Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
22.09.2002
Aplikasi Lanjut Kamera Inframerah
Thermography untuk Kanker Payudara..!
Salah satu penyakit yang ditakuti orang saat
ini adalah kanker payudara. Selain terjadi
pada kaum wanita, kanker payudara juga bisa
terjadi pada kaum pria meskipun
kemungkinannya masih relatif kecil. Kanker
payudara bisa terjangkit pada umur muda.
Kanker payudara merupakan tumor ganas yang
tumbuh pada payudara dan cenderung merambat
ke bagian lain. Tercatat bahwa satu dari
delapan wanita terkena kanker payudara.
Mammography
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan
wanita untuk mencegah kanker payudara.
Misalkan dengan Sadari atau Periksa Payudara
Sendiri. Sadari sangat dianjurkan untuk
dilakukan tiap bulan yaitu saat minggu
menstruasi bagi wanita yang berusia 20 tahun
ke atas. Untuk wanita berusia 20 sampai 39
tahun dianjurkan pula untuk memeriksakan ke
dokter tiap tiga tahun. Sedangkan untuk
wanita berusia 40 tahun ke atas, pemeriksaan
ke dokter dilakukan tiap tahun.
Saat ini ada dua teknik yang digunakan oleh
dokter untuk memeriksa keberadaan kanker
pada payudara. Yang pertama adalah metode
ultrasonik. Dengan metode ini dapat
diketahui apakah sebuah gumpalan berupa
benda pejal atau cairan. Metode kedua yang
saat ini diakui paling jitu adalah dengan
mammography. American Cancer Society
menganjurkan wanita berusia 40 tahun ke atas
melakukan deteksi dini menggunakan metode
ini tiap tahun.
Mammography menggunakan sinar X yang
diradiasikan pada payudara. Hasil radiasi
sinar X adalah film yang dapat menunjukkan
daerah-daerah yang dicurigai sebagai tumor.
Umumnya, tumor memiliki densitas atau rapat
massa yang lebih besar dari jaringan otot
normal, sehingga intensitas sinar X setelah
menembus tumor lebih kecil dari intensitas
sinar X setelah menembus jaringan otot
normal.
Perbedaan ini yang menghasilkan film yang
dapat menunjukkan adanya tumor.
Semakin sering melakukan metode ini
menjadikan kondisi payudara dapat terpantau.
Namun, seperti yang diungkapkan sebelumnya,
radiasi sinar X yang sering dapat
menyebabkan mutasi atau kerusakan sel
sehingga justru meningkatkan risiko terkena
kanker. Ini yang menjadi dilema.
Breast Thermography
Metode deteksi kelainan payudara
menggunakan teknik thermography dikenal
dengan nama Breast Thermography. Alat yang
digunakan adalah kamera inframerah dengan
sensitivitas suhu yang kecil (sekitar 0,01o
C) dengan jangkauan pengukuran suhu yang
sempit (sekitar 0-70o C).
Perbedaan utama thermography dengan
mammography terletak pada proses mendapatkan
data. Pada thermography, kamera inframerah
hanya menerima inframerah yang diradiasikan
oleh payudara untuk mengukur suhunya. Jadi
sifat thermography adalah non-invasive
sehingga tidak ada bahaya radiasi sama
sekali. Ini yang menjadikan thermography
sangat menarik.
Prinsip kerja thermography adalah dengan
memanfaatkan perbedaan suhu tumor dengan
jaringan otot normal. Meskipun tumor
terletak di dalam tubuh, kamera inframerah
dapat melihat konduksi panasnya pada
permukaan tubuh, sehingga permukaan tubuh
yang bagian dalamnya yang mengidap tumor
akan terukur lebih panas. Semakin besar
tumornya maka semakin tinggi suhunya.
Dengan membandingkan pola suhu yang terukur
antara payudara kanan dan kiri maka
identifikasi dapat dengan mudah dilakukan.
Tentunya, dokter yang bersangkutan juga
memiliki data suhu dan pola suhu payudara
yang sehat.
Mammography vs thermography
Berdasarkan data, tumor akan berkembang
lebih cepat pada usia muda, sehingga
pemantauan kanker payudara di usia muda
perlu dilakukan supaya tidak telanjur.
Sayangnya, mammography kurang efektif untuk
mendeteksi kanker stadium awal (yang umumnya
terjadi pada wanita berusia muda) karena
jaringan tumornya masih kurang rapat
sehingga tidak jauh berbeda dengan jaringan
tubuh yang normal. Akan tetapi, terdapat
perbedaan dalam hal suhu, sehingga
thermography cocok diterapkan untuk deteksi
dini kanker pada usia muda. Karena sifatnya
yang tidak meradiasi tubuh, thermography
sangat aman walaupun dilakukan berkali-kali.
Semakin sering dilakukan maka semakin banyak
data yang diperoleh sehingga kecenderungan
peningkatan suhu dapat segera diketahui.
Dengan thermography, proses pemeriksaan
dilakukan dalam waktu kurang lebih 15 menit
tanpa adanya sentuhan atau tekanan pada
payudara pasien. Pemindaian (scanning)
dilakukan pada tiga sudut pengambilan yaitu
depan, samping kanan, dan samping kiri,
sehingga proses pemeriksaan sangat nyaman
bagi pasien baik secara fisik maupun
psikologi. Biasanya, dokter yang
bersangkutan mempunyai file thermogram
masing-masing pasiennya. Dokter tersebut
akan memantau adanya perbedaan pola suhu
antara payudara kanan dan kiri atau
kecenderungan kenaikan suhu bagian tertentu
pada payudara.
Kesimpulan
Apakah thermography lebih unggul dari
mammography? Atau dengan kata lain apakah
thermography adalah pengganti mammography?
Jawabannya adalah tidak. Keduanya merupakan
teknik pemantauan yang saling melengkapi.
Karena tidak disarankan untuk terlalu sering
melakukan pemeriksaan dengan mammography
mengingat efek radiasi yang justru dapat
meningkatkan risiko, thermography menjadi
pilihan terbaik. Di samping itu, Breast
Thermography sebaiknya dilakukan pada wanita
usia muda sesering mungkin untuk mendeteksi
kanker secara dini. Dan saat gejala kanker
itu semakin kuat, mammography dibutuhkan
untuk menemukan letak tumor tersebut secara
jitu.
Breast Thermography memang masih tergolong
teknik yang baru sehingga belum banyak
digunakan di negara-negara termasuk
Indonesia sehingga perlu untuk dipelajari
lebih lanjut dan diterapkan untuk
meningkatkan kualitas hidup secara jasmani.
(Diambil dari berbagai sumber).
Deddy Kurniajaya Alumnus Jurusan Teknik
Elektro Universitas Diponegoro, Semarang
Sumber: Kompas
Archive