Language
NEWS &
EVENTS
25.09.2004
Pengobatan suportif pada kanker
Kegagalan Metabolisme Pasien Kanker
Banyak pasien kanker masih harus
berjuang melawan efek samping pengobatan di
samping melawan sumber kankernya. Di sinilah
diharapkan pengobatan suportif lebih banyak
bicara.
Dalam manajemen penatalaksanaan kanker,
kebanyakan dokter masih terfokus pada
bagaimana membasmi sel ganas ini. Gempuran
demi gempuran dahsyat dilancarkan ke tubuh
pasien demi raibnya sel-sel kanker dari
tubuh pasien. Sayangnya kondisi pasien yang
memburuk akibat efek samping pengobatan,
kemoterapi atau radiasi kadang menjadi
perhatian nomer dua. "Padahal, yang lebih
penting justru pengobatan suportif ini,
disamping pengobatan kankernya," ujar Prof.
Dr. dr. Arry Harryanto Reksodiputro,
spesialis hematologi dan medikal onkologi di
sela-sela seminar bertema Dasar-dasar
Manajemen Penatalaksanaan Kanker dalam
rangka HUT RS MMC XVII, Sabtu 25 September
2004 di Hotel Acacia, Jakarta.
Sebagai pembicara pertama, Arry khusus
memamparkan makalah bertema Dasar Pemberian
Kemoterapi dan Pengobatan Suportif Pada
Kanker. Kemajuan di bidang ilmu dan
teknologi kedokteran, khususnya penelitian
DNA dan molekul-molekul intrasel maupun
ekstrasel, menurut Arry, membuat kemoterapi
bisa menunjukkan hasil menakjubkan dalam
kesembuhan kanker, baik solid maupun non
solid. Kelemahan utama kemoterapi adalah
bersifat toksik terhadap sel normal, apalagi
bila diberikan dalam intensitas dan dosis
tinggi seperti pengobatan leukemia akut dan
limfoma Non-Hodgin derajat keganasan tinggi.
"Akhir-akhir ini semakin banyak kemoterapi
agresif dilakukan pada penyakit kanker jenis
lain dengan tujuan sembuh dari kanker,"
jelas Arry.
Pengobatan suportif pada pasien kanker,
untuk mengeliminir berbagai kondisi
pascakemoterapi, seharusnya sudah dimulai
sejak awal pasien sakit dan menjalani
bermacam fase pengobatan jangka panjang.
Pengobatan suportif meliputi semua aspek
kesehatan baik fisik maupun psikis. Masalah
suportif secara umum yang dijumpai, seperti
dituturkan Arry, adalah nyeri, perdarahan
dan masalah.
Khusus gangguan metabolisme, dilaporkan
sitokin dan polipetida yang terbentuk dalam
tubuh penderita kanker berperan penting
terhadap gangguan metabolisme, seperti
anoreksia, stimulasi metabolisme basal,
stimulasi konsumsi glukosa, mobilisasai
cadangan lemak dan protein, penurunan
aktivitas enzim adipocyte lipoprotein,
peningkatan pelepasan asam amino otot serta
peningkatan aktivitas transportasi asam
amino hepar. Hal ini menyebabkan malnutrisi
pasien kanker mempunyai karakter metabolik
yang berbeda dengan malnutrisi akibat
kelaparan koagulasi/koreksi gangguan
hemostatis, masalah saluran cerna, obstruksi
dan ostomi, masalah kebersihan mulut dan
mukositis, anorexia dan kakeksia, infeksi
dan gangguan psikiatri termasuk depresi.
Belum lagi komplikasi neurologi, anemia,
masalah pada integritas tulang dan gangguan
faal organ lain seperti ginjal, hati dan
jantung.
"Untuk memudahkan, gangguan metabolisme pada
kanker dapat diuraikan menjadi tiga bagian
yaitu gangguan metabolisme karbohidrat,
gangguan metabolisme lemak dan gangguan
metabolisme protein," ujar Arry lagi.
Glutamin adalah asam amino yang paling
banyak diselidiki pada penderita kanker.
Mengapa? Ia adalah sumber energi utama
berbagai kanker, jumlahnya banyak, dengan
bentuk cadangan yang labil serta paling
banyak digunakan pada metokondria sel
kanker. Konsumsi glutamin oleh jaringan
kanker dapat mencapai 50% atau lebih.
"Jumlah ini lebih besar dari konsumsi organ
tubuh yang manapun," kata Arry. Kadar
glutamin yang rendah merupakan mediator dari
poliolisis dalam tubuh. Menjadi penting bagi
pasien kanker untuk mengkonsumsi makanan
kaya protein, terutama protein hewani.
Selama ini ada kesalahpahaman, penderita
kanker sebaiknya menghindari protein hewani
karena akan menjadi makanan kanker.
"Padahal, jumlah yang dimakan sel kanker
tidak seberapa dibandingkan kebutuhan
pasien," ujar ahli dari Divisi
Hematologi-Onkologi Medik, FKUI/RSCM ini
mengakhiri ceramah.
Sumber: Farmacia
Archive