Language
NEWS &
EVENTS
06.03.2002
Klinik Kanker Keluarga untuk Mendeteksi
Faktor Risiko
Kurangnya kesadaran yang membuat
penderita kanker di Indonesia datang ke
rumah sakit pada stadium lanjut menjadi
salah satu alasan Rumah Sakit Kanker
Dharmais (RSKD) membuka Klinik Kanker
Keluarga. Klinik ini berfungsi sebagai upaya
pencegahan serta penapisan bagi kelompok
risiko tinggi, yaitu mereka yang mempunyai
riwayat keluarga terkena kanker.
Hal itu dikemukakan dr Ronald A Hukom MHSc
SpPD KHOM, Kepala Unit Pelayanan Kanker
Keluarga RSKD/staf Sub Bagian
Hematologi-Onkologi Medik, Bagian Ilmu
Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia dalam ceramah awam
tentang "Prospek Klinik Kanker Keluarga di
Indonesia", Selasa (5/3).
Analisis retrospektif terhadap kasus kanker
payudara di RSKD sepanjang tahun 1994-1998
yang dilakukan Hukom bersama Prof Dr dr A
Harryanto Reksodiputro SpPD KHOM
menunjukkan, 50 persen pasien kanker
payudara datang ke RSKD pada stadium IV.
Hanya 25 persen yang datang pada stadium I
dan II.
Hal itu sangat disayangkan mengingat jika
penderita datang dan diobati pada stadium I,
maka harapan hidup (survival rate) lima
tahun sangat tinggi, yaitu 80-90 persen.
Pada stadium II harapan hidup lima tahun
turun menjadi 55-60 persen, stadium III
40-50 persen, dan stadium IV tinggal 10-20
persen.
Beberapa kasus kanker datang pada stadium
IV, padahal pasien mempunyai riwayat
keluarga, misalnya ibu dan/atau saudara
kandung terkena kanker. Di antara pasien
yang datang pada stadium lanjut ada dokter
dan orang-orang yang mampu secara ekonomi.
"Perlu ada kesadaran untuk melakukan deteksi
dini. Begitu ada benjolan segera
berkonsultasi ke fasilitas kesehatan. Dengan
mengetahui benjolan ganas atau jinak dan
segera dilakukan terapi maka peluang sembuh
dan harapan hidup akan lebih tinggi," ujar
Hukom.
Di negara maju seperti Jepang (data Cancer
Institute Hospital Tokyo, 1989) kanker yang
terdeteksi pada stadium dini 87 persen. Yang
datang pada stadium III hanya 12,6 persen.
Faktor utama timbulnya kanker adalah faktor
genetik, termasuk mutasi gen BRCA1, BRCA2
dan p53 serta faktor lingkungan (infeksi
virus, rokok, obesitas, minuman keras,
hormon, radiasi, zat kimia). Menurut Hukom,
ada hubungan antara riwayat keluarga dengan
kejadian kanker di bawah usia 45 tahun. Di
RSKD pasien yang didiagnosis kanker sebelum
usia 40 tahun ada 23,66 persen. Sebanyak
22,7 persen pasien kanker yang didiagnosis
di bawah usia 45 tahun mempunyai saudara
dekat terkena kanker.
Di Belanda, pasien yang didiagnosis terkena
kanker di bawah usia 40 tahun ada 6,2
persen. Sekitar 10-15 persen kasus
dilaporkan memiliki riwayat keluarga terkena
kanker.
Idealnya, klinik dilengkapi dengan tenaga
epidemiologis/ahli statistik, dokter dan
ahli bedah onkologi, ahli/konselor genetik,
psikiater dan psikolog, perawat serta
pekerja sosial. Klinik memberikan pelayanan
konsultasi, penyusunan pohon keluarga,
penilaian risiko kanker, penilaian perlu
tidaknya tes genetik, serta manajemen
pencegahan seperti perubahan gaya hidup,
deteksi dini serta kemoprevensi, yaitu
penggunaan obat, vitamin dan mineral untuk
mengubah proses molekuler dan seluler pada
tahap karsinogenesis.
Saat ini Klinik Kanker Keluarga RSKD
memberikan konseling bagi keluarga pasien
yang diperkirakan mempunyai risiko tinggi
terkena kanker.
Sumber: Kompas
Archive