Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
22.02.2003
Deteksi Dini Kanker Payudara
BERDASARKAN data, kanker payudara
merupakan keganasan terbanyak kedua pada
wanita setelah kanker mulut rahim. Di
Indonesia, kekerapan (prevalensi) kanker
payudara meningkat, jumlahnya mencapai 11,6%
dari seluruh keganasan. Kekerapan ini
cenderung meningkat disebabkan perubahan
pola hidup di antaranya perubahan pola
makanan dengan mengkonsumsi lemak tinggi dan
peningkatan kesadaran masyarakat tentang
kesehatan serta kemajuan teknologi
kedokteran di bidang diagnosis dini.
**
SEBAGAIMANA diketahui, tubuh kita terdiri
dari sel-sel yang selalu tumbuh.
Kadang-kadang pertumbuhan tersebut tidak
terkontrol dan membentuk suatu gumpalan.
Kebanyakan gumpalan tersebut tidak
berbahaya. Akan tetapi, bila gumpalan yang
tidak normal terus bertumbuh dan menjadi
ganas maka hal inilah yang disebut tumor
ganas. Tumor yang ganas inilah yang disebut
dengan kanker.
Tumor ganas memiliki sifat yang khas, yaitu
dapat menyebar luas ke bagian lain di
seluruh tubuh untuk berkembang menjadi tumor
yang baru. Penyebaran ini disebut metastase.
Kanker memiliki karakteristik yang
berbeda-beda. Ada yang tumbuh secara cepat,
ada yang tumbuh tidak terlalu cepat, seperti
kanker payudara. Khusus untuk kasus kanker
payudara, sel kanker yang pertama dapat
tumbuh menjadi tumor sebesar 1 cm pada waktu
8-12 tahun. Sel kanker tersebut diam pada
kelenjar payudara.
Sel-sel kanker payudara ini dapat menyebar
melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Sel
kanker payudara dapat bersembunyi di dalam
tubuh kita selama bertahun-tahun tanpa kita
ketahui dan tiba-tiba aktif menjadi tumor
ganas atau kanker. Adapun tanda-tanda kanker
payudara dini yakni benjolan tunggal,
konsistensi keras dan padat, batas tegas,
ukuran kurang 5 cm, bebas dari dasar dan
permukaan kulit, serta tidak ada metastasis.
Sedangkan kelompok risiko tinggi terkena
kanker payudara adalah:
- Wanita di atas usia 30 tahun.
- Pernah memiliki riwayat kanker payudara.
- Wanita usia di atas 25 tahun yang
keluarganya (ibu, saudara perempuan ibu,
saudara perempuan satu ibu) pernah menderita
kanker payudara.
- Wanita yang tidak menikah atau yang
menikah tetapi tidak pernah melahirkan anak.
- Perempuan yang melahirkan anak pertama
setelah berusia 35 tahun.
- Wanita yang tidak menyusui.
- Pernah mengalami trauma berkali-kali pada
payudara.
- Menarche (haid pertama kali) pada usia
yang sangat muda.
- Mengalami radiasi sebelumnya pada payudara
(pengobatan keloid).
- Wanita yang obesitas.
- Pernah dioperasi payudara atau alat
reproduksinya.
- Pernah mendapat obat hormonal yang lama
karena mandul.
- Mengalami berbagai macam guncangan jiwa
yang hebat dalam kehidupannya.
Pencegahan dan pengobatan
Prof. Marc Van Eijkeren, pakar onkologi
dari University Hospital Belgia yang
baru-baru ini datang ke Bandung mengatakan,
satu dari sem¬bilan wanita di dunia adalah
pengidap kanker. Oleh karena itu, penting
bagi setiap wanita melakukan deteksi secara
dini terhadap kanker payudara.
Caranya sangat simpel, yaitu dengan
melakukan pemeriksaan payudara sendiri
("sadari") sejak usia 20 tahun. "Sadari"
sangat dianjurkan dilakukan tiap bulan,
yaitu saat minggu menstruasi bagi wanita
yang berusia 20 tahun ke atas.
Untuk wanita berusia 20 sampai 39 tahun,
dianjurkan pula memeriksakan ke dokter tiap
3 tahun. Sedang¬kan untuk wanita berusia 40
tahun ke atas, pemeriksaan ke dokter
dilakukan tiap tahun. Selain itu, perlu juga
dilakukan mamografi 1-2 kali pada usia 40-49
tahun, momografi setiap tahun setelah
berusia 50 tahun.
Sementara itu, ada dua cara yang digunakan
oleh dokter untuk memeriksa keberadaan
kanker pada payudara. Pertama adalah metode
ultrasonik. Dengan metode ini dapat
diketahui apakah sebuah gumpalan berupa
benda pejal atau cairan.
Metode kedua yang paling akurat adalah
mamografi. Mamografi atau mammography
menggunakan sinar X yang diradiasikan pada
payudara. Hasil radiasi sinar X adalah film
yang dapat menunjukkan daerah-daerah yang
dicurigai sebagai tumor. Umumnya, tumor
memiliki densitas atau rapat massa yang
lebih besar dari jaringan otot normal
sehingga intensitas sinar X setelah menembus
tumor lebih kecil dari intensitas sinar X
setelah menembus jaringan otot normal.
Perbedaan ini yang menghasilkan film yang
dapat menunjukkan adanya tumor.
Sedangkan metode deteksi lainnya adalah
breast thermography yang dilakukan dengan
menggunakan kamera infra merah dengan
sensitivitas suhu yang kecil (sekira 0,01
derajat celcius) dengan jangkauan pengukuran
suhu yang sempit (sekira 0-70 derajat
celcius).
Adapun perbedaan utama thermography dengan
mammography terletak pada proses mendapatkan
data. Pada thermography, kamera infra merah
hanya menerima infra merah yang diradiasikan
oleh payudara untuk mengukur suhunya. Jadi,
sifat thermography adalah noninvasive
sehingga tidak ada bahaya radiasi sama
sekali.
Cara lainnya adalah dengan operasi kecil
untuk mengambil contoh jaringan (biopsi)
dari benjolan itu, kemudian diperiksa di
bawah mikroskop laboratorium patologi
anatomi. Bila diketahui dan dipastikan bahwa
benjolan itu adalah kanker, payudara harus
diangkat seluruhnya untuk menghindari
penyebaran ke bagian tubuh yang lain.
Metode yang sering dipakai dalam menangani
kanker adalah mastektomi yang kerap kali
memberikan efek kosmetik merugikan bagi para
pengidapnya. Pasalnya, pengobatan cara ini
sangat radikal karena dengan mastektomi ini,
jaringan payudara harus diangkat.
Meski mastektomi dianggap sebagai terapi
yang terbaik untuk kanker payudara,
kehilangan payudara memberi dampak yang
kurang baik terhadap kosmetik, psikologik,
dan seksual penderita. Untungnya, saat ini
para peneliti telah mengembangkan cara
pengobatan yang dikenal sebagai breast
conserving treatment (BCT).
Dengan menjalani terapi BCT, perempuan
pengidap kanker tidak akan khawatir
kehilangan payudaranya. BCT adalah suatu
pengobatan keganasan payudara stadium dini
(stadium I dan II) yang terdiri dari bedah
konversi berupa lumpektomi, segment atau
kwadranektomi diikuti radiasi dengan atau
tanpa kemotrapi agar mengeradikasi tumor
dengan mempertahankan efek kosmetik
payudara.
Sejumlah penelitian secara random dan
nonrandom menunjukkan bahwa pengobatan BCT
memiliki angka kontrol lokal dan angka
ketahanan hidup yang sebanding dengan
mastektomi yang selama ini kerap dijadikan
pilihan utama untuk mengeradikasi kanker
namun menyisakan efek kosmetik dan
psikologis yang merugikan penderita.
Perkembangan kanker
Pada stadium I, besarnya tumor tidak
lebih dari 2 - 2,25 cm dan tidak terdapat
penyebaran (metastase) pada kelenjar getah
bening ketiak. Pada stadium ini, kemungkinan
penyembuhan secara sempurna adalah 70%.
Untuk memeriksa ada atau tidak metastase ke
bagian tubuh yang lain, harus diperiksa di
laboratorium.
Pada stadium II, tumor sudah lebih besar
dari 2,25 cm dan sudah terjadi metastase
pada kelenjar getah bening di ketiak. Pada
stadium ini, kemungkinan untuk sembuh hanya
30-40% tergantung dari luasnya penyebaran
sel kanker.
Pada stadium III, tumor sudah cukup besar,
sel kanker telah menyebar ke seluruh tubuh,
dan kemungkinan untuk sembuh tinggal
sedikit. Pengobatan payudara sudah tidak ada
artinya lagi. Biasanya pengobatan hanya
berupa penyinaran dan
chemotherapie/kemoterapi (pemberian obat
yang dapat membunuh sel kanker).
Kadang-kadang juga dilakukan operasi untuk
mengangkat bagian payudara yang sudah parah.
Usaha ini hanya untuk menghambat proses
perkembangan sel kanker dalam tubuh serta
meringankan penderita semaksimal mungkin.
Namun demikian, untuk pengobatan yang
optimal, terapi kanker harus melibatkan tiga
hal penting, yaitu operasi, radiasi, dan
kemoterapi. Cara pengobatan ini diberikan
sesuai dengan stadium penyakitnya.
Lebih baik mencegah
Karena pengobatan kanker payudara sangat
rumit dan butuh biaya be¬sar, sudah
sebaiknya kita lebih meng¬utamakan upaya
preventif daripada kuratif. Sekarang, para
peneliti sudah banyak mengetahui cara untuk
mencegahnya, paling tidak mengurangi resiko
terkena kanker payudara.
Upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan
"sadari" dan pemeriksaan berkala kepada
dokter yang ahli. Selain itu, kita juga
penting untuk selalu hidup sehat, antara
lain dengan berolah raga secara teratur.
Penelitian menunjukkan, sejalan dengan
meningkatnya aktivitas, risiko kanker
payudara akan berkurang.
Berolah raga akan menurunkan kadar estrogen
yang diproduksi tubuh sehingga mengurangi
risiko kanker payudara. Selanjutnya hindari
makanan berlemak tinggi, banyak makan
buah-buahan dan sayuran atau makanan
berserat lainnya, makan lebih banyak tahu
dan makanan yang mengandung kedelai, hindari
alkohol, serta perhatikan berat badan karena
kenaikan berat badan setiap pon setelah usia
18 tahun akan menambah risiko kanker
payudara. Hal ini sejalan sejalan dengan
bertambahnya lemak tubuh, kadar estrogen
sebagai hormon pemicu kanker payudara dalam
darah pun akan meningkat.
Di samping itu, hindari xeno-estrogens
(estrogen yang berasal dari luar tubuh).
Umumnya, estrogen dari luar tubuh dikonsumsi
lewat residu hormon estrogenik yang terdapat
dalam daging dan residu pesitisida
estrogenik. Diduga, xeno-estrogen bisa
meningkatkan kadar estrogen darah sehingga
menambah risiko kanker payudara, jangan
merokok, menyusui/memberikan ASI, dan
terakhir hindari stres. Literatur medis
menyebutkan bahwa stres dapat menigkatkan
risiko kanker payudara.
Dengan demikian, kaum hawa harus terdorong
untuk mengetahui bahwa kanker payudara tidak
perlu menjadi kanker yang mematikan jika
wanita memelihara kesehatan payudara dan
melakukan pendeteksian sejak dini.
(Icha)***
Sumber: Pikiran Rakyat
Archive