Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
26-Mar-2003
Waspadai Gejala Limfoma Non-Hodgkin
Jika mendapati benjolan yang kenyal,
tidak terasa nyeri, mudah digerakkan, dan
tidak ada tanda-tanda radang, perlu
dicurigai sebagai limfoma non-Hodgkin atau
kanker kelenjar getah bening. Namun
demikian, tidak semua benjolan yang terjadi
di sistem limfatik merupakan kanker kelenjar
getah bening. Bisa saja benjolan tersebut
hasil 'perlawanan' kelenjar limfa dengan
sejenis virus atau mungkin tuberkulosis
limfa. Limfoma sendiri terjadi akibat
pertumbuhan berlebihan satu klon sel
limfosit pada tahapan tertentu saat proses
pematangan di kelenjar getah bening. Jenis
limfoma yang paling banyak terjadi pada
pasien adalah limfoma non-Hodgkin. Demikian
kesimpulan yang didapat dari kegiatan
Ceramah Ilmiah yang diadakan oleh RS Kanker
Dharmais dengan tema "Dignosis dan
Pengobatan Kanker Kelenjar Getah Bening".
Dr. Djumhana Atmakusuma, Sp.PD, KHOM menjadi
pembicara pada acara yang di selenggarakan
pada 5 Juni lalu itu.
Gambaran klinik pasien yang mengalami
limfoma non-Hodgkin (LNH) di antaranya tumor
yang berasal dari pembesaran kelenjar getah
bening perifer, terjangkitnya sumsum tulang
pada limfoma indolent (jinak), dan
pembesaran kelenjar getah bening di rongga
dada (mediastinum) serta rongga perut
(abdomen) pada limfoma agresif. Sedangkan
gejala sistemiknya berupa demam yang tidak
diketahui penyebabnya, berat badan menurun
lebih dari 10 kg dalam enam bulan terakhir,
atau keringat pada malam hari. Pasien yang
mengalami salah satu gejala di atas
dikategorikan LNH derajat B, sedangkan yang
tidak mengalami disebut LNH derajat A.
Namun demikian, mengenali gejala saja tidak
dapat menentukan LNH. Pemeriksaan histologi
(jaringan), analisis imunologik, dan
analisis molekular dapat dilakukan untuk
menegakkan diagnosis limfoma. Selain itu,
dengan hasil pemeriksaan histologis dapat
ditentukan derajat keganasan LNH. Derajat
yang paling rendah adalah limfoma indolent
(jinak), derajat selanjutnya limfoma agresif
dan limfoma sangat agresif. Derajat limfoma
juga dapat ditentukan setelah pemeriksaan
histologis. Berdasarkan sistem "staging" Ann
Arbor, tingkat penyakit pasien dibedakan
atas: Stadium I jangkitan LNH pada satu
daerah kelenjar getah bening; Stadium II
jangkitan mengenai dua daerah kelenjar getah
bening pada sisi diafragma yang sama;
stadium III jangkitan pada daerah kelenjar
getah bening pada kedua sisi diafragma; dan
stadium IV jangkitan difusa atau diseminata
(menyeluruh) pada satu atau lebih organ
eksemfalitik.
Pengobatan LNH, menurut Djumhana, terdiri
dari kemoterapi sitostatika, obat hormonal,
dan biological respons modifiers. Kemoterapi
sitostatika yang sering digunakan adalah
siklofosfamida, vinkristin, deksorubisin,
atau epirubisin. Obat hormonal yang umumnya
digunakan adalah kortikosteroid, seperti
prednison, metil prednisolon, atau
deksametason. Interferon alfa sering
digunakan sebagai biological respons
modifiers. Selain itu, pengobatan juga dapat
dilakukan dengan radiasi. Pada pasien dengan
stadium awal atau pasien LNH ekstranodal,
misalnya di nasofaring atau di otak, dapat
diberlakukan tindakan radiasi. Namun, jika
terjadi penyumbatan, tindakan bedah
merupakan pilihan yang paling efektif.
Pembedahan dapat dilakukan karena adanya
sumbatan di saluran cerna dan di vena cava
superior.
Alternatif lain yang juga dapat dilakukan
yakni dengan transplantasi sumsum tulang
(TST). Transplantasi ini dilakukan pada
pemberian kemoterapi dosis tinggi. Tindakan
dilakukan dengan menyelamatkan sel induk
darah ke dalam nitrogen cair bersuhu minus
197 derajat. Setelah pengobatan kemoterapi
selesai, sel induk darah ditransplantasikan
kembali. Hal ini dimaksudkan untuk
meningkatkan respons pengobatan dan
memanjangkan harapan hidup pasien.
Harapan hidup rata-rata pasien LNH indolent
yang tidak memberikan gejala dan tanpa
pengobatan 4--6 tahun, sedangkan pada LNH
indolent stadium I yang diberikan radiasi
50--60% dapat bertahan hidup 10 tahun. Pada
pasien LNH agresif, bila tidak dilakukan
tindakan pengobatan akan meninggal dalam
beberapa bulan dan LNH sangat agresif yang
tidak diobati akan meninggal dalam beberapa
minggu. Namun demikian, penggunaan
kemoterapi memberikan respons pengobatan
yang baik pada 50--85% pasien, separuh di
antaranya bebas penyakit atau sembuh.
(Hidayati W.B.)
Sumber: Tempo
Archive