Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

14.06.2002

Gaya Hidup Modern dan Kanker

Makan fast food (makanan cepat saji) merupakan salah satu gaya hidup modern. Memang praktis sih, tapi risikonya lumayan besar pula. Salah satunya, kanker!

Menurut Prof. A. Harryanto R dalam jumpa pers di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jumat (14/6),kanker adalah penyakit genetik. Artinya, penyakit ini terjadi akibat terjadinya perubahan susunan neukleotida dari gen (DNA pembentuk). Penyakit ini, lanjut ketua Badan Koordinasi Nasional Haematologi dan Penyakit Dalam Indonesia, menduduki peringkat kedua setelah trombosis dalam hal membunuh manusia Indonesia.

Walaupun kanker penyakit genetik, namun tidak selalu karena keturunan (hereditas). “Bahkan untuk faktor familial (keturunan) hanya 5-10 persen,” ujar Aru W Sudoyo, internis dari RSCM. Selebihnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau kebiasaan, seperti merokok dan pola makan.

Yang ikut andil menyumbang kanker, terutama kanker usus, adalah konsumsi makanan yang memicu kanker, seperti makanan cepat saji itu. Untungnya, menurut penelitian di Amerika, orang Asia memiliki kemungkinan kecil dibanding orang barat atau negro. Namun, ketika orang Asia itu pindah ke Amerika Serikat, selang dua generasi kemudian mereka memiliki risiko terkena kanker sama besarnya dengan orang Barat. “Karena mereka mulai terpengaruh gaya hidup mereka,” papar Aru.

Lalu, bagaimana dengan makanan yang bisa menghhambat kanker seperti yang banyak didengungkan saat ini? Beberapa makanan memang terbuksti mampu menghambat pertumbuhan sel kanker, tapi kita juga mesti hati-hati karena bisa berakibat sebaliknya. Wortel misalnya, dipercaya sebagai makanan penghambat kanker, tapi malah bisa membuat para perokok rentan terhadap kanker. “Betakarotin tidak cocok buat perokok,” jelas Zubair Djoerban.

Sayangnya, meski kanker merupakan penyakit pembunuh kedua di Indonesia, penanganannya dianggap kurang memadai. Banyak pasien dalam negeri yang jauh-jauh pergi ke luar negeri untuk berobat. Kondisi ini, menurut Harryanto, memang antara lain disebabkan kemampuan perkembangan kedokteran Indonesia yang belum memadai. Untuk menangani kanker, misalnya dengan menggunakan kemoterapi, harus dilakukan oleh internis. “Di Indonesia, sekarang ini ada 40 internis,” paparnya. Dan para internis tersebut hanya tersebar di beberapa kota besar. Diantaranya Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Malang, Yogyakarta, Solo, Bali, Makasar, Menado, Palembang, dan Padang.

Untuk memberi ruang kepada para internis tersebut untuk mendapat ilmu-ilmu terbaru, selama dua hari --Sabtu (22/6) dan Minggu (23/6)-- akan diadakan “The 4th National and The 1st Regional of Haematology Oncology of Internal Medicine Scientific Meeting” di Jakarta. Dalam forum tersebut diharapkan kerja sama antar berbagai negara seperti Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Malaysia, dan lain-lain akan bisa terlaksana. Dalam forum tersebut juga rencananya adakan dibangun Oncologis se-Asia Tenggara dan Asia Timur.

Sumber: Tempo

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia