Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

13.03.2002

Kanker Payudara, Dapatkah Dicegah?

Di Amerika kanker payudara pada perempuan maupun pada laki-laki berkecenderungan meningkat sejak tahun 1973. Benarkah sebab tidak dapat dibendung?Atau orang sendiri abai pada risiko untuk kena kanker yang mematikan itu? Berikut penjelasan Dr. Handrawan Nadesul dalam klinik keluarga tabloid gaya hidup sehat "Senior" edisi 8-14 Maret 2002.

Kanker payudara pada laki-laki hanya terjadi seperseratusnya ketimbang pada perempuan. Mungkin karena tidak rutin melakukan pemeriksaan, atau tidak mengira bisa kena. Jika tumornya hanya jinak (gynecomastia), umumnya sembuh dengan sendirinya.

Pada remaja laki-laki yang gemuk kasus begini acap muncul sebab kelebihan lemak, dan umumnya menghilang sendiri. Jika kelewat besar dan berlebihan biasanya harus dipotong.

Pada laki-laki dewasa, tumor jinak bisa disebabkan oleh pengaruh obat-obatan. Digitalis (obat jantung), spironolactone (obat penguras kencing); cimeti dine (obat maag), yang dikonsumsi lama berpotensi memperbesar payudara laki-laki. Pembesaran payudara biasanya mengempis lagi setelah pemakaian obat dihentikan.

Payudara laki-laki membesar juga pada tumor buah zakar, penyakit gondok, gagal ginjal, pengaruh obat anabolic steroid (pembesar otot pada binaraga atau atlet), dan kelainan kromosom Sindrom Kleinfelter. Setiap pembesaran payudara pada laki-laki perlu dipastikan kalau itu bukan kanker. Biasanya dilakukan biopsi dengan aspirasi menggunakan jarum.

Kanker payudara pada laki-laki umumnya lebih agresif dibanding perempuan. Pada perempuan kanker payudara lebih agresif jika muncul pada usia muda. Risiko laki-laki kena kanker kurang lebih sama dengan perempuan, yakni faktor genetik sendiri, faktor riwayat pernah tumor jinak (gynecomastia), dan terpapar radiasi.

Faktor Genetik
Kendati tidak pada semua kasus kanker payudara, faktor genetik punya peran besar. Letak kesalahannya pada gen BRCA1 dan BRCA2. Kedua gen ini berfungsi menekan abnormalnya pertumbuhan sel. Bukan saja pada kasus kanker payudara melainkan juga pada tumbuhnya kanker usus besar, indung telur, dan prostat.

Jika kedua gen tersebut pada tubuh seseorang mengalami mutasi (perubahan sifat), risiko sel payudara bertumbuh secara berlebihan dan tidak mengikuti aturan normal akan meningkat. Ini terjadi pada 10 persen kasus kanker payudara.

Kanker payudara yang disebabkan oleh faktor genetik akan muncul pada usia lebih muda, sebelum menopause. Sedang kanker payudara pada umumnya (non-genetik) baru muncul setelah usia 50-an tahun. Usia rata-rata pada kelompok umur 50-60 tahun.

Untuk kasus payudara genetik dilakukan tes genetik, namun tes ini tidak selalu memberikan hasil yang akurat, selain kemungkinan bisa positif atau negatif palsu. Yang tes genetiknya positif belum tentu benar mengidap kanker payudara. Begitu juga yang tesnya negatif palsu, belum tentu tidak mengidap kanker payudara.

Tidak semua gen yang mengalami mutasi nilainya bermakna, bisa juga bersifat silent dan normal-normal saja. Maka lebih penting untuk rutin melakukan tes penyaring selain mammography, atau foto rontgen payudara.

Gejala dan Tanda
Susahnya, mulai tumbuhnya sel kanker payudara tidak mudah dideteksi. Sering-sering baru diketahui setelah stadium kanker berkembang agak lanjut. Kita tahu semakin lanjut stadium kanker, semakin sukar dan kecil peluang untuk disembuhkan. Semakin dini diterapi semakin besar kesembuhan.

Patokan suatu kanker dinyatakan terlambat didiagnosis, jika sel kanker sudah menyebar (metastasis). Selain perlu mengangkat seluruh payudara , kelenjar getah bening di sekitarnya juga ikut dibuang pula, dengan kemungkinan kambuh lebih besar dan harapan bertahan hidup yang lebih kecil.

Tidak perlu seorang ahli untuk menemukan awal kanker payudara. Sering pasien sendiri menemukannya jika rutin melakukan pemeriksaan payudara mandiri. Mungkin mulai meraba adanya benjolan. Jika itu suatu kanker, benjolan bersifat kaku, biasanya tidak rata, melekat pada dasarnya dan tidak bisa digerak-gerakkan..

Lokasi paling banyak di daerah kuadran perempat atas sisi ketiak. Mungkin terasakan nyeri payudara, keluar cairan dari puting susu (darah, lendir kental), kulit payudara berkeriput seperti kulit jeruk, puting susu masuk ke dalam (retraksi) atau ada benjolan di ketiak. Tergantung jenis kanker dan lokasinya.

Untuk memastikan benar ada kelainan di payudara dilakukan mammography. Jika benjolan payudara sudah teraba, hasil pemeriksaan mammography biasanya sudah positif . Tapi kepastian bahwa itu benar kanker, atau apa pun lainnya perlu dilakukan biopsi. Dengan jarum khusus disedot sel-sel di lokasi benjolan, lalu dibaca sifat dan jenis selnya di bawah mikroskop.

Biopsi juga bisa dilakukan setelah operasi langsung dilakukan. Selain pemeriksaan di lokasi benjolan payudara, dilakukan pula pemeriksaan melihat kemungkinan anak sebar kanker apakah sudah ke kelenjar getah bening ketiak. Dulu, secara kasar saja dokter menduga sudah ada penyebaran ke kelenjar getah bening. Jika itu terjadi, semua kelenjar getah bening ketiak ikut diangkat pula. Itu berarti operasi lebih luas sampai ke ketiak.

Sekarang dengan teknik lebih baru dilakukan biopsi kelenjar getah bening ketiak menjelang operasi (sentinel lymphonodhe biopsy ). Sudah adanya penyebaran serenik apapun di kelenjar getah bening sudah dapat diendus dengan teknik PCR (polychain reaction), sebagaimana sekarang dilakukan untuk mengendus adanya virus. Untuk pemeriksaan kelenjar getah bening pra bedah dilakukan preoperative lymphoscintigraphy.

Tergantung Stadium Kanker payudara diterapi sesuai dengan stadiumnya. Jika masih lokal hanya di payudara saja, dan kelenjar getah bening ketiak belum kena, cukup mengangkat payudaranya saja. Jika sel kanker sudah menyebar ke kelenjar ketiak tapi belum menyebar kemana-mana , selain mengangkat seluruh payudara, kelenjarnya dibuang juga ditambah dengan terapi radiasi dan chemotherapy. Dan jika sudah menyebar ke seluruh tubuh (tulang, paru-paru), tidak mungkin kanker diangkat lagi, sebab anak sebarnya sudah kemana-mana. Tindakan pembedahan bisa memperburuk penyebaran kankernya.

Pada kanker payudara laki-laki diberikan juga terapi hormonal dengan jenis hormon estrogen yang lebih jinak dari estrogen perempuan (tamoxifen ). Hanya saja, efek samping obat ini bikin rambut, impotensia, libido mengendur, bekuan dalam pembuluh balik dan depresi. Jika kankernya sudah menyebar, selain membuang payudara, buah zakar juga perlu diangkat juga, selain mempertimbangkan pengangkatan kelenjar anak ginjal adrenal, atau kelenjar pituitary di otak.@

Sumber:Kompas,
 

Archive


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia