Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

23 Maret 2005

Obat Asli Indonesia Kurang Didukung Penelitian Ilmiah

Buah merah - Buah merah yang tumbuh di Provinsi Papua dikabarkan bisa menyembuhkan bebagai penyakit. Namun sampai saat ini belum ada bukti ilmiah khasiat buah merah.

Obat asli Indonesia kurang didukung oleh penelitian sebagai bukti ilmiah atas khasiat suatu produk. Akibatnya pemanfaatan obat asli Indonesia di sarana pelayanan kesehatan masih sangat sedikit atau baru pada tahap awal.

Menteri kesehatan Siti Fadilah Supari mengutarakan hal tersebut dalam peluncuran produk fitofarmaka dan obat herbal terstandar, Selasa (22/3) di Jakarta. Menurut dia, penelitian terhadap obat asli terbentur kendala berupa waktu penelitian yang lama, biaya yang besar, serta prosedur untuk mendapatkan ethical clearance uji klinik yang cukup ketat.

Obat bahan alam dibagi menjadi tiga kelompok, terdiri dari jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Fitofarmaka adalah obat tradisional yang terbukti aman, bermanfaat, dan bermutu.
Seperti diketahui para menteri dari kawasan ASEAN, ditambah menteri kesehatan dari Cina, Jepang, dan Korea pada tahun lalu menandatangani kesepakatan mengintegrasikan pengobatan tradisional ke dalam Sistem Kesehatan Nasional di negara masing-masing sepanjang memenuhi syarat keamanan, manfaat, mutu, serta dipergunakan secara rasional.

"Peningkatan mutu bahan baku atau simplisia sangat erat kaitannya dengan keberhasilan pengembangan agroindustri tanaman obat yang saat ini belum berkembang," kata Siti Fadilah.
Secara terpisah, ahli hematologi dan onkologi medik dari FKUI-RSCM dr Abdulmuthalib SpPD KHOM dan Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM menegaskan, suatu tanaman obat yang diklaim bisa menyembuhkan suatu penyakit harus melalui beberapa tahap. Misalnya, diketahui kandungan bahan aktif pada tanaman itu, serta melalui uji praklinik pada hewan dan tabung reaksi. Kemudian dilanjutkan dengan uji klinik pada manusia dengan empat tahap uji klinik. Bahkan setelah obat itu dipasarkan, masih harus dilakukan pemantauan untuk mengetahui efek samping yang muncul beberapa tahun kemudian.

Oleh karena itu, kata Zubairi, ada obat yang sudah beredar di pasar tetapi karena di kemudian hari menimbulkan efek samping, obat tersebut ditarik dari peredaran.

Buah Merah

Zubairi dan Abdulmuthalib menyayangkan sejumlah pasien kanker dan pengidap HIV/AIDS yang mengganti obat kanker dan obat antiretroviral (ARV) ke buah merah (Pandanus cornoindius). Pasalnya, buah tersebut disebut-sebut bisa menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk kanker dan HIV/ AIDS.
Padahal, kata Zubairi, belum ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa buah merah bisa menyembuhkan dan mencegah berbagai penyakit.

Dampak dari informasi yang tidak didukung penelitian ilmiah itu membuat sejumlah pengidap kanker dan HIV/AIDS beralih ke buah merah. Khusus untuk pengidap HIV/AIDS, kata Zubairi, mereka mendapatkan obat ARV dengan gratis.

Khasiatnya sudah terbukti secara ilmiah dan efek sampingnya juga diketahui, sehingga bisa dilakukan pencegahan. Demikian pula dengan obat kanker yang telah melalui uji praklinik dan uji klinik. Akibat menghentikan pemakaian ARV, sejumlah pengidap HIV/AIDS akhirnya meninggal dunia karena jumlah virus di dalam tubuhnya bertambah dan terjadi resistensi obat.

"Buah merah itu amat prematur untuk diklaim bisa mengobati penyakit. Sangat disayangkan pasien AIDS yang obatnya gratis, kemudian mengganti dengan buah merah dan ada yang meninggal. Pasien tidak mengaku kepada dokter, tetapi menyampaikannya ke pendamping odha. Banyak juga yang mengkombinasi obat dengan buah merah.Yang kombinasi tetap saja hasilnya bagus karena ARV," ujar Zubairi.

Terapi lain yang dinilai tidak berdasarkan bukti ilmiah adalah terapi dengan urine dan susu kuda liar. Menurut Abdulmuthalib sejumlah media massa cukup gencar menginformasikan manfaat susu kuda liar untuk mengatasi penyakit thalasemia.

Padahal sampai sekarang belum ada bukti ilmiah yang mendukung. Akibatnya masyarakat menjadi terkecoh dengan informasi itu. Zubairi menambahkan sebaiknya informasi pengobatan yang belum didukung bukti ilmiah harus disertai dengan keterangan dari pihak medis agar informasi yang diterima masyarakat seimbang. Ini untuk menghindari informasi yang kurang tepat pada masyarakat. (N-4)

Sumber: Suara Pembaruan

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia