Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

Kamis, 15 Juli 2004

Anemia Akibat Kekurangan Besi

ANEMIA adalah keadaan jumlah sel darah merah tak cukup untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Anemia akibat kekurangan besi (Fe) adalah penurunan jumlah sel darah merah akibat kekurangan besi.

Anemia akibat kekurangan besi adalah yang tersering terjadi. Sekira 20% wanita, 50% wanita hamil, dan 3% pria kekurangan besi. besi merupakan komponen esensial dari Hemoglobin, suatu pigmen pengangkut oksigen dalam darah. Besi biasanya didapat dari makanan sehari-hari, dan pemakaian ulang besi dari sel darah merah yang tua. Tanpa besi, darah tak efektif membawa oksigen. Di sisi lain, oksigen diperlukan untuk fungsi normal seluruh sel tubuh.

Penyebab kekurangan besi adalah akibat terlalu sedikit besi dalam makanan sehari-hari, buruknya penyerapan besi di dalam saluran cerna, dan kehilangan darah (umpamanya jumlah haid yang banyak).
Bahkan kekurangan besi berkaitan dengan keracunan timah-hitam (lead poisoning) pada anak-anak.

Anemia terjadi perlahan-lahan, setelah cadangan normal besi di badan dan sumsum-tulang berkurang. Wanita umumnya memunyai cadangan besi yang lebih sedikit dari pria, serta lebih banyak kehilangan darah sewaktu haid. Kondisi itu mengakibatkan mereka lebih berisiko terkena anemia kekurangan besi akibat kehilangan darah dari saluran cerna yang berkaitan dengan penyakit tukak-lambung, pemakaian obat-obatan penghilang nyeri (pain-killer medicine). Bahkan bisa juga akibat kanker saluran cerna (esofagus, lambung, usus-besar).

Kelompok yang berisiko tinggi antara lain wanita usia subur yang kehilangan darah lewat haid yang banyak, wanita hamil atau sedang menyusui, karena memerlukan besi lebih banyak, bayi dan anak balita serta remaja yang berada dalam masa pertumbuhan yang pesat, termasuk juga orang tua yang asupan makanan sehari-harinya rendah besi.

Faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan kehilangan darah adalah penyakit tukak-lambung, pemakaian obat-obatan penghilang nyeri lama, dan kanker usus-besar.

Keluhan-keluhan
* kulit pucat
* rasa lelah
* napas pendek
* kuku mudah pecah
* kurang selera makan (terutama anak-anak)
* sakit kepala (sebelah depan)

Catatan: bisa saja tak ada keluhan, bila yang terjadi anemia ringan.
Gejala dan hasil pemeriksaaan lab.

* Nilai hematokrit dan hemoglobin rendah
* Ukuran sel darah merah kecil (Mikrositer)
* Kadar Ferritin serum rendah
* Kadar besi serum (serum iron) rendah
* Kapasitas total pengikatan besi (TIBC) meninggi
* Ditemukan darah pada feses/tinja

Pengobatan
Penyebab kekurangan besi harus diketahui, terutama pada penderita berumur lanjut yang seringkali berkaitan dengan kanker saluran cerna.
Suplemen oral besi sebanyak 150-200 mg/hari dalam bentuk Ferrous-sulfat, Ferrous-glukonat, Ferrous-fumarat dan Ferrous-suksinat. Bila penderita ada gangguan lambung/gastritis, sebaiknya bentuk Ferrous-sulfat dihindarkan.

Penyerapan besi yang terbaik adalah sewaktu perut kosong, tapi kebanyakan orang tak tahan, sehingga dapat ditelan bersamaan atau segera sehabis makan.

Susu dan obat Antasid (obat mag) dapat mengurangi penyerapan besi, sehingga semestinya tidak bersamaan minumnya dengan suplemen oral besi. Sedangkan Vit. C dapat menaikkan penyerapan besi, serta juga penting dalam produksi hemoglobin. Suplemen oral besi diperlukan sewaktu kehamilan dan menyusui, karena makanan sehari-hari tak cukup memberikan besi.

Hematokrit dan hemoglobin mestinya pulih normal setelah 2 bulan pemberian besi. Namun pemberiannya terus dilanjutkan hingga 6-12 bulan untuk memulihkan cadangan besi tubuh, yang sebagian besar berada dalam sumsum tulang.

Injeksi besi diberikan pada pasien Anemia yang tidak bisa mendapatkan besi per oral. Efek samping injeksi besi ialah nyeri, shock anafilaktik dan radang vena (tromboflebitis).
Makanan sehari-hari yang kaya dengan besi antara lain bayam, daun katuk, kismis, daging merah (terutama hati), ikan, ayam, kuning telur, kacang merah serta roti gandum.

Prognosis/harapan
Dengan pengobatan yang memadai, hasilnya baik. Kebanyakan hemoglobin dan hematokrit pulih normal dalam tempo dua bulan.

Komplikasi
Biasanya jarang terjadi komplikasi, tetapi anemia kekurangan besi sering kambuh kembali, sehingga pemantauan yang teratur diperlukan. Anak dengan anemia kekurangan besi lebih mudah mengalami penyakit infeksi.***

Dr. Syafrizal Syafei, Sp. PD KHOM.,
Divisi Hematologi-Onkologi Medik FKUI/RSCM/RSKD.

Sumber: Pikiran Rakyat
 

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia