Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

Rabu, 16 Maret 2005

Kanker Usus Besar Serang Usia Muda

Gabungan ilmu biologi molekuler dengan studi antropologi menggeser paradigma pengobatan menjadi semakin spesifik. Kini pengobatan tidak hanya disesuaikan dengan perangai molekuler suatu populasi, tetapi lebih pada profil genetik suatu individu. Berpijak pada paradigma baru itu pula, dr Aru Sudoyo SpPD mengkaji kanker kolorektal pada usia muda di Indonesia, yang mengantarnya menjadi doktor dengan predikat cum laude.

Dalam sidang terbuka Senat Akademik Universitas Indonesia yang berlangsung Selasa (15/3) di Kampus UI Salemba, Aru menjelaskan bahwa kanker usus besar atau kolorektal termasuk penyakit keganasan urutan 10 tersering di dunia, termasuk di Indonesia.

Namun, kalau di negara maju angka kejadian kanker kolorektal lebih besar pada usia 65 tahun ke atas, maka di Indonesia kasusnya lebih banyak pada usia di bawah 40 tahun. Keadaan ini memprihatinkan karena mereka terkena pada usia produktif yang akan berdampak pada keuangan keluarga.

Karena itu, dengan menggabungkan studi migrasi antropologi dengan ilmu genetika, Aru mencari jawaban atas perbedaan pola tersebut. Bertindak sebagai promotor adalah Prof Dr dr A Harryanto Reksodiputro SpPD, Prof Dr dr Daldiyono, dan Prof Dr Bambang Sutrisna MHSc.

"Yang juga mengherankan, kanker kolorektal pada pasien usia muda juga lebih cepat berkembang dan sering kali tidak responsif terhadap kemoterapi," papar Aru yang juga staf Subbagian Hematologi-Onkologi Medik Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.

Empat etnik
Aru kemudian meneliti secara eksploratif dan analitik para pasien dari kelompok etnik Jawa, Sunda, Makassar, dan Minang. Pemilihan suku-suku ini berdasarkan geografi dan sejarah migrasi manusia ke kepulauan Indonesia.

Setelah menelusuri data rekam medik pasien kanker kolorektal berusia 40 tahun atau kurang dan yang berusia sama atau lebih dari 60 tahun, berhasil dikumpulkan 121 kasus dari RS Cipto Mangunkusumo, RS Kanker Dharmais, dan RS Gatot Subroto (Jakarta), RS Hasan Sadikin (Bandung), RS dr Wahidin (Makassar.
Kelompok etnik terbesar yang diteliti adalah Sunda (52,9 %), Jawa (23,1 %), Bugis (20,7 %), dan Minang (3,3 %).

Hasil penelitian menunjukkan, pola ekspresi protein tertentu pada penderita kanker kolorektal usia muda tidak berbeda dengan penderita yang berusia di atas 60 tahun. "Selain itu, kankernya ternyata tidak bersifat herediter atau menurun sehingga pemicu utamanya lebih ke gaya hidup dan lingkungan," paparnya.

Gaya hidup terutama terkait dengan status sosial ekonomi karena memengaruhi diet dan nutrisi. Bila asupan gizi tidak seimbang, maka infeksi dan inflamasi mudah terjadi, yang kemudian bisa memicu tumor.
"Sedangkan pada proses penuaan terjadi disfungsi mitokondria yang menghasilkan stres oksidatif dan memengaruhi berbagai penentu munculnya kanker," tambah Aru.

Dengan pengetahuan ini, makin terlihat bahwa pengobatan kanker tidak bisa lagi hanya berbasis pada onkologi empirik-di mana efektivitas obat dinilai berdasarkan uji klinik pada suatu populasi yang kemudian menjadi standar untuk semua-melainkan sudah harus mempertimbangkan profil genetik seseorang atau kelompok etnik tertentu.

Pada kanker usus besar sudah terbukti bahwa paparan lingkungan amat berpengaruh pada stabilitas sel tubuh dan dapat memicu perubahan-perubahan permanen yang menjurus ke kanker.

Epidemiologi molekuler
Penelusuran efek-efek lingkungan beserta karsinogennya-bahan-bahan yang memicu kanker-ini bisa dilakukan dengan ilmu yang berkembang dengan sebutan epidemiologi molekuler. "Sayang, sampai sekarang belum ada yang meneliti perangai molekuler pada berbagai kelompok etnis di Indonesia," kata Aru.

Padahal, beberapa perusahaan farmasi besar sudah mulai mendata profil genetik populasi dunia. Dengan basis data itu, mereka bisa membuat obat yang spesifik dengan target khusus dan untuk populasi tertentu pula.

Untuk penanggulangan kanker secara menyeluruh, profil genetik individual ini akan menjadi acuan dalam menentukan strategi pencegahan, deteksi dini, dan terapi.

Saat ini pengobatan utama kanker kolorektal masih mengandalkan pembedahan. Namun, banyak pasien yang datang dalam tahapan penyakit yang memerlukan kemoterapi dan radioterapi. (nes)

Sumber: Kompas

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia