Language
NEWS &
EVENTS
25.06.2002
Kanker Diangkat, Payudara Dipertahankan
Dengan Teknik BCT
Penderita kanker payudara kini tidak
lagi harus kehilangan ciri kewanitaannya
itu. Jika ditemukan pada stadium dini,
kanker bisa diangkat tanpa mempengaruhi
bentuk payudara. Hal itu dimungkinkan dengan
teknik breast conserving treatment (BCT).
Teknik ini terus dikembangkan untuk
memaksimalkan manfaat dan memperkecil efek
samping. Breast conserving treatment
merupakan salah satu topik yang dibahas
dalam "The 4th National and the 1st Regional
Scientific Meeting of Haematology-Medical
Oncology, Internal Medicine" yang
berlangsung di Jakarta, 22-23 Juni 2002.
Pertemuan ilmiah ini diselenggarakan Badan
Koordinasi dan Kerja Sama Nasional
Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam
Indonesia (Bakornas Hompedin) bersama
Sub-Bagian Hematologi Onkologi Medik Bagian
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Perhimpunan
Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia
(PHTDI), dan Persatuan Ahli Penyakit Dalam
Indonesia (PAPDI).
Menurut dr Evert DC Poetiray SpB Onk dari
Sub-Bagian Bedah Onkologi Bagian Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
(FKUI/ RSCM), BCT mampu mengontrol tumor
secara lokal maupun regional. Selain itu,
BCT juga memberi angka harapan hidup sama
seperti mastektomi atau pengangkatan
payudara. Teknik ini dilakukan di Indonesia
sejak tahun 1984.
Penelitian yang dilakukan Evert bersama dr
Soehartati Gondhowiardjo SpRad dan Zubairi
Djoerban SpPD KHOM pada pasien kanker
payudara stadium dini di RSCM menunjukkan,
survival rate 94,4 persen dan kekambuhan
lokal 4 persen.
Pemetaan kelenjar sentinel
Berkaitan dengan BCT, demikian dr Samuel
J Haryono SpB Onk dari Rumah Sakit Kanker
Dharmais (RSKD), para ahli onkologi mengkaji
kembali prosedur rutin pengambilan kelenjar
getah bening di ketiak level I sampai III
(ANLD) yang menyertai bedah kanker payudara.
Pengangkatan hampir seluruh kelenjar getah
bening di ketiak ini merupakan baku emas
untuk menentukan stadium kanker.
"Kelenjar getah bening di aksila (ketiak)
merupakan tempat penjalaran kanker payudara
paling umum. Kondisi kelenjar getah bening
di ketiak merupakan faktor prognostik
(petunjuk untuk memperkirakan perjalanan
penyakit) terpenting, sekaligus tolok ukur
untuk kemoterapi sistemik setelah
pembedahan. Tindakan ini mempunyai manfaat
terapeutik bagi pasien. Jika tidak
dilakukan, angka harapan hidup lima tahun
dari pasien menurun 40 persen," papar
Samuel.
Peningkatan kesadaran perempuan untuk
melakukan deteksi dini serta sensitivitas
mamografi, membuat banyak pasien kanker
payudara didiagnosis pada stadium sangat
dini, di mana penjalaran ke kelenjar getah
bening di sekitar payudara masih sangat
minim. Dari penelitian, ternyata kelenjar
getah bening yang diangkat dan belum
terjalar sel kanker mencapai 60-70 persen.
Oleh karena itu, pengambilan kelenjar getah
bening secara agresif dianggap tak
bermanfaat bagi pasien, bahkan berisiko
meningkatkan kesakitan, seperti pembengkakan
pascaoperasi. Fungsi kelenjar getah bening
sesungguhnya melawan infeksi. Efek samping
lain, ANLD adalah nyeri, mati rasa, serta
lemah. Selain itu, ANLD memperlama
pemulihan, meningkatkan biaya, dan waktu
rawat inap.
Kini dikembangkan pemetaan dengan
pengambilan kelenjar getah bening sentinel
(SNLD) sebagai alternatif tindakan ANLD.
Pendekatan invasif minimal ini mengurangi
kesakitan dan pembengkakan pascaoperasi,
meningkatkan fungsi bahu dan lengan,
mengurangi stres pasien, efektif dari segi
biaya, serta meningkatkan ketelitian
penentuan stadium kanker. Saat ini, Samuel
dan kolega di RSKD tengah meneliti prosedur
pemetaan kelenjar getah bening sentinel
dalam kaitan BCT bersama kelompok peneliti
kanker di Yogyakarta dan Belanda.
Untuk menyusutkan ukuran tumor agar bisa
dilakukan BCT, pasien kanker payudara diberi
neoadjuvant chemotherapy, yaitu kemoterapi
sebelum pembedahan. Selain itu, urai dr
Ronald A Hukom SpPD KHOM MHSc dari
Sub-Bagian Hematologi-Onkologi Medik Bagian
Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM-RSKD,
kemoterapi tersebut untuk meningkatkan
prognosis, mencegah mekrometastasis, menilai
sensitivitas sel kanker terhadap kemoterapi,
mengurangi resistensi terhadap kemoterapi,
serta menilai respons kanker payudara
terhadap prediktor biologi dan genetik.
Kemoterapi dengan regimen konvensional telah
membantu pasien dengan tumor besar sehingga
bisa menjalani BCT.
Saat ini, di pelbagai pusat penelitian
sedang dilakukan uji coba untuk meneliti
regimen dengan kombinasi obat-obat baru
(golongan taxane, capecitabine,
trastuzumab), mengintensifkan waktu dan
dosis dari antrasiklin untuk meningkatkan
respons patologi, terapi endokrin praoperasi
(tamoxifen, fulvestrant, penghambat
aromatase) untuk pasien usia lanjut, serta
penelitian penanda prediktif (ekspresi gen
dan protein) untuk mendapatkan subkelompok
yang memperlihatkan respons lebih baik.
(atk)
Sumber: Kompas
Archive