Language

NEWS & EVENTS

Pertama Setelah 20 Tahun; Terobosan Pengobatan Kanker Kelenjar Getah Bening dengan Rituximab Tingkatkan Harapan Hidup

Antibodi Pertama Untuk Melawan Kanker Kelenjar Getah Bening


Jakarta, 5 Maret 2004. Data terkini dari kelompok periset limfoma dunia (GELA atau Group d’Etude des Lymphomes de l’adulte – dikenal dengan studi GELA) yang telah dikeluarkan baru-baru ini menunjukkan bahwa para pasien kanker kelenjar getah bening (limfoma) yang diobati dengan Rituximab dan CHOP (kemoterapi konvensional untuk limfoma) ternyata dapat hidup lebih lama dibandingkan dengan yang mendapatkan kemoterapi CHOP saja.

Dalam studi ini pasien yang menerima kombinasi Rituximab dan CHOP ternyata 53%-nya tetap hidup setelah 3 tahun. Sementara itu, hanya 35% dari pasien yang diobati dengan CHOP saja yang tetap hidup setelah 3 tahun. Hal penting yang patut dicatat pula adalah bahwa penambahan Rituximab tidak menambah toksisitas (sifat meracuni) dan efek samping CHOP.

Data ini disampaikan oleh Prof Mark Hertzberg dari University of Sidney sebagai pembicara pada Simposium Nasional Kanker Tahunan Pertama, yang berlangsung sejak 4-6 Maret 2004 di Hotel Borobudur, Jakarta.

Setelah 20 Tahun
“Hasil ini menunjukkan suatu terobosan nyata pada pasien dengan NHL (Non Hodgkin’s Lymphoma – kanker kelenjar getah bening yang agresif). Kombinasi terapi ini adalah terapi pertama dalam 20 tahun yang memberikan perbaikan bermakna bagi pasien dengan angka harapan hidup jangka panjang,” demikian komentar Profesor Bertrand Coiffier, yang disitir oleh Prof Hertzberg di Jakarta hari ini. Profesor Bertrand adalah Kepala Departemen Hematologi, Hospices Civiles de Lyon, Perancis dan bertindak sebagai peneliti utama pada studi GELA.

“Hal ini menegaskan bahwa Rituximab plus CHOP menjadi standar emas baru untuk kanker kelenjar getah bening yang agresif. Rituximab + CHOP adalah pengobatan termutakhir yang terbukti meningkatkan angka harapan hidup dan kesembuhan tanpa peningkatan toksisitas. Mereka yang menderita limfoma non-Hodgkin tipe agresif disarankan agar diupayakan untuk mendapat kombinasi Rituximab + CHOP bila memungkinkan,” lanjut Prof. Hertzberg.

Rituximab; Antibodi Pertama Untuk Kanker Kelenjar Getah Bening
Rituximab adalah terapi antibodi pertama untuk NHL yang bekerja dengan metode ‘cari dan musnahkan’. Tidak seperti kemoterapi yang dapat merusak sel normal, Rituximab bekerja spesifik hanya pada sel tumor saja dan tidak mengganggu sel-sel induk normal.

“Rituximab merupakan antibodi monoklonal pertama di dunia yang telah terbukti efektif melawan kanker kelenjar getah bening dan kehadirannya merupakan revolusi dalam standar penatalaksanaan NHL,” dr. Jack Pradono Handojo, Manager Medis Divisi Onkologi PT. Roche Indonesia menjelaskan kepada media.

Pada kasus Limfoma Non-Hodgkin tipe Agresif, studi GELA telah membuktikan bahwa kombinasi R-CHOP ternyata lebih baik dibandingkan dengan CHOP saja (angka survival 53% Vs 35%). Hal ini menandakan peningkatan potensi kesembuhan secara bermakna.

Pada kasus Limfoma Non-Hodgkin tipe Indolen, studi yang dipresentasikan pada kongres ASH (American Society of hematology) baru-baru ini menunjukkan bahwa kombinasi Rituximab + CVP (Cyclophosphamide-Vincristine-Prednisolone) terbukti lebih efektif. Pasien NHL indolen terbukti bebas dari kekambuhan lebih lama (26 vs 7 bulan) yang secara statistik bermakna dibandingkan dengan hanya pemberian CVP saja. Juga dibuktikan meningkatnya angka respon lengkap empat kali lipat (41% vs 10%). Kedua hal ini – bebas kekambuhan lebih lama dan respon yang lebih baik – menjelaskan mengapa kombinasi Rituximab menjadi standar penatalaksanaan baru limfoma non Hodgkin dan berpotensi mengubah riwayat perjalanan penyakit. Hasil ini juga menunjukkan manfaat nyata pada kedua jenis pasien – baik indolen maupun agresif – sehingga merupakan terobosan besar di bidang penatalaksanaan limfoma non-Hodgkin.

Rituximab ditemukan oleh IDEC Pharmaceutical Corp dan dikembangkan bersama oleh IDEC, Genentech, Inc, Roche dan Zenyaku Kogyo Co. Ltd Jepang. Pada bulan Juli 1998, Genentech memberikan hak pemasaran ekslusif Rituximab di luar Amerika Serikat. Rituximab dipasarkan di AS, Kanada dan Jepang sebagai Rituxan dan di tempat lain dengan nama MabThera. Di Indonesia, Rituximab masih dalam tahap pengkajian oleh Badan POM namun telah dapat digunakan secara selektif untuk pasien yang membutuhkan di bawah pengawasan dokter melalui program Special Licence.

NHL Bisa Sembuh
NHL (Non-Hodgkin Lymphoma) adalah sejenis kanker yang menyerang sistem limfatik yang merupakan komponen penting sistem kekebalan tubuh dan memainkan peran kunci dalam pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker. Jacqueline Kennedy Onassis dan Raja Hussein dari Jordania adalah dua diantara sekian banyak korbannya. Sekitar satu setengah juta orang di dunia terkena NHL, dan 55%-nya ternyata menderita tipe NHL agresif yang ganas. Sisanya (45%) menderita tipe indolen yang kurang ganas dan pasien dapat tetap hidup relatif lama. Penyebab NHL sendiri masih belum pasti diketahui, namun NHL lebih sering terjadi dibandingkan leukemia (kanker darah) dan merupakan kanker yang tumbuh paling cepat ketiga setelah kanker paru-paru dan kanker kulit.

“NHL mempunyai dua keunikan di Indonesia; pertama, tidak seperti kanker umumnya, NHL berpotensi untuk dapat disembuhkan. Kedua, NHL menduduki urutan 6 kanker di Indonesia sehingga merupakan keganasan yang cukup sering terjadi.” Demikian penjelasan Prof. Dr. dr. Arry Haryanto SpPD, KHOM dalam jumpa pers sebelum presentasi Prof. Mark Hertzberg hari ini di Hotel Borobudur, Jakarta.

Roche dalam Onkologi
Roche merupakan perusahaan terdepan di bidang onkologi (kanker) di dunia. Dalam portfolio Roche terdapat Herceptin (kanker payudara), MabThera (limfoma), Xeloda (kanker payudara dan kanker kolon-rektum), Roferon-A (sarkoma Kaposi, Leukemia, Melanoma Malignum, Karsinoma Sel Renal) dan Kytril (penanganan mual/muntal akibat kemoterapi). Roche Oncology memiliki 4 pusat riset (dua di AS, satu di Jepang dan satu di Jerman) dan 4 pusat pengembangan produk Onkologi (dua di AS, satu di Inggris dan satu di Swiss). Roche memiliki portfolio lengkap penanda tumor pada keganasan prostat, kolon-rektum, ovarium, payudara, lambung, pankreas dan paru-paru. Dalam unit terintegrasinya, Roche mengembangkan pula tes diagnostik baru (onkologi molekuler) seperti LightCycler.

Tentang Roche
Roche berkantor pusat di Basel, Swiss dan merupakan kelompok perusahaan perawatan kesehatan kelas dunia. Bisnis intinya meliputi farmasi (obat) dan diagnostik. Roche menduduki peringkat teratas dalam pasar diagnostik global sekaligus pemasok utama obat-obatan kanker, antivirus dan transplantasi. Roche memiliki sekitar 62.000 karyawan di 150 negara dan memiliki kerja sama riset dan pengembangan maupun aliansi strategis dengan berbagai pihak termasuk kepemilikan mayoritas di Genentech dan Chugai.


Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Lucia Erniawati
Corporate Communication Executive
PT. Roche Indonesia
Tel: 514 000 81 ext. 504
Fax: 514 000 38
E-mail: lucia.erniawati@roche.com 

atau

Dr. Pradono Handojo
Medical Manager
PT. Roche Indonesia
Tel: 514 000 81 ext 312
Fax: 514 000 36
E-mail: pradono.handojo@roche.com


Archive


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia