Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
09.01.2003
Kanker Usus Besar Meningkat Seiring dengan
Perubahan Pola Makan
Awalnya, Pak Baroto masih menganggap
enteng mengetahui tinjanya kehitam-hitaman
bercampur darah. Meskipun sudah didesak
berulang kali oleh istrinya untuk
memeriksakan ke dokter, namun Pak Baroto
masih saja mengatakan sibuk dengan
tugas-tugasnya di kepolisian.
aling-paling juga ambeien, begitu ucapnya
setiap kali didesak oleh istrinya. Setelah
merasakan bahwa makin lama tubuhnya makin
kurus serta sukar ke belakang, dengan
terpaksa Pak Baroto menjalani pemeriksaan
yang lebih serius.
Setelah dilakukan teropong usus dan biopsi,
akhirnya diketahui bahwa perwira berusia 52
tahun tersebut, menderita kanker kolon/usus
besar. Berita yang sangat mengejutkan tidak
hanya bagi dirinya, namun bagi seluruh
anggota keluarga.
Meningkat di Asia
Menurut dr Aru Sudoyo dalam salah satu
simposium baru-baru ini, dulu penyakit
kanker usus besar hanya dianggap masalah
bagi negara-negara Barat. Itu dihubungkan
dengan gaya hidup dan kebiasaan makan
mereka. Namun, tidak lagi saat ini.
Di barat, bersama-sama dengan kanker rektum
(disebut kolorektal), kasus itu menyebabkan
sekitar 400.000 kematian per tahun.
Penderitanya baru mencapai 150.000 per
tahun.
Di Asia sendiri, khususnya Asia Timur dan
Tenggara, angkanya mencapai 275.000 kasus
baru dan 127.000 kematian per tahun.
Jika di Amerika Serikat kanker itu menduduki
peringkat ketiga, di Singapura menduduki
peringkat pertama.
Sedangkan di Indonesia masuk dalam kategori
10 kanker terbesar.
Angka itu semakin hari semakin meningkat
sehubungan dengan pola makan yang
kebarat-baratan dari orang Asia. Pola makan
orang Asia yang kaya serat dan segar, pelan
tapi pasti berubah menjadi kaya lemak dan
penuh pengawet. Jika hal itu tidak disadari
dan diubah, kemungkinan besar kanker itu
makin banyak terjadi di Indonesia.
Kelompok Risiko Tinggi
Kanker yang pertumbuhannya lambat itu
sering menyerang mereka yang berusia 50
tahun (90 persen). Risiko lelaki dan
perempuan sama besar, namun risikonya
meningkat dengan adanya riwayat anggota
keluarga yang menderita kanker
(genetik/keturunan), diet tinggi lemak, dan
rendah serat.
Kanker itu harus diwaspadai, jika terdapat
salah satu anggota keluarga yang menderita
kanker. Begitu juga jika seseorang sering
mendapat radang dan polip usus. Pada
perempuan harus mewaspadai kanker ini, jika
terdapat riwayat endometriosis dan kanker
payudara.
Diagnosis
Diagnosis kanker kolon didasarkan pada
pemeriksaan dokter. Gejala yang umum
dirasakan pasien kanker kolon adalah
perubahan pola buang air besar, nyeri pada
perut, penurunan berat badan, dan badan
terasa lemas. Untuk mendiagnosisnya, dokter
akan meminta pasien untuk memeriksa darah
dan tinja, disertai pemeriksaan kolonoskopi
+ biopsi.
Kolonoskopi
Pemeriksaan kolonoskopi dilakukan dengan
memasukkan pipa elastis melalui anus yang
dilengkapi dengan kamera dan jarum untuk
biopsi (mengambil jaringan kecil untuk
diperiksa di laboratorium patologi
anatomi/PA).
Dengan pemeriksaan itu selaput lendir usus
besar dapat diperiksa, sehingga bagian yang
mencurigakan dapat dipotret dan dibiopsi.
Pemeriksaan itu juga dilakukan untuk
penilaian hasil terapi.
Enema Barium
Alat diagnosis yang lain adalah dengan
enema barium. Yaitu dengan memasukkan zat
kontras (barium) ke dalam usus besar melalui
anus, kemudian di foto Rontgen. Memasukkan
zat kontras itu harus setelah buang air
besar.
Sayang, pemeriksaan itu hanya bisa
mendeteksi kanker dan polip yang berukuran
lebih besar dari 1 cm dan tidak bisa
dibiopsi. Pemeriksaan itu punya
keterbatasan, antara lain hanya bisa
mendeteksi tumor/kanker dan polip yang
berukuran lebih besar dari 1 cm, dan tidak
bisa memeriksa kelainan rektum bagian bawah.
Rektum adalah bagian akhir dari kolon
sebelum mencapai anus.
Deteksi Dini
Sangat penting mendeteksi dini akan
adanya kanker kolon tersebut. Kanker kolon
yang diawali dengan polip bisa dideteksi
menggunakan kolonoskopi.
Selain itu, darah dalam tinja perlu
diperiksa. Makin cepat ditemukan dan
ditangani (operasi) makin tinggi angka
kesembuhannya. Penundaan diagnosis/ operasi,
seperti yang dilakukan Pak Baroto pada awal
cerita ini tidak menyelesaikan masalah,
namun bisa merugikan. Jika terlambat, kanker
kolon bisa menyebar (metastase) ke liver (25
persen), kelenjar getah bening perut (15
persen), ginjal/hidronefrosis (13 persen),
adrenal (10 persen), sel telur, otot-otot
psoas dan terjadi asites. Pada kondisi
tersebut sukar untuk disembuhkan lagi.
Pengobatan
Jika ditemukan pada tahap awal/dini,
biasanya terapi (operasi) bisa memberi hasil
baik (95 persen). Bila lokasi kanker dekat
anus, bisa dilakukan kolostomi menetap
(pembuatan lubang pada dinding perut untuk
mengeluarkan tinja dari kolon tanpa melalui
anus). Bila kanker kolon ditemukan pada
tahap lanjut selain operasi diperlukan cara
pengobatan lain bisa juga, misalnya
kemoterapi.
Sumber: Suara Pembaruan
Archive