Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

Rabu, 12 April 2000

Kanker Tulang Sulit Didiagnosis

Kanker tulang merupakan salah satu jenis kanker yang cukup sering dijumpai di Indonesia. Berbeda dengan kanker mulut rahim atau kanker payudara, informasi tentang gejala kanker tulang masih sangat sedikit. Karenanya, kanker tulang sering didiagnosis dalam keadaan terlambat.

Menurut Dr Nicolaas Budhiparama Jr FICS dari Bagian Bedah Ortopedi FKUI/RS Kanker Dharmais dalam ceramah tentang "Kanker Tulang" bagi masyarakat awam, Selasa (11/4), prevalensi kanker tulang di Indonesia belum diketahui karena tidak ada registrasi mengenai hal itu. Yang jelas, setiap tahun RS Kanker Dharmais merawat 50-60 pasien kanker tulang ganas.

Masyarakat awam seringkali tidak menyadari adanya kanker tulang, karena gejalanya mirip reumatik dan osteoporosis, yaitu nyeri di bagian tulang atau sendi dan adanya pembengkakan atau benjolan. Hal itu juga menyebabkan dokter sulit mendiagnosis kanker tulang.

"Untuk memudahkan diagnosis, sebaiknya dibuat foto rontgen. Dengan itu bisa dibandingkan dan diketahui apakah tumor, reumatik atau osteoporosis. Cara lain dengan CT Scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging)," ujar Budhiparama.

Sejauh ini belum diketahui penyebab kanker tulang. Ada hipotesis tentang keterkaitannya dengan genetik. Namun belum ada bukti kuat.

Belasan tahun
Di RS Kanker Dharmais, kebanyakan penderita berusia belasan tahun, antara 13-20 tahun. "Ada jenis tumor yang banyak terdapat pada orang muda seperti osteosarkoma (kanker berasal dari tulang sendiri)," jelas Budhiparama.

Ada 53 jenis kanker tulang. Selain osteosarkoma, jenis kanker tulang yang banyak di Indonesia adalah khondrosarkoma (kanker tulang pada jaringan lunak) dan giant cell tumor (tumor jinak yang menghancurkan tulang). Kanker tulang kalau sudah menjalar ke panggul atau tulang belakang berbahaya, penderita bisa lumpuh.

Penanganan kanker tulang bermacam-macam, dari yang harus diamputasi karena massa tumor sudah terlalu besar atau yang hanya dikorek karena masih kecil.

Tahun 1960-an penderita kanker tulang hanya dioperasi/amputasi. Harapan hidupnya 20 persen. Tahun 1980-an dengan terapi pembantu, harapan hidup meningkat sampai 80 persen. Kini penderita tumor ganas diberi kemoterapi sebelum operasi untuk mencegah perkembangbiakan tumor dan mematikan anak sebar.

Saat ini pada operasi kanker tulang, penderita tidak diamputasi, tetapi dibersihkan tumor dan jaringan lunak di sekitarnya, kemudian bagian yang diambil direkonstruksi dengan tulang tiruan (prosthese) atau dengan tulang manusia (allograft) untuk mengembalikan fungsi alat gerak. Tulang manusia diperoleh dari donor yang diambil maksimal empat jam setelah meninggal dan diawetkan pada suhu - 80 derajat Celcius.
Transplantasi tulang di Indonesia (RSCM dan RSK Dharmais) yang dilakukan sejak tahun 1995 sampai sekarang baru sekitar 48 transplantasi. Hambatannya, menurut Budhiparama, kurangnya ketersediaan prostese maupun donor tulang, sehingga harus didatangkan dari luar negeri. (atk)

Sumber: Kompas, Rabu, 12 April 2000

 

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia