Language
NEWS &
EVENTS / Back to the
News List
Rabu, 5 September, 2001
Antibodi Antikardiolipid Bisa Sebabkan
"Stroke"
Keguguran berulang tanpa sebab yang
jelas bisa jadi karena antibodi
antikardiolipid (ACA). Antibodi itu juga
bisa menyebabkan stroke dan infark jantung
pada usia muda.
Demikian diungkapkan pakar hemostatis dan
trombosis Prof Dr dr Karmel L Tambunan SpPD
KHOM dari Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
(FKUI) dalam jumpa pers menjelang Kongres
Nasional Perhimpunan Hematologi dan Tranfusi
Darah Indonesia (PHTDI) IX, Selasa (4/9), di
Jakarta.
Kongres itu, menurut Ketua PHTDI dr Zubairi
Djoerban SpPD KHOM, akan diselenggarakan
tanggal 7-9 September 2001 di Semarang.
Selain diikuti anggota PHTDI dari seluruh
Indonesia, juga akan dihadiri para ahli dari
Kanada, Australia, Selandia Baru, Inggeris,
Belanda, Perancis, Thailand, dan Singapura.
Pembicara lain dalam jumpa pers adalah Prof
Dr dr A Harryanto Reksodiputro SpPD KHOM, dr
Djumhana Atmakusuma SpPD KHOM, dan Kepala
Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia
dr Auda Aziz.
“Antibodi antikardiolipid mendorong
terjadinya trombosis atau pembekuan darah
dalam pembuluh darah. Jika terjadi di
plasenta, bekuan darah akan mengganggu
pasokan zat gizi dan oksigen bagi janin
sehingga terjadi keguguran pada usia
kehamilan tiga atau empat bulan. Jika tidak
keguguran, biasanya janin tidak berkembang
atau meninggal dalam kandungan,” urai
Tambunan.
Dalam tiga tahun belakangan ini, lebih dari
240 pasien yang mengalami keguguran
berulang, ada yang empat kali keguguran,
dirujuk. Setelah diobati, 95 persen membaik
dan bisa mempunyai anak.
“Stroke” dan “infark” jantung
Sindrom antifosfolipid yang diakibatkan
ACA ini jika terjadi di vena akan
menyebabkan emboli pada paru, di arteri
jantung menyebabkan infark jantung, di otak
menyebabkan stroke, di pembuluh darah mata
meyebabkan buta, dan di pembuluh telinga
menyebabkan tuli.
Kasus yang ditemui Tambunan antara lain,
pemuda berusia 18 tahun mengalami infark
jantung dan wanita berusia 22 tahun
mengalami stroke. “Jadi infark jantung dan
stroke bukan lagi monopoli orang lanjut
usia,” kata Tambunan.
Selain itu, bentuk sindrom antifosfolipid
adalah migrain yang tak kunjung sembuh.
Setelah diobati dengan antikoagulan atau
antipembekuan darah, tenyata migrain sembuh.
Penyebab sindrom ini ada dua, primer –yaitu
genetik—serta sekunder akibat infeksi virus
termasuk toksoplasmosis, infeksi bakteri,
atau disebabkan obat-obatan. Jika
penyebabnya faktor genetik, obat harus
diminum seumur hidup.
Selama ini faktor risiko trombosis yang umum
diketahui adalah kadar kolesterol tinggi,
diabetes, asap rokok, homosisteinemia, serta
tingginya faktor pembekuan darah dalam
tubuh.
Faktor-faktor itu merangsang proses
pembekuan darah berlebihan jika terjadi
perlukaan pada dinding pembuluh darah.
Trombos atau gumpalan darah yang menempel di
dinding pembuluh darah bisa terlepas dan
menyumbat pembuluh darah. Jika tak segera
diobati, bisa menyebabkan kematian.
“Perokok, termasuk perokok pasif, berisiko
lima sampai sepuluh kali mengalami trombosis
dibanding bukan perokok. Oleh karena itu, di
negara maju merokok dilarang di tempat
umum,” ujar Tambunan. (atk)
Sumber : Kompas
Archive