Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
Rabu, 18 Oktober 2000
Efek Samping Kemoterapi Bisa Diatasi
Penderita kanker tak perlu khawatir lagi
menjalani kemoterapi. Efek samping yang
menyiksa, seperti, mual, muntah, nyeri, dan
letih lesu (fatique) kini bisa diatasi
dengan pelbagai pendekatan, baik psikologis,
teknik baru, maupun obat-obatan.
Hal itu mengemuka dalam perbincangan para
ahli kanker dengan wartawan tentang
"Kualitas Hidup Pasien Kanker", di Rumah
Sakit (RS) Kanker Dharmais Jakarta, Selasa
(17/10).
Menurut dr Djumhana Atmakusuma SpPD dari
Subbagian Hematologi-Onkologi Medik, Bagian
Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (FKUI/ RSCM), kemoterapi
merupakan salah satu cara pengobatan kanker
di samping pembedahan dan radioterapi.
Kemoterapi menjadi cara pengobatan utama
kanker limfoma (kelenjar getah bening),
tumor Wilms, dan kanker paru. Juga
mengoptimalkan hasil pembedahan kanker
payudara, kanker tulang, kanker jaringan
lunak, kanker laring (saluran napas atas),
kanker kandung kemih, kanker anus, dan di
masa depan diperkirakan menjadi terapi
primer pada pelbagai jenis kanker.
"Pasien sering menolak kemoterapi karena
efek sampingnya membuat kualitas hidup
pasien menurun," ujar Djumhana.
"Akan tetapi, hal itu kini sudah bisa
diatasi dengan terapi suportif. Untuk
mencegah muntah misalnya, dilakukan prediksi
terhadap efek kemoterapi. Kita lihat
obatnya, apakah menimbulkan mual begitu
kemoterapi diberikan, atau beberapa hari
sesudahnya. Untuk itu pasien diberi obat
antimual. Kalau muntah tidak terkontrol,
pasien diminta ke rumah sakit agar tidak
mengalami dehidrasi," paparnya.
Interaksi
Menurut dr Aru Sudoyo SpPD yang juga
staf Subbagian Hematologi-Onkologi Medik
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, kanker
merupakan interaksi faktor genetik dengan
faktor lingkungan. Yang dimaksud dengan
faktor genetik adalah kerentanan atau
kelainan pada DNA. "Enam sampai 10 persen
kasus merupakan kanker yang diturunkan,"
kata Aru.
Saat ini ada cara pemeriksaan untuk
mengetahui apakah seseorang mempunyai faktor
genetik kanker. Masalahnya, ilmu pengetahuan
belum bisa mengatasi masalah genetik itu.
Yang bisa dilakukan hanya menjalani hidup
sehat dan deteksi dini kanker secara rutin.
Salah satu terapi pengobatan adalah
kemoterapi dengan obat sitostatik. Akan
tetapi, obat ini selain membunuh sel kanker,
juga membuat sel lain, seperti rambut, ikut
rontok dan menimbulkan sariawan. Hal ini
dapat pulih setelah kemoterapi berakhir.
Kemoterapi juga punya efek toksik terhadap
sumsum tulang, jantung, paru, hati, ginjal,
dan saraf. Pada sumsum tulang, kemoterapi
menurunkan jumlah sel darah putih dan
kekebalan sehingga mudah terkena infeksi.
Penanggulangan dilakukan lewat penyesuaian
dosis obat, perlindungan terhadap infeksi
dengan isolasi, serta pemberian obat
pertumbuhan (growth factor).
Cara terbaru adalah lewat transplantasi
sumsum tulang yang diambil dari penderita
sebelum kemoterapi. Selain untuk
menyelamatkan sel yang masih baik dari
penderita, juga mengurangi risiko penolakan
tubuh. (atk)
Sumber: Kompas
Archive