Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
09.10.2004
Pendekatan Terpadu Percepat Penyembuhan
Pasien Kanker
Rumah sakit (RS) di Indonesia seharusnya
menggunakan pendekatan terpadu dalam
menangani pasien kanker. Mengingat begitu
kompleksnya masalah yang dihadapi pasien
kanker. Pendekatan itu juga bisa memperbaiki
proses penyembuhan menjadi lebih cepat dan
tepat.
"Untuk daerah seperti Jakarta yang fasilitas
dan sumber daya manusianya cukup lengkap,
pelayanan pasien kanker dengan pendekatan
multidisiplin seharusnya sudah bisa
dilakukan," kata Prof Dr Zoebairi Djoerban
SpPD dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik,
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) RS
Cipto Mangunkusumo dalam simposium
"Pengobatan Kanker Terbaik dan Peran
Kemoterapi", di Jakarta, Sabtu (9/10).
Ditambahkan, tim terpadu yang menangani
pasien kanker ini terdiri dari ahli bedah
tumor, radiologi, patologi, onkologi medik,
radioterapi, psikiater, fisoterapis,
pelayanan ahli gizi dan perawat. "Tim
terpadu itu juga melibatkan pasien dan
anggota keluarganya agat terjalin komunikasi
yang baik," katanya.
Zoebairi mengatakan, saat ini masih jarang
fasilitas kesehatan di Indonesia yang
menggunakan pendekatan pelayanan terpadu
untuk pasien kanker. Umumnya, pasien
ditangani oleh seorang dokter atau tim
dokter dari satu disiplin ilmu saja. Dokter
baru memutuskan tindakan pengobatannya
dengan merujuk ke masing-masing bagian,
terkait dengan rencana tindakan pengobatan
jika dokter tersebut merasa perlu
merujuknya.
"Dengan sistem penanganan pasien kanker
seperti itu, seringkali keputusan pengobatan
yang diambil tidak sesuai dengan standar
terbaik, karena pendapat dari beberapa orang
ahli lebih lengkap dibanding dokter
individual," ucapnya menegaskan.
Selain itu, ditambahkan dr Zoebairi,
penanganan pasien oleh dokter secara
invidual mengakibatkan tidak adanya
komunikasi antar pihak yang menangani pasien
kanker sehingga akan menyulitkan jika ada
masalah yang timbul dalam proses pengobatan.
Menurut dokter yang aktif advokasi HIV/AIDS
itu, penanganan kanker oleh tim komprehensif
telah terbukti mengurangi angka kematian,
memperbaiki kualitas hidup dan mengurangi
biaya untuk pengobatan pada pasien kanker
payudara.
Sebuah penelitian di Amerika juga
membandingkan rekomendasi pengobatan inisial
pasien kanker antara yang diberikan oleh
dokter secara individual dengan panel dokter
dari berbagai disiplin ilmu.
"Ternyata 43 persen rekomendasi yang
dikeluarkan oleh panel multidisiplin berbeda
dengan pendapat dokter secara individual dan
lebih sesuai dengan standar "praktek
terbaik" dalam kedokteran," tuturnya.
Dr Zoebairi mencontohkan, RS Kanker Dharmais
Jakarta. Rumah sakit itu merupakan salah
satu contoh RS yang menggunakan sistem
pelayanan terpadu dalam menanngani pasien
kanker, sehingga diharapkan sejumlah RS yang
memiliki ahli lengkap dapat menerapkan hal
tersebut.
"Sesuai estimasi bahwa sekitar lima persen
penduduk Indonesia menderita kanker yang
penyebab utama belum diketahui, kemungkinan
polusi udara, air, tanah dan makanan yang,
sedang jenis kanker terbanyak yakni
payudara, leher rahim dan getah bening,"
ujarnya.
Djoerban menambahkan, pada stadium dini
dengan gejala ringan, pasien kanker dapat
disembuhkan dengan tiga tindakan, yaitu
pembedahan, radioterapi dan obat-obatan,
sedang pada stadium lanjut akan sulit proses
penyembuhannya.
Racun Kanker
Sementara itu, dr A Harryanto Reksodiputro
dari Divisi Hematologi-Onkologi Medik
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM
mengemukakan, umumnya masyarakat berpikir
bahwa pengobatan kanker hanya dengan cara
menghilangkan kanker tersebut.
"Memang benar kanker dapat sembuh bila
kankernya hilang. Namun, perlu diketahui, 90
persen penderita kanker meninggal karena
infeksi dan trombosis (penyumbatan pembuluh
darah)," ungkap dr Harryanto.
Di samping itu, penderitaan pasien kanker
hanya sebagian kecil saja disebabkan oleh
desakan kanker pada jaringan atau organ
tubuh yang tertekan oleh kanker tersebut.
"Hampir seluruh gejala atau penderitaan pada
pasien kanker sebenarnya disebabkan oleh
racun-racun yang dikeluarkan oleh kanker
tersebut," ujarnya menambahkan.
Semua gejala seperti turunnya berat badan,
tidak nafsu makan, rasa lemah, tidak
bertenaga, mual, demam, nyeri otot, otot
mengecil, serta muntah sebenarnya disebabkan
oleh racun-racun yang dikeluarkan oleh
kanker, bukan akibat desakan kanker pada
organ seluruhnya. "Racun yang dikeluarkan
oleh sel kanker amat banyak jumlahnya,"
katanya.
Kerena itu, pengobatan terhadap racun kanker
ini menunjukkan bagian yang amat penting
dalam pengobatan pasien kanker. Bahkan,
pengobatan terhadap racun kanker ini ada
kalanya harus dilakukan sebelum memulai
operasi, radioterapi, dan kemoterapi.
Pengobatan dengan cara kemoterapi, operasi,
radiasi akan lebih baik hasilnya bila
diberikan pada pasien dengan keadaan umum
terbaik. "Sebaliknya, operasi, radiasi,
maupun kemoterapi pada pasien yang keadaan
sakit berat dapat menyebabkan keadaan pasien
menjadi bertambah buruk. Bahkan bisa
menyebabkan kematian pasien," katanya.
Perlu diingat bahwa sebagian besar penderita
kanker datang pada dokter setelah
penyakitnya tidak dapat disembuhkan. Oleh
karena itu, pengobatan terhadap racun-racun
tersebut menduduki peringkat amat penting
dalam pengobatan kanker. "Banyak hal yang
dapat dicapai dan manfaat pengobatan
terhadap racun kanker ini yang tujuannya
meningkatkan kualitas hidup sampai dengan
kualitas kematian pasien kanker," katanya.
(S-12)
Sumber: Suara Karya
Archive