Language
NEWS &
EVENTS
15.06.2002
Gangguan Darah Berakibat Fatal
Organ tubuh apa yang paling penting?
Ternyata bukan jantung, paru, atau ginjal,
karena organ-organ tubuh itu sudah bisa
digantikan alat mekanis. Organ paling
penting sekarang ternyata darah. Sepuluh
menit saja darah berhenti mengalir, orang
bersangkutan akan meninggal.
Trombosis, yakni bekuan darah yang menyumbat
aliran darah di pembuluh, kini menjadi
pembunuh nomor satu. Tak kurang dari dua
juta orang meninggal tiap tahun di Amerika
Serikat (AS) akibat trombosis. Di Indonesia,
penyakit akibat trombosis, seperti stroke
dan serangan jantung, juga menjadi penyebab
kematian tertinggi.
Masalah yang dikemukakan Prof Dr dr Karmel L
Tambunan SpPD KHOM itu akan menjadi salah
satu topik pada The 4th National and 1st
Regional Scientific Meeting of
Haematology-Medical Oncology, Internal
Medicine yang akan berlangsung 22-23 Juni
mendatang.
Menurut Ketua Panitia yang juga Ketua Badan
Koordinasi dan Kerja Sama Nasional
Hematologi-Onkologi Medik Ilmu Penyakit
Dalam Indonesia (Bakornas Hompedin) Prof Dr
dr A Harryanto Reksodiputro SpPD KHOM kepada
pers, Jumat (14/6), pertemuan ilmiah
regional itu bertujuan untuk menggalang
kerja sama dan jaringan kerja di antara para
ahli hematologi-onkologi medik di wilayah
Asia Tenggara dan Asia Timur menjelang Era
Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA). Selain dari
Indonesia, para pembicara dan peserta juga
dari Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei,
Jepang, dan Korea.
Untuk mencegah trombosis, perlu diketahui
faktor risiko dan gejalanya. "Trombosis bisa
terjadi antara lain akibat defisiensi
antikoagulan (antipembekuan darah), sehabis
operasi, terutama ortopedi, serta trauma,
kondisi berbaring lama/kurang gerak, dan
kegemukan," kata Karmel.
Salah satu bentuk trombosis adalah deep vein
thrombosis, yaitu bekuan darah di vena,
biasanya pada kaki yang menyebabkan bengkak,
merah, dan nyeri. Jika bekuan darah terbawa
aliran darah dan menyumbat pembuluh darah ke
paru maka penderita bisa meninggal. Bekuan
darah juga bisa menyumbat pembuluh darah di
otak (stroke) serta jantung.
Pengobatan kanker
Masalah lain yang akan dibahas adalah
pengobatan kanker, termasuk penggunaan obat
sitostatika (kemoterapi). Menurut Harryanto,
sitostatika seharusnya hanya diberikan oleh
ahli onkologi medik, karena banyak hal yang
harus diperhatikan. Misalnya, jarak dosis
efektif dan dosis toksik dari sitostatika
sangat tipis, penggunaan harus hati-hati,
serta memperhatikan kondisi tubuh pasien,
seperti fungsi otot, ginjal, jantung, dan
hati. Jika ada kelainan harus diatasi lebih
dulu. "Menggunakan sitostatika secara
sembarangan akan berakibat fatal," ujar
Harryanto.
Gaya hidup, demikian dr Zubairi Djoerban
SpPD KHOM yang membahas tentang kanker
payudara dan dr Aru W Sudoyo SpPD KHOM yang
membicarakan kanker kolorektal, sangat
penting untuk pencegahan kanker. Diet tinggi
lemak dan merokok merupakan faktor risiko
kanker. Sedangkan olahraga, makanan tinggi
serat, sayur, dan buah bisa menurunkan
risiko ter-kena kanker.
Dokter keluarga, demikian dr Djumhana
Atmakusuma SpPD KHOM, ber-peran untuk
membantu mencari anggota keluarga yang
menderita kelainan atau kanker
herediter/ke-turunan untuk dirujuk ke klinik
kanker keluarga, seperti yang sedang
dikembangkan di Rumah Sakit Kanker Dharmais.
Selain itu, dokter keluarga juga membantu
mengawasi kondisi pasien kanker yang
menjalani kemoterapi atau radioterapi.
Nyeri yang merupakan masalah besar pada
pasien kanker, jelas dr Asrul Harsal SpPD
KHOM, bisa diatasi dengan pelbagai obat.
Dari asetominofen maupun obat anti-inflamasi
nonsteroid pada nyeri ringan sampai opioid
(morfin) bagi nyeri berat.
"Pasien harus bebas nyeri agar bisa
menjalani hidup dengan dignity. Pemberian
morfin secara benar, walau dengan dosis
tinggi, tidak akan menyebabkan adiksi,"
jelasnya.
Sumber: Kompas
Archive