Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

Jumat, 17 November 2000

Tiap Hari 100-150 Pasien Kanker Periksa ke RSUP Dr Sardjito

Setiap harinya tidak kurang dari 100 sampai 150 pasien penderita kanker berobat ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Dr Sardjito, Yogyakarta. Umumnya para penderita yang periksa sudah dalam stadium lanjut, sehingga persentase pasien sembuh sangat minim sekali.

Hal tersebut diungkapkan Direktur RSUP Dr Sardjito, dr Sri Endarini, dalam jumpa pers selepas peresmian gedung klinik penyakit kanker di kompleks RSUP setempat, Rabu (15/11). "Dengan berdirinya klinik kanker di RSUP Dr Sardjito, maka sekitar 2.300 pasien baru penderita kanker di wilayah Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah Selatan akan lebih intensif ditangani," tegas Endarini.

Menurut Endarini, Pasien yang datang ke rumah RSUP Dr Sardjito setiap harinya, 75 persen adalah penderita berstadium kritis. Dengan berdirinya klinik kanker ini diharapkan bisa memeriksa dalam kondisi stadium dini. "Deteksi dini ini penting khususnya bagi ibu-ibu yang berusia 30-35 tahun. Mereka bisa datang untuk periksa, bahkan bisa minta pelayanan papsmear (deteksi kanker leher rahim).

Prinsipnya, klinik yang baru berdiri ini, kata Endarini, diharapkan bisa menjadi pelopor dalam penanggulangan penyakit masa depan khususnya kanker.

Menurut dia, ada lima jenis pokok dalam pelayanan klinik kanker ini, yaitu, kanker leher rahim, payudara, kelenjar getah hidung, paru-paru dan kelenjar getah bening. "Prinsipnya keberadaan klinik ini untuk pelayanan kanker sedini mungkin," tegasnya.

Kerja sama
Disebutkan oleh Endarini, klinik ini berdiri berkat bantuan dana dari Koningen Wilhelmina Fund, sebesar 500.000 gulden atau sekitar Rp 1,7 milyar. Proyek ini mendapat dukungan penuh dari Forum Indonesia-Belanda (Fined) serta Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Gedung klinik ini dibuat sesuai dengan kehidupan negara-negara tropis, atau mengutamakan kenyamanan pasien.

"Misalnya, untuk memisahkan ruang tunggu dengan ruang periksa ada koridor, yang memberikan kenyamanan pada pasien untuk berkonsultasi secara bebas kepada dokter," kata dr Sutaryo salah satu dokter yang akan menangani klinik ini.

Bantuan ini tidak sekadar mencakup pengembangan sarana fisik, tetapi juga sumber daya manusia. Misalnya, pengiriman beberapa tenaga medis dan paramedis ke Belanda untuk memperdalam ilmu. (top)

Sumber: Kompas

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia