Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
12.10.2005
Pasien Kanker tak Boleh Puasa
JAKARTA -- Penderita kanker yang tengah
menjalani terapi, mutlak tidak boleh
berpuasa. Alasannya, para pasien membutuhkan
asupan nutrisi dalam jumlah besar dan
teratur untuk mengganti proses
hipermetabolisme tubuh akibat aktivitas
sel-sel kanker. Yang boleh berpuasa adalah
pasien yang telah memasuki fase remisi, itu
pun dengan syarat ketat.
Pasien yang tengah menjalani terapi
kemoterapi, misalnya, mengonsumsi obat yang
tidak hanya menghancurkan sel-sel kanker,
tapi juga sebagian besar sel-sel normal.
Karena itu, pasien kemoterapi membutuhkan
kalori dan protein tinggi untuk mengganti
sel-sel yang rusak tadi, kata dr Noorwaty S,
dari bagian penyakit dalam Rumah Sakit
Kanker Dharmais Jakarta, Selasa (11/10).
Asupan nutrisi, lanjut Noormaty lagi,
diperlukan amat segera untuk mengimbangi
cepatnya proses perusakan sel-sel normal.
Jika tidak dipenuhi, dikhawatirkan terjadi
ketidakseimbangan (malnutrisi). Kualitas
hidup pasien juga terancam menurun drastis
yang dapat berujung kematian, papar dia.
Bukan cuma itu, pasien dengan terapi
kemoterapi juga biasa mengalami efek mual
atau muntah. Penyebabnya adalah unsur
kimiawi pada obat yang secara ekstensif
mengikis sel-sel pada dinding lambung. Untuk
memenuhi kebutuhan energinya, pasien perlu
makan sedikit demi sedikit, tapi sering.
Tentu saja, menurut Noormaty, ini tidak bisa
dipenuhi jika pasien tidak makan selama 13
jam penuh alias berpuasa.
Kondisi serupa berlaku bagi pasien yang
tengah menjalani terapi kanker dengan
radiasi. Atau, pasien kanker yang sedang
atau baru saja menjalani pembedahan.
Kesemuanya, kata Noormaty, memerlukan
nutrisi tingkat tinggi untuk mengganti
sel-sel rusak (pemulihan), sehingga tidak
boleh puasa. Pasien terapi radiasi malah
biasa mengalami kehancuran sel darah merah
dalam jumlah besar.
Menurut Noormaty, ada kategori penderita
kanker yang boleh berpuasa. Mereka adalah
pasien yang telah dinyatakan sembuh oleh
dokter atau memasuki fase remisi. Namun ada
syaratnya. ''Pasien tersebut tidak boleh
memiliki komplikasi penyakit berat, seperti
jantung, ginjal, atau diabetes melitus,''.
Dalam banyak kasus, lanjutnya, pasien-pasien
yang telah sembuh dari kanker tetap
mempunyai agenda pascaperawatan. Misalnya,
kewajiban minum obat tepat waktu, secara
teratur. Seringkali obat-obat ini adalah
jenis obat yang tidak dapat ditinggalkan,
seperti obat penghilang rasa nyeri yang
kerap menyertai penderita pascaterapi.
Berbeda dengan orang normal, pada tubuh
penderita kanker terjadi proses metabolisme
tingkat tinggi (hypermetabolism). Dalam
proses itu, terjadi pemecahan glukosa amat
cepat dan massif, di samping turn over
protein tingkat tinggi, serta mobilisasi
asam lemak. Ini berpengaruh terhadap status
gizi pasien. Karenanya, penderita kanker
memerlukan nutrisi adekuat secara teratur
dalam jumlah besar. - imy
Sumber: Republika
Archive