Language
NEWS &
EVENTS
24.01.2005
MEMAHAMI KANKER UNTUK PENANGANAN YANG
EFEKTIF
Tubuh dapat dilihat sebagai suatu
masyarakat atau ekosistem dimana anggotanya
adalah sel yang membelah banyak melalui
pembelahan sel dan terorganisasi dalam
kelompok fungsi tertentu pada organ. dalam
kegiatan tersebut terjadi pembentukan sel
baru, kematian sel, pengaturan jumlah sel.
Jadi tiap sel saling bekerja sama.
Mutasi gen dapat mengakibatkan terjadinya
otonomi pada sekumpulan sel dan dapat
mengganggu seluruh sistem yang ada.
Perubahan sel-sel yang terus berkelanjutan
akan berdampak buruk. Sel-sel yang telah
kehilangan mekanisme kontrol itu disebut sel
kanker.
Begitulah Rukmini Rashid Mangunkusumo
menjelaskan kanker pada upacara
pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap dalam
Ilmu Patologi Anatomi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta,
Sabtu (22/1).
Menurut Rukmini, sel kanker dapat berasal
dari semua unsur yang membentuk suatu organ.
Dalam perjalanan berikutnya sel kanker
tumbuh dan mengandalkan diri sehingga
membentuk massa yang disebut tumor, yang
akan menginvasi dan merusak jaringan normal.
Sel-sel menjadi kanker melalui proses
kompleks yang disebut transformasi. Proses
awalnya disebut inisiasi, dimana bahan
genetik akan berubah menuju kanker.
Perubahan dapat spontan atau diakibatkan
oleh suatu unsur (agen) yang disebut
karsinogen. Karsinogen dapat berupa zat
kimia, tembakau, virus, radiasi, dan sinar
matahari.
Tahap kedua timbulnya kanker adalah proses
promosi. Agen yang mengakibatkan promosi
disebut promotor. Promotor tidak berdampak
pada sel yang tidak mengalami inisiasi.
Mengingat tubuh terdiri dari bermacam-macam
jaringan, maka jenis kankernya pun berbeda
tergantung pada jaringan/organ yang terkena.
Leukomia dan limfoma misalnya, merupakan
kanker yang berasal dari darah dan jaringan
yang membentuk darah.
Leukemia tidak membentuk massa tumor, namun
mengisi pembuluh darah dan mengambil alih
fungsi sel darah normal.
Karsinoma berasal dari sel yang melapisi
permukaan tubuh atau permukaan saluran tubuh
misalnya kulit, saluran cerna, dan saluran
kelamin. Sarkoma adalah kanker yang berasal
dari sel penunjang yang berada di bawah
permukaan tubuh, misalnya otot. Kelompok
umor lain berasal dari susunan saraf.
***
Beberapa keadaan akan meningkatkan risiko
terjadinya kanker. Faktor risiko tersebut
antara lain faktor genetik, usia, faktor
lingkungan, faktor geografis, diet, virus,
dan penyakit infeksi. Mula-mula kanker tidak
menimbulkan keluhan karena hanya melibatkan
beberapa sel. Bila sel kanker bertambah,
maka keadaan bergantung kepada organ yang
terkena. Pada usus yang berongga besar,
tumor harus mencapai ukuran besar sebelum
memicu keluhan.
Sebaliknya, sungguh pun tumor masih kecil,
tetapi apabila mengenai organ tertentu
misalnya pita suara, langsung berdampak
nyata seperti keluhan serak suara. Tumor
kecil di otak juga memunculkan keluhan
berat.
Kanker akan memberikan keluhan yang merusak,
menimbulkan penekanan, menghasilkan zat
toksik, serta memakai energi dan nutrisi
yang biasanya dipakai oleh fungsi tubuh yang
normal. kaker tersebut dapat menyebar ke
seluruh tubuh dan mengakibatkan berbagai
komplikasi.
Keluhan dapat berupa rasa nyeri, pendarahan,
letih, dan berat badan menurun, kelenjar
getah bening membesar, depresi, gangguan
nerologik, gangguan pernapasan, dan
sebagainya, bergantung di mana lokasi
tumornya.
Perjalanan penyakit kanker yang lama dan
panjang serta dampak luas yang
diakibatkannya akan memakan seluruh
perhatian dan energi baik dari penderita,
keluarga, maupun lingkungannya.
Diagnosis kanker dapat ditegakkan melalui
pemeriksaan klinis dan beberapa pemeriksaan
penunjang, lalu dipastikan melalui
pemeriksaan hispopatologik.

Pemeriksaan hipospatologik dilakukan melalui
operasi dimana pengangkatan seluruh jaringan
yang sakit atau dengasn pemeriksaam
biopsi/insisi/eksisi/biopsi jarum halus
(FNAB) yaitu mengambil sebagian jaringan
dari organ yang dicurigai untuk diperiksa
dibawak mikroskop.
Skrining adalah pemeriksaan untuk mendeteksi
kemungkinan adanya kanker sebelum timbulnya
keluhan, misalnya pemeriksaan apusan leher
rahim (pap smear) yang dilakukan untuk
deteksi dini kanker rahim. Pemeriksaan
imunohistokimia umtk menunjang diagnosis,
penentu prognosis dan terapi.
Cara pencegahan umum kanker adalah
mengurangi paparan terhadap bahan karsinogen
misalnya tidak merokok, menghindari makanan
tinggi lemak, menambah konsumsi makanan
berserat seperti sayuran dan buah, hidup
aktif fisik, mengupayakan berat badan yang
ideal, dan hidup dengan pola sehat.***
Pengetahuan tentang kanker terus berkembang
sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran
pada umumnya. Menurut I Made Nasar pada
pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar
Tetap dalam Ilmu Patologi Anatomi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta,
Sabtu (22/1), sekarang pengetahuan tentang
biomolekuler telah dipakai sebagai dasar
diagnosis dan terapi.
Jenis kanker sangat banyak dan kanker primer
tidak selalu berhubungan dengan organ yang
sesuai (misalnya kanker tulang dapat menjadi
primer di luar tulang), kanker yang berasal
dari satu jenis sel dapat bermanifestasi
dalam berbagai tipe dengan sifat yang
berbeda.
Oleh karena itu, penanganan kanker tidak
mungkin dapat dilakukan oleh satu jenis
profesi saja atau masing - masing profesi
tidak mau tahu tentang profesi lain.
Masing-masing profesi memang berperan utama
pada satu subsistem dalam penanganan kanker,
namun semua profesi seharusnya berada pada
satu sistem yang harmonis dan terpadu.
I Made Nasar menekankan, penanganan kanker
secara multidisiplin sudah merupakan
keharusan dan sudah tidak bisa ditunda lagi.
Untuk lebih memahami kepentingan kerja sama
multidisiplin dalam penatalaksanaan kanker,
I Made Nasar mencontohkan perkembangan kasus
limfoma malignum, suatu tumor ganas berasal
dari limfosit (di luar sumsum tulang).
Dengan berkembangnya pengetahuan di bidang
biomolekuler, maka penanganan kanker mau
tidak mau harus dilandasi oleh temuan-temuan
di bidang biomolekuler.
Di bidang diagnosis, misalnya, tidak cukup
berdasarkan gambaran histologik saja, namun
harus dilengkapi dengan pemeriksaan
histokimia, ilmunalogi dan ultrastruktur
serta biomolekuler bila dipadukan. Maka,
diagnosis pun akan semakin rinci.
Namun, I Made Nasar mengingatkan, diagnosis
rinci yang tidak diikuti dengan cara
pengobatan yang rinci pula tidak akan
bermanfaat.
Sumber: Kompas
Archive