Language
NEWS &
EVENTS
29.06.2005
Kanker Usus Pun Menyerang Usia Muda
Jika beberapa waktu lalu kanker usus
banyak ditemukan pada usia 40 tahun ke atas,
fenomena itu kini bergeser. Penyakit kanker
merupakan salah satu penyakit yang menjadi
momok bagi banyak orang, dan angka
kejadiannya semakin meningkat. Penyebab dari
penyakit mematikan ini masih menjadi
penelitian, namun diduga bersifat
multifaktor. Faktor gentik pola makan, gaya
hidup dan stress diduga memiliki kontribusi
sebagai 'penyumbang'.
Kematian nomor dua
Kanker kolon merupakan salah satu jenis
kanker enyebab kematian kedua terbesar
akibat kanker di Amerika Serikat, setelah
kanker paru-paru. Setiap tahun terdapat 130
ribu kasus baru dengan tingkat kematian
lebih dari 50 ribu orang, 97 persen di
antara penderita kanker usus berumur di atas
40 tahun.
Di Indonesia, kasus kanker usus pun mulai
banyak ditemukan. Di rumah sakit kanker
Dharmais misalnya, mendapati kanker usus
pada 6,5 persen pasien yang menjalani
kolonoskopi, dan di Rumah Sakit Umum Daerah
Banjarmasin terdapat 32 persen pasien dengan
perdarahan anus. Sementara itu di Rumah
sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Cipto
Mengunkusumo, Jakarta rata-rata kedatangan
50 kasus kanker usus baru setiap tahunnya.
Sementara itu, fenomena baru juga ditemukan
bahwa usia penderita kanker usus kini
semakin muda usia, jumlah penderita kanker
usus yang berusia di bawah 40 tahun, kini
semkain bertambah banyak. Pergeseran usia
ini tentu berkaitan dengan pola makan dan
gaya hidup. Coba saja tengok, kalangan
eksekutif muda dengan aktifitas yang
demikian padat, sehingga tiada waktu lagi
untuk menjalankan hidup sehat. Makan serba
instant dalam waktu yang terbatas dan kurang
berolahraga.
Pentingnya serat makanan
Kontribusi makanan berserat bagi
kesehatan tubuh tentu tak perlu
dipertanyakan lagi, tidak hanya baik bagi
pencernaan, serat juga mencegah timbulnya
penyakit tertentu, bahkan serat juga
bermanfaat bagi mereka yang ingin menurunkan
berat badan. Serat makanan (dietary fiber)
yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dapat
dibedakan menjadi dua bagian besar yang
dapat larut dan tidak laurt dalam air. Serat
yang tidak larut dalam air, antara lain;
selulosa, hemiselulosa, lignin; sedangkan
serat yang larut dalam air, antara lain:
pectin, gum, gels, mucilages. Pectin, gels,
mucilages dapat ditemukan di dalam
buah-buahan, sedangkan gum ditemukan sebagai
selaput pada biji-bijian atau padi-padian
yang lebih dikenal sebagai bahan bran atau
bekatul.
Tampaknya jika anjuran lawas, empat sehat
lima sempurna benar-benar dijalankan,
kebutuhan akan serat dapat terpenuhi.
Sementara itu, National Cancer Institute
(NCI) di Amerika Serikat menganjurkan
konsumsi serat 20-30 gram sehari bagi orang
dewasa. Sementara American Diet Association
(ADA) menganjurkan 25-35 gram sehari.
Tampaknya, anjuran tersebut berkenaan dengan
pro dan kontra tentang pentingnya serat
sebagai pencegah terjadinya kanker salah
satunya kanker usus. Ahli kesehatan yang pro
dengan pendapat tersebut menyatakan bahwa
serat dapat mempercepat waktu transit
makanan, mulai dari masuknya makanan ke
mulut hingga keluar sebagai feses.
Percepatan waktu transit ini memiliki dua
manfaat, yakni mengurangi penyerapan air
kembali dan penyerapan zat-zat berbahaya
yang bersifat karsiogenik (menyebabkan
kanker). Dengan berkurangnya penyerapan air
maka kita terhindar dari konstipasi (sulit
buang air besar/BAB), BAB lancar dan tidak
keras. Manfaat kedua menyebabkan
berkurangnya kemungkinan terserapnya zat
karsinogenik melalui dinding usus ke dalam
tubuh.
Masih rendah
Sayangnya, kesadaran akan pentingnya
lemak masih demikian rendah, penelitian
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi
Departemen Kesehatan RI tahun 2001 mendapati
bahwa konsumsi serat penduduk Indonesia
hanya 10,5 gram per hari. Bandingkan dengan
jumlah yang disarankan oleh ADA dan NCI,
tentu saja jumlah tersebut masih belum
mencukupi.
Penelitian tentang manfaat serat sebagai
pencegah kanker usia masih terus dilakukan.
Salah satu penelitian dilakukan oleh
European Prospective Investigation into
Cancer and Nutrition (EPIC) tahun 2003.
Hasilnya peningkatan konsumsi serat pada
masyarakat Eropa (semula hanya 15 gram per
hari) dapat mengurangi risiko terjadinya
kanker usus sebanyak 40 persen. Penelitian
dilakukan dengan melibatkan 10 negara di
Eropa, dengan melibatkan 519.978 orang, usia
25 hingga 70 tahun. Beberapa penelitian juga
menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara
sulit BAB dengan risiko kanker usus.
Misalnya saja penelitian Fred Hutchinson
Cancer Research serta University of
Washington tahun 1998, yang menyimpulkan
bahwa orang yang sering mengalami konstipasi
(sembelit) memiliki kemungkinan terkena
kanker usus empat kali lebih besar ketimbang
orang yang tidak mengalami konstipasi.
Sering konstipasi merupakan faktor risiko
penting bagi terbentuknya kanker usus bagi
mereka yang berusia paruh baya.
Bagaimana terjadinya kanker usus?
Pertumbuhan kanker usus biasanya melalui
empat stadium, antara lain:
• Pertama-tama tumor terdapat pada lapisan
dalam usus besar
• Lalu menyebar melalui dinding otot usus.
• Menyebar ke kelanjar getah bening
• Menyebar ke organ tubuh lain, mengingat
demikian berbahayanya kanker usus, maka
sebaiknya kita memperkecil risiko terserang
penyakit ini, misalnya dengan mencegah
terjadilnya konstipasi dengan memperbanyak
makanan berserat, agar kebutuhan serat yang
direkomendasikan tercukupi.
Dengan cukup mengonsumsi serat kita juga
memperoleh manfaat lainnya, seperti
mengurangi risiko penyakit jantung koroner,
karena dapat menurunkan kolesterol darah.
Selain itu serat makanan juga akan
menyebabkan penyerapan gula di dalam usus
menjadi lebih lambat sehingga jumlah insulin
yang diperlukan akan berkurang. Oleh sebab
itu, konsumsi serat bagi penderita diabetes
memberi pengaruh positif.(HT+ADV)
Sumber: Majalah HealthToday
Archive