Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
10.06.2005
Darah Tali Pusar, Obat Masa Depan!
Kita mengenal ritual penguburan tali
pusar dan ari-ari (plasenta) yang mengiringi
lahirnya bayi. Ketika tali pusar yang
melekat pada bayi lepas (puput), juga
dilakukan upacara yang bermakna harapan
keselamatan baginya.
Keselamatan itu pula yang dijamin oleh darah
tali pusar, yang disimpan dengan teknologi
kedokteran terkini.
Joshua Song dan keluarganya tak pernah
menyangka bahwa ia bisa sembuh dari ancaman
penyakit yang sangat merisaukan karena
selama ini dikira tak tersembuhkan. Selama
ini, sebulan sekali ia harus menjalani
transfusi darah akibat penyakit talasemia.
Selamat dari keganasan penyakit kini memang
bukan mimpi. Darah tali pusar ternyata
potensial sebagal obat masa depan. Ia mampu
menyelamatkan jiwa manusia dari serangan
berbagai penyakit kelainan genetik maupun
penyakit ganas, seperti kanker, leukemia,
talasemia, dan sebagainya.
Joshua yang berasal dari Singapura itu
adalah pasien talasemia pertama di dunia,
yang mendapat pencangkokan sel darah tali
pusar dari donor orang lain (tidak bertalian
keluarga).
Kesuksesan terapi ini bukan hanya membuat
Joshua bebas dari keharusan menjalani
transfusi darah, ia pun tak perlu lagi minum
obat untuk membersihkan zat besi yang
menumpuk akibat transfusi.
Lebih 45 Penyakit
* “Darah tali pusar sangat unik karena
merupakan salah satu sumber terkaya dari sel
induk dalam tubuh. Menyimpan darah tali
pusar yang diambil sesaat setelah bayi
lahir, sama seperti asuransi biologis,” kata
Dr. Freddy Teo, ahli penyakit darah di
Singapura.
Investasi darah tersebut kelak dapat
digunakan bila pemiliknya mengalami penyakit
berat. Bahkan, saudara dan keluarganya
maupun orang lain yang tidak bertalian darah
bisa memanfaatkannya.
Untuk terapi berbagai gangguan genetik yang
berdampak buruk pada darah dan sistem imun
tubuh, sebelumnya kita telah mengenal
pencangkokan (transplantasi) sel induk dari
sumsum tulang belakang dan darah tepi. Sel
induk darah (haematopoetic stem cell)
memiliki kemampuan melakukan regenerasi dan
membuat berbagai jenis sel darah dari sistem
kekebalan tubuh. Berkat kemajuan teknologi,
sel darah dapat diubah menjadi sel darah
merah, sel darah putih, keping darah, sel
hati, dan lainnya.
Sebetulnya ada dua macam sumber sel induk,
yaitu sel induk dewasa (meliputi sumsum
tulang belakang, darah tepi, dan darah tali
pusar) serta embrio (embryonic stem cell).
Sumber embrio ini tidak menjadi perhatian
karena masih kontroversial dan tidak etis
(karena menyangkut kehidupan makhluk baru)
Pencangkokan sel induk diperlukan jika
sumsum tulang sebagai pabrik pembuat sel
darah terganggu. Gangguan bisa disebabkan
penyakit atau pengobatan dengan ke moterapi
maupun radioterapi. Pencangkokan sel induk
itu dimaksudkan untuk mengisi sel-sel darah
yang hilang atau rusak, karena berbagai
sebab.
Belakangan sejumlah penelitian berhasil
mengungkap keunggulan sel darah tali pusar.
Eksperimen itu sudah dimulai sejak tahun
1963. Dan tahun 1988 untuk pertama kalinya
dilakukan pencangkokan sel induk darah tali
pusar atau umbilical cord blood (UCB), pada
penderita anemia fanconi, dari donor yang
bertalian keluarga, di Prancis.
Pencangkokan sel induk darah tali pusar dari
diri sendiri dilakukan untuk pertama kalinya
tahun 2001. Sampal hari ini sudah lebih
3.000 kasus pencangkokan sel induk dari
darah tali pusar yang dilakukan dan
berhasil.
The National Marrow Donor Programme
mencatat, saat ini sudah lebih dari 45
penyakit yang bisa diobati dengan sel induk
dari darah tali pusar. "Kebanyakan penyakit
darah, daya tahan tubuh, dan keganasan. Di
masa depan, sel induk ini diyakini dapat
digunakan untuk mengobati penyakit kencing
manis (diabetes), stroke, penyakit jantung,
penyakit ginjal, Alzheimer, Parkinson, juga
lupus.
Sumber Terkaya
* Di samping merupakan sumber terkaya
sel induk, darah tali pusar memiliki banyak
kelebihan dibanding sumber sel induk dewasa
lain, seperti sumsum tulang.
Pada sumsum tulang diperlukan kecocokan
hingga 100 persen antara donor dan penerima,
untuk dapat dicangkokkan.
"Kalau darah tali pusar tidak harus 100
persen,” tutur Dr. Frans Ferdinansyah,
konsultan penyimpanan darah tali pusar.
Kesesuaian yang tidak mutlak 100 persen itu
memungkinkan tersedianya donor yang cocok
secara lebih cepat. Dengan demikian,
memberikan harapan hidup yang lebih pasti
bagi penerima.
Cara pengambilan darah tali pusar juga aman
dan tidak menimbulkan rasa sakit, seperti
halnya pengambilan sumsum tulang.
Penggunaannya pada penerima juga relatif
tidak rumit, karena sama seperti proses
transfusi darah pada umumnya.
Sel induk darah tali pusar juga cukup
menjanjikan dalam terapi generik pada
berbagai penyakit keturunan, terutama yang
menyangkut sistem kekebalan tubuh. Hal ini
telah dibuktikan oleh Dr. Donald Khan dari
Children’s Hospital, Universitas California
di Los Angeles, AS, yang melakukan terapi
genetik pertama dari sel induk darah tali
pusar pada tiga anak yang menderita
defisiensi adenosine deaminase (ADA),
penyakit yang menyerang kekebalan tubuh.
Ketiga anak yang juga mendapat pengobatan
lain itu hidup sehat, sampai saat ini.
Dr. Patrick Tan, dokter ahli penyakit darah
yang sudah lebih 20 tahun bergelut di bidang
pencangkokan sel induk, menyatakan bahwa
terapi sel induk merupakan alternatif bila
tidak berhasil dengan cara konvensional
seperti kemoterapi dan radioterapi.
Talasemia mayor, leukemia limpatik kronis,
dan myeloma ganda yang dianggap tak dapat
disembuhkan, nyatanya dengan pencangkokan
sel induk menunjukkan kemajuan hingga 90
persen.
Kecanggihan terapi cangkok sel induk itu
juga telah menyelamatkan hidup Tjen Tjoe
Nyan (59). Sebelum tahun 2003, pria asal
Sukabumi ini tak pernah sakit serius. Ayah
dua anak ini memang rajin joging, bersepeda
dan angkat beban.
Suatu kali, waktu mengangkat barbel
kira-kira seberat 50 kg dalam posisi
membungkuk lalu berdiri, punggungnya terasa
sakit. Segera beban berat itu ia lepaskan.
Tjen merasa tulangnya rontok. Ia pun tak
mampu berdiri. Untuk duduk dan berbaring pun
punggungnya terasa sakit.
Sang istri segera membawanya ke dokter.
Setelah dilakukan sinar X diketahui tulang
punggung bawahnya remuk. Setelah diteliti
lebih lanjut, dokter menyatakan itu karena
tumor pada sumsum tulang belakangnya.
Sontak hati Tjen dan istri remuk redam.
Dokter di Sukabumi tak mampu berbuat
apa-apa. Dibawalah Tjen ke Jakarta. Di sana
pun, dokter tak bisa berbuat banyak. Demi
meraih kesembuhan, sang istri (tak mau
disebut namanya) membawanya ke Singapura.
Di sanalah Tjen ditawari terapi pencangkokan
sel induk dan sumsum tulang. Prosesnya agak
panjang karena para ahli harus mencari donor
sumsum tulang yang cocok. Sebulan Tjen mesti
bolak balik ke negeri jiran itu.
Akhirnya operasi pencangkokan sel induk itu
berjalan lancar dan berhasil. Sekarang, Tjen
sudah bisa berjalan seperti dulu. Meski
tidak boleh melakukan aktivitas berat, Tjen
yang juga atlet sepeda ini boleh berlatih
lagi.
Terhambat Biaya
* Di Indonesia, teknologi transplantasi
sumsum tulang (bone marrow transplant) bukan
barang baru.
Menurut Prof. Dr. Karmel L Tambunan,
Sp.PD-KHOM, onkologis dari FKUI-RSCM,
beberapa dokter di sini pernah melakukannya
di tahun 1989. “Kita berhasil menyelesaikan
tiga kasus leukemia kronik dan akut,” ujar
Prof. Karmel.
Sampai sekarang, kedua pasien itu masih
hidup dan satu lagi meninggal karena ada
penyakit lain. Sayang teknologl ini kemudian
mandek karena biaya pengembangannya sangat
mahal. “Waktu itu, untuk operasi saja butuh
uang sekitar 400 juta rupiah. Kalau sekarang
tentu lebih banyak.” ucapnya.
Tiga kasus leukemia itu bisa diatasi karena
ada donatur. Pemerintah sempat memberikan
dana untuk kursus di Prancis bagi tim yang
hendak menjalankan operasi ini. Namun, biaya
operasi mesti diusahakan oleh para dokter
sendiri. Sementara pasien dibebaskan dari
biaya operasi dan pengobatan.
Langkah yang ditempuh memang hendak
membuktikan kalau para dokter Indonesia bisa
melakukan teknologi yang tergolong baru pada
waktu itu. “Sekaligus untuk pengalaman
kami.” papar Prof. Karmel. Alat-alat yang
dulu pernah digunakan, sekarang disimpan
untuk keperluan lain, salah satunya untuk
induksi leukemia.
Dari segi ilmu, dokter Indonesia sebenarnya
menguasainya. “Kita punya Prof. Arry
Haryanto Reksodiputro dan koleganya,
termasuk saya. Baik soal bone marrrow
transplant maupun transplantasi sel induk
lain. Namun, tanpa peralatan yang sangat
modern, kita nggak bisa apa-apa," katanya.
Tentang penyimpanan sel induk, dengan rendah
hati Prof. Karmel mengakui bahwa alat itu
belum dimiliki RSCM maupun rumah sakit lain
di Indonesia.
“Lagi-lagi soal biaya. Alat yang bentuknya
mirip kaleng kerupuk besar itu ‘kan mesti
setiap hari dicek dan diawasi, dan itu butuh
ahli. Tidak banyak ahli yang kita punya
dalam hal ini,” ungkapnya.
Sel induk, menurut Prof. Karmel, mesti
disimpan dengan suhu minus 180 derajat
Celsius dengan bahan nitrogen cair. Ini
tidaklah murah.
“Mungkin pemikiran untuk mengajak kerjasama
dengan swasta baik juga karena teknologi ini
cukup baik untuk mengatasi berbagai
persoalan berat seperti myeloma, leukemia,
talasemia, bahkan diabetes,” ujarnya.
Sumber: Kompas
Archive