akan menghambat proses pertumbuhan
dan pembelahan sel kanker. Pemberian
trastuzumab yang dikombinasikan dengan
taksan pada kanker payudara stadium lanjut
memberikan respons sebesar 63-79 persen dan
dapat ditoleransi cukup baik.(yun)
Sumber: Kompas
Archive