Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
Jumat, 06 Mei 2005
RS Sardjito Layani Perawatan di Rumah
Pasien kanker yang sudah stadium lanjut
akan mengalami masalah sangat kompleks.
Selain dia sangat menderita dan mengalami
stres tinggi, keluarganya yang melihat
penderitaan pasien pun juga akan menderita.
Oleh karena, itu masyarakat paliatif
berupaya meningkatkan kualitas penderita
kanker melalui upaya paliatif (mengurangi
penderitaan pasien), kata Kepala Instalasi
Kanker Tulip RS Dr Sardjito, dr Johan
Kurnianda, SpPD, KHOM pada jumpa pers, Rabu
(4/5) lalu.
Hal ini berkait dengan Pertemuan Ilmiah
Nasional (PIN) III Masyarakat Paliatif
Indonesia di Yogyakarta. PIN ini berlangsung
7-8 Mei. Selain menghadirkan pembicara ahli
di bidang pengobatan/perawatan paliatif,
juga pasien kanker.
Menurut definisi WHO (Badan Kesehatan
Dunia), pengobatan paliatif ditujukan ketika
penderita tidak respon lagi terhadap
pengobatan. Biasanya, ini untuk pasien
kanker yang sudah pada stadium lanjut (tiga
dan empat).
Selain untuk penderita kanker, pengobatan
paliatif bisa juga untuk penderita seperti
AIDS, gagal jantung yang sudah lanjut, gagal
ginjal yang tidak punya donor, penyakit paru
obstruktif kronik.
Sedangkan yang masih stadium awal sangat
kecil jumlahnya, karena tingkat pendidikan,
pengetahuan dan pemahaman masyarakat tetang
penyakit masih rendah.
Spesialis Anestesi dari RS Dr Sardjito, dr
Muchdar Abubakar, SpAn mengatakan perawatan
paliatif sangat kompleks. Pasien kanker itu
merasa nyeri terus, tidak bisa apa-apa,
makan susah, mual, muntah yang hebat, sesak
napas, susah bergerak, cemas dan sering
curiga.
Untuk mengurangi rasa nyeri harus diberi
morfin, kata Muchdar yang juga penderita
kanker usus ini. Pengobatan paliatif bukan
untuk menyembuhkan, melainkan untuk
mengurangi penderitaan dan mengantarkan
mereka meninggal dengan lebih nyaman dan
dalam iman.
Satu yang menguntungkan perawatan paliatif,
biaya jauh lebih ringan dibanding dengan
perawatan di rumah sakit. Karena, perawatan
ini dilakukan perawatan dirumah pasien. Di
Yogyakarta dikembangkan pelayanan hospice
berbasis dirumah. Ada dokter dan perawat
yang berkunjung secara reguler. Namun karena
keterbatasan kendaraan, daerah kerja baru
radius 40 Km dari RS Dr Sardjito.
Sumber: Republika
Archive