Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
22.02.2003
Dukungan dan Empati Bagi Penderita Kanker
Payudara
KANKER, termasuk kanker payudara, memang
masih menjadi penyakit yang menakutkan.
Bagaimana tidak, kanker merupakan penyakit
pembunuh dan selnya tumbuh cepat tanpa
tujuan tertentu merusak organ terkait serta
membuat anak sebar di organ lain. Meskipun
begitu, kanker bisa disembuhkan jika
penderita mendapatkan pengobatan sejak dini
dan tepat.
Demikian juga dengan kanker payudara, ia
dapat disembuhkan bila pengobatan dilakukan
sejak dini. "Meskipun sebagian besar atau
sekira 80 persen benjolan pada payudara
bukan kanker, sebaiknya wanita yang
menemukan benjolan di payudaranya segera
menghubungi dokter untuk memastikan sejauh
mana bahaya benjolan tersebut," ungkap Dr.
Drajat R. Suardi, Sp.O.B., spesialis bedah
onkologi RSHS/FK Unpad dalam acara
"Pelatihan Reach to Recovery" yang
diselenggarakan Yayasan Kanker Indonesia
Cabang Kota Bandung, Rabu (29/1).
Perlu diketahui, gejala kanker payudara
antara lain ditandai adanya benjolan di
payudara, keluar cairan dari puting, serta
luka yang tidak sembuh-sembuh.
**
SESEORANG seringkali merasa enggan
memeriksakan secara dini keadaan
payudaranya, atau bahkan setelah ia
menemukan ada benjolan pada payudaranya.
Mengutip pendapat Dr. Mitchell A. Gold dari
Prancis Delefield Hospitas, psikolog Dra.
Selly Mahliyani, S.Psi. mengatakan, rasa
takut merupakan salah satu faktor seorang
perempuan tidak ingin memeriksakan dirinya.
Rasa takut ini bisa karena takut terhadap
penyakit yang dideritanya, takut dioperasi
hingga ketakutan berlebihan yang berkaitan
dengan hubungan dengan suami dan
keluarganya.
Selain itu, pada diri penderita bisa juga
tumbuh rasa rendah diri dan malu. Bahkan,
yang bersangkutan memang tidak pernah
meneliti atau mendeteksi secara dini
payudaranya sehingga kanker itu baru
diketahui setelah stadium lanjut. Namun, ia
mengingatkan, jika dalam keluarga ada
penderita kanker, sebaiknya para anggota
keluarga yang lain memberikan dukungan untuk
membesarkan hatinya.
"Pada dasarnya, perasaan yang pertama timbul
pada diri seseorang yang didiagnosis sebagai
pengidap kanker adalah rasa shock, takut,
cemas, stres yang berkembang menjadi berat,
bahkan depresi seolah-olah yang bersangkutan
telah menerima hukuman mati," ungkapnya.
Seseorang segera akan mengetahui dengan
pasti bahwa dirinya menderita kanker
walaupun dalam stadium yang sangat diri.
Dapat dipastikan dirinya akan mengalami
stres berkepanjangan yang berakibat pada
gangguan-gangguan emosional dan fisik yang
melelahkan. "Dukungan moril dan empati dari
anggota keluarganya, terutama yang
berhubungan dekat secara emosional seperti
suami, istri, anak, ibu, dan bapak akan
sangat dibutuhkannya. Demikian juga dengan
sahabat-sahabat dekatnya meskipun hubungan
emosionalnya tidak terlalu dekat. "Dukungan
dan perhatian yang diperoleh penderita akan
membantu meringankan penderitaannya."
Dukungan moril dan empati, lanjut Selly,
yang bersumber dari luar keluarganya seperti
dokter, perawat, teman sejawat dekatnya,
juga anggota support group seperti Reach to
Recovery Indonesia juga dapat membantu
mengurangi beban emosionalnya. Bentuk empati
itu bisa dinyatakan dengan menempatkan diri
sebagai pendengar yang baik bagi penderita
dan menjadi teman berbicara bagi penderita.
Dengan adanya dukungan-dukungan itu,
penderita diharapkan berangsur-angsur dapat
menerima penderitaannya sebagai kenyataan
hidup yang tidak dapat dipungkiri dan
merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Ia memberikan catatan, membanding-bandingkan
seorang penderita kanker dengan penderita
lainnya tidak akan memberikan hasil apa-apa
karena masing-masing penderita mengalami
permasalahan yang sangat bersifat pribadi.
**
MASALAH gizi makanan diduga kuat sangat
berkaitan dengan kanker, juga kanker
payudara. Hal ini dikemukakan Dr. dr. Gilang
Nurdjannah Rosadi, dipl.Nutr., dari bagaian
Ilmu Gizi Medik FK Unpad pada kesempatan
yang sama.
"Penyebab kanker payudara hingga saat ini
memang belum diketahui pasti. Bagaimanapun
diduga faktor utama adalah faktor hormonal
estrogen atau ketidakseimbangan hormon
estrogen-progesteron," ungkapnya.
Karena etiologi kanker payudara bersifat
multifaktorial, upaya pencegahan secara
mutlak tidak mungkin dilaksanakan. "Dari
faktor predisposisi yang lain dan faktor
risiko dapat diusahakan pengarahan
pengaturan siklus hormonal, juga menghindari
atau memperbaiki komposisi menu, misalnya
menjadi rendah lemak, lemak nabati, konsumsi
sayur dan buah-buahan sebagai sumber
antioksidan.
Berdasarkan penelitian Rogers & Longneckers
(1988) pada imigran yang berasal dari Asia
dan Afrika, disimpulkan faktor nutrisi dan
lingkungan hidup memegang peranan penting
terhadap terbentuknya kanker. "Dengan
memakan makanan yang bergizi tinggi dan
berlemak tinggi yang berasal dari hewani
akan mengakibatkan pertumbuhan berat badan
dan tinggi badan pada wanita remaja. Dengan
begitu, kadar estrogen akan meningkat akibat
kolesterol tinggi. Ini akan mengakibatkan
menarche (haid pertama kali-red.) akan
terjadi pada usia lebih muda. Hal ini
merupakan salah satu predisposisi untuk
timbulnya kanker," kata Gilang.
Di Jepang, katanya, pernah ditemukan pada
mereka yang memakan daging tiap hari,
ternyata terlihat angka kenaikan kanker
payudara lebih tinggi ketimbang mereka pada
mereka yang tidak memakan daging tiap hari.
Meskipun penyebab-penyebab ini belum dapat
dipastikan secara mutlak sebagai penyebab
kanker, ada baiknya kita berhati-hati dalam
hal mengonsumsi makanan sehari-hari.
Pemberian makanan pada penderita kanker
harus disesuaikan dengan kondisi penderita
secara keseluruhan. Misalnya, makanan
diberikan dalam porsi kecil namun sering,
makanan harus mudah dikunyah dan ditelan
(lunak), makanan yang sifatnya merangsang
seperti asam, pedas, asin, banyak mengandung
gas sebaiknya dihindari, juga makanan yang
berlemak atau berasal dari laut. "Ikan,
ayam, dan telur lebih baik diberikan
ketimbang daging. Jangan lupa untuk
memberikan cairan yang memadai," paparnya.
Ia juga menyarankan agar memperbanyak
konsumsi sayur dan buah-buahan.
Upaya pencegahan sangat bermanfaat bagi
individu yang sehat. "Kembalilah pada
makanan kita yang tradisional. Konsumsi
makanan yang mengandung serat," ujarnya.
EYP/"PR
Sumber: Pikiran Rakyat
Archive