Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

23.12.04

Mengapa Masyarakat Cenderung Berobat ke Luar Negeri?
 
"Sekarang kalau saya sakit pilek pun takut berobat di rumah sakit di Indonesia. Saya lebih baik berobat ke Penang, Malaysia. Di rumah sakit swasta di Aceh, saat saya batuk dan demam, kemudian diberi obat oleh dokter, justru suara saya hilang. Dokter mengatakan saya menderita diabetes dan paru-paru basah. Saya diberi obat yang harganya Rp 1,6 juta yang dua jam kemudian saya pingsan. Sedangkan hasil pemeriksaan dokter di Penang, saya tidak menderita paru-paru basah melainkan radang tenggorokan. Lima hari setelah memakai obat yang harganya 160 ringgit, suara saya sudah muncul," tutur Ny Cut Raziati, yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Pembaruan/Eko Budi Harsono
Ruang CT-Scan di Raffles Hospital Singapura

Kalimat-kalimat itu disampaikan Ny Cut Raziati saat berlangsung seminar kajian rumah sakit menghadapi era globalisasi yang diselenggarakan Pusat Kajian Pembangunan Kesehatan Departemen Kesehatan, baru-baru ini, di Jakarta. Kekecewaan terhadap mutu pelayanan kesehatan di Indonesia berawal dari ketika dia merasakan demam dan batuk pada Januari 2004. Kemudian dia berobat ke salah satu rumah sakit swasta di Aceh, yang si pemilik rumah sakit tersebut tak lain adalah saudaranya. Bukannya kesembuhan yang diperoleh Ny Cut Raziati, malah suaranya menghilang setelah diberi obat oleh dokter.

Oleh karena dokter yang bersangkutan mengatakan kadar gula Ny Cut Raziati tinggi dan mengidap diabetes melitus (DM), maka ia disarankan berobat ke dokter spesialis penyakit dalam. Walaupun demikian, penyakitnya tak kunjung sembuh. Justru oleh dokter yang bersangkutan disarankan berobat ke dokter spesialis paru. Oleh dokter bersangkutan Ny Cut Raziati didiagnosis mengidap paru-paru basah. Ny Cut Raziati tak habis pikir, dia sudah bolak-balik ke beberapa dokter tetapi suaranya tidak muncul juga. Padahal uang sebanyak Rp 10.975.000 sudah melayang. Akhirnya atas saran anaknya yang bermukim di Singapura, dia disarankan berobat ke Penang, Malaysia. Pemeriksaan berjalan dengan cepat dan tidak ada kendala bahasa karena ada perawat yang menjadi peterjemah bahasa antara Ny Cut Raziati dengan dokter. Pemeriksaan berlangsung pada 09.00 dan hasilnya sudah ada pada jam 13.00 WIB.

Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada kanker. Oleh dokter dia diberi resep seharga 10 ringgit, dan menurut dokter suaranya akan muncul 3 bulan setelah pengobatan. Tetapi selama lima hari dirawat inap di rumah sakit itu suaranya sudah muncul dan jika berbicara dia tidak merasakan sakit. Biaya yang dikeluarkan, kata Ny Cut Raziati, tidak sampai Rp 9 juta. Padahal dia membawa uang Rp 30 juta sebagai persiapan. Kekecewaan terhadap salah diagnosis dokter juga dialami warga Medan Sumatera Utara Ny Sakdian. Oleh dokter di Medan dia didiagnosis penyakit jantung, tetapi setelah berobat ke Island Hospital di Penang Malaysia, ternyata gejala sesak yang dialaminya sejak 1994 karena ada batu di usus dan di empedu. Akhirnya dokter melakukan operasi dan mengangkat sebanyak 42 butir batu. Untuk seluruh tindakan medis itu Ny Sakdian menghabiskan uang Rp 18 juta.

"Petugas rumah sakit di Penang ramah. Saya berbicara selama satu jam dengan dokter, kalau di Medan saya segan lama bicara dengan dokter karena pasiennya sudah antre di ruangan dokter. Ketika dokter di Medan mendiagnosis penyakit saya penyakit jantung, saya sangat stres. Sewaktu diperiksa di Penang pun saya sangat takut, tetapi dari hasil pemeriksaan saya tidak penyakit jantung, ginjal pun bagus," ujar Sakdian.

Kekecewaan terhadap kinerja dokter pun dialami Mark Sungkar. Dia merasa telah terjadi malapraktik terhadap anak sulungnya yang telah meninggal. Mark menuturkan, ketika usia kandungan istrinya menginjak delapan bulan, bayi di dalam kandungannya bergerak cukup aktif. Agar bayi tersebut tenang maka istrinya pun berobat ke rumah sakit terkenal di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Di rumah sakit itu, istrinya diinfus tanpa melalui pemeriksaan ultrasonografi. Dalam tempo dua jam bayi tersebut memang menjadi tenang. Setelah tenang, maka istrinya kembali ke rumah. Karena curiga bayi tersebut cukup lama tenang, maka dia pun mencoba merasakan gerakan bayi di dalam kandungan istrinya. Tetapi dia tidak merasakan gerakan, sampai akhirnya dia membawa kembali istrinya ke rumah sakit dan ternyata bayi di dalam kandungan istrinya telah meninggal.

"Selama tiga hari istri saya membawa mayat karena bayi tidak bisa dikeluarkan dengan segera. Hari ketiga istri saya mulas dan anak tersebut bisa dikeluarkan. Saya minta dilakukan otopsi agar tahu penyebab kematian. Ternyata air ketuban sudah tidak cukup untuk bayi hidup sampai sembilan bulan," kata Mark.

Ke Luar Negeri
Kekecewaan terhadap dokter dan tenaga paramedis membuat mereka yang mampu berobat ke luar negeri. Kepercayaan yang ditanamkan pasien terhadap dokter secara perlahan memulai terkikis. Padahal kepercayaan merupakan unsur utama dalam hubungan dokter dengan pasien. Bila pasien sudah tidak percaya, maka pasien akan mencari dokter lain dan bagi yang mampu memilih berobat ke luar negeri. Selain biaya yang lebih murah, mereka pun lebih percaya pada dokter asing. Sungguh merupakan pukulan telak bagi dunia kedokteran dan perumahsakitan di tanah air.

Zaman sudah berubah. Masyarakat semakin kritis dan berani menyuarakan pendapatnya. Terbukti saat ini semakin banyak tuntutan kepada dokter dan pihak rumah sakit atas dugaan malapraktik. Berbagai isu tentang malapraktik muncul di media massa. Apakah sudah sedemikian buruk dunia medis di Indonesia? Apakah masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan dokter Indonesia? Kalau memang iya, bagaimana nasib orang yang tidak mampu, yang tidak bisa dengan seenaknya memilih dokter karena tidak ada pembatasan tarif dokter dan rumah sakit swasta? Apalagi pembiayaan kesehatan di negeri ini 80 persen berasal dari kantong sendiri (tidak dijamin asuransi kesehatan).

Tidak mengherankan bila orang mampu "menyerbu" rumah sakit di luar negeri, terutama ke Singapura, dan sekarang negara yang dilirik orang Indonesia adalah Malaysia, tepatnya Penang. Hal ini dibenarkan Direktur Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan Sumatera Utara dr H Sjahrial R Anas MHA. Menurut dia, setiap bulan rata-rata 1.000 orang warga Medan berobat ke Penang. Jarak yang dekat dan mudahnya transportasi membuat warga Sumatera Utara cenderung berobat ke Penang.

Berdasarkan informasi dari Konsulat Jenderal Indonesia di Penang, rumah sakit yang banyak dikunjungi orang Indonesia adalah Rumah Sakit Lam Wah Ee dan Rumah Sakit Adventist. Pada tahun 2003 jumlah orang Indonesia yang berobat ke Lam Wah Ee sekitar 12.000 orang (sekitar 32 pasien/hari). Pada periode Januari sampai Juni 2004, jumlah pasien Indonesia sekitar 9.000 orang (sekitar 50 pasien/hari). Di Rumah Sakit Adventist, selama tahun 2003 ada sekitar 14.000 orang pasien asal Indonesia (sekitar 38 pasien/hari). Kemudian, pada Januari sampai Juni 2004 jumlah ini meningkat menjadi sekitar 10.000 orang (sekitar 55 pasien/hari).

Lalu, bagaimana dengan Singapura? Dalam suatu acara yang diselenggarakan Badan Koordinasi Kerja Sama Nasional Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Bakornas Hompedin) dengan para ahli onkologi medik Singapura bulan Juli lalu di Jakarta, terungkap bahwa pada tahun 2003 sebanyak 75.000 orang Indonesia berobat ke Singapura. Dari jumlah itu, sekitar 7.500 berobat karena mengidap penyakit kanker. Ketika itu, Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM mengatakan, saat ini Indonesia sudah memiliki 52 ahli onkologi medik di Indonesia, namun jumlah tersebut masih kurang. Walau sudah ada sarana, tetap ada pasien Indonesia yang berobat ke Singapura dan itu merupakan hak pasien

"Tidak ada kanker apa pun yang tidak bisa diobati di Indonesia, tetapi berobat ke Singapura adalah hak pasien. Kalau pasien mampu bisa dirujuk ke Singapura, namun bagi yang tidak mampu secara ekonomi tidak berarti tidak memperoleh pengobatan yang baik. Ada program untuk keluarga miskin, tersedia obat generik dan rumah sakit," tandas Zubairi ketika itu kepada wartawan. (N-4)

Sumber: Suara Pembaruan
 

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia