Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

Senin, 29 Juli 2002

Kanker Masalah Kedokteran

SOLO, Kalangan kedokteran di Indonesia mengakui, penyakit kanker yang banyak merenggut jiwa merupakan masalah bukan hanya bagi masyarakat tetapi juga bagi dunia kedokteran. Hal itu disebabkan para penderita kanker ganas yang dibawa ke rumah sakit (RS) dalam keadaan terlambat, sehingga para dokter tidak dapat berbuat banyak terhadap penderita.

Guru besar bagian patologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK-UGM) Yogyakarta, Prof. Dr. dr. Soeripto, mengemukakan hal itu dalam simposium peran gizi dalam pencegahan kanker di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sabtu (27/7) lalu. Dia menyoroti epidemiologi penyakit kanker di Indonesia, yang terkait dengan kurangnya pemahaman masyarakat atas penyakit ganas tersebut.

”Penyakit kanker yang dapat disembuhkan, pada umumnya adalah yang masih dalam stadium dini. Namun akibat penyakit sudah berjalan lanjut, dokter atau rumah sakit tidak dapat berbuat banyak,” jelasnya.
Penyebab penderita kanker memeriksakan diri untuk mendapat pengobatan, menurut Prof. Soeripto, di antaranya berupa faktor ekonomi, tingginya biaya pemeriksaan di RS, ongkos operasi, harga obat anti-kanker, rendahnya tingkat pendidikan formal para penderita kanker dan sebagainya. Selain itu, penyebab lain adalah faktor psikologi yang mengganggu kelakuan rasional penderita, sehingga mereka takut terhadap sesuatu yang menjerakan.

Guru besar FK-UGM itu menyebut contoh wanita penderita kanker payudara, mereka tidak hanya takut terhadap penderitaan akibat kanker atau pembusukan. Tetapi kaum wanita yang telah berkeluarga lebih takut pada hubungan emosional dengan suaminya akan menjadi kacau.

Pada bagian lain, Prof. Soeripto mengingatkan, sebaiknya dokter bersama masyarakat berupaya menemukan kanker secara dini sebagai tindakan sekunder. Ditegaskannya pula, tindakan yang lebih mulia sebenarnya adalah melalui tindakan pencegahan primer, yakni tidak dengan cara mengobati kanker tetapi berupaya agar tidak terkena penyakit kanker.

Berbicara soal keterkaitan gizi dengan kanker, Dr. Bambang Suprapto, MMed Sci, R Nutr, mengungkapkan, di negara maju konsumsi lemak terutama lemak jenuh semakin tinggi. Sedangkan energi yang dikonsumsi dari lemak makanan itu hanya mencapai 40 persen dari total kalori. Lemak itu sendiri pada umumnya dimasak dalam suhu tinggi.

Selain persoalan lemak jenuh dalam tubuh itu, kini terjadi kecenderungan penggunaan bahan pengawet daging berupa senyawa nitrit dan dengan proses pengasapan. Semua itu bisa berdampak buruk pada kesehatan manusia, di antaranya menyebabkan terjadinya kanker pada individu yang rentan.

Pakar gizi itu menyebut contoh zat gizi mikro yang berkhasiat menurunkan risiko terjadinya kanker, yakni vitamin A dan carotenoid dapat menurunkan kejadian kanker oesophagus, lambung, usus besar, paru-paru, payudara dan lain-lain. Sedangkan asam folat mengurangi kanker usus besar dan vitamin C mengurangi kanker mulut dan pharynx, oesophagus, lambung, pankreas dan lain-lain.(A-102)***

Sumber: Pikiran Rakyat http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0702/29/0503.htm

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia