Language

NEWS & EVENTS

20.08.2005

KEMO PEMBERANTAS KANKER KELENJAR GETAH BENING

ANDA pernah mendengar kanker kelenjar getah bening (KGB)? Mungkin terdengar aneh. Gejalanya pun sering diremehkan, sekadar benjolan di kelenjar itu. Orang sering menyebutnya klanjeren.
Sesuai namanya, penyakit ini menyerang kelenjar getah bening. "Di rumah sakit dr Soetomo Surabaya, hampir tiap hari ada 2-3 pasien baru," ungkap dr Made Putra Sedana SpPD-KHOM.

Gejala awal penyakit ganas ini adalah benjolan yang ada di daerah sekitar leher, ketiak, perut maupun selangkangan. Celakanya, terkadang si penderita baru menyadari dirinya mengidap kanker ketika sudah mencapai stadium lanjut.

Dokter yang juga konsultan penyakit darah dan kanker ini menjelaskan, ada empat stadium pada kanker kelenjar getah bening. Stadium satu, jika hanya didapati salah satu benjolan, misal pada leher sebelah kanan. "Stadium dua, bila dua benjolan pada dua tempat sekaligus, misal pada leher kiri dan ketiak kanan," papar Made. Sementara, dianggap stadium ketiga, bila benjolan ditemukan di antara batas dada dan perut. Misalnya, pada ketiak kiri dan selangkangan. Dan stadium empat, bila benjolan yang ditemukan jumlahnya banyak.

Kekhawatiran terhadap penyakit ini tidak terletak pada stadiumnya. Melainkan, pada gradasi keganasannya. Stadium satu dengan gradasi yang tinggi (high grade) lebih berbahaya, daripada stadium dua dengan gradasi rendah (low grade). "Lebih berbahaya lagi jika kanker ini sampai menyerang otak. Sebab, obat-obatan kemoterapi tidak dapat menembus otak. Jika sudah demikian, satu-satunya pengobatan ialah dengan radiasi," katanya.

Kanker KGB, terutama menggunakan terapi medik kemoterapi alias memakai antikanker berbentuk obat minum maupun dengan injeksi. Tentunya, sebelum kemo (begitu orang awam menyebutnya, Red.) harus dipastikan ganas-tidaknya benjolan.

Kemoterapi mutakhir, ditemukan sekitar dua tahun lalu. Terapi tersebut dengan suntikan obat antimonokonul (antibodi). Antimonokonul ini akan mematikan CD-20 (antigen pada limfoma maligna) yaitu bahan yang didapati di sel kanker. "Sayangnya, cara pengobatan suntik ini sangat mahal," imbuhnya. Namun, CD-20 ini tidak didapati pada semua penderita penyakit mematikan ini.

Made menambahkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan kemo. Seperti, keadaan umum pasien (performance status) dengan cara penilaian (karnofski) lebih dari 60 persen.

Pada kondisi begini, jantung dan paru-paru harus normal dengan memberi dosis yang sesuai kondisi tubuh. Hb lebih dari 10 gram/dl, lekosit lebih dari 4.000/ml, trombosit lebih dari 100.000/ml. "Jika kondisi pasien tak memenuhi persyaratan ini, harus dinormalkan dulu baru boleh kemoterapi," jelas spesialis penyakit dalam RSU dr Soetomo Surabaya ini. (kit)

Sumber: Pikiran Rakyat
 

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia