Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

03.08.2005

Kanker Payudara: 70% Pasien Terlambat Deteksi Dini

Deteksi dini kanker payudara memegang peranan penting dalam mengantisipasi penyebaran kanker. Dengan deteksi dini, timbulnya sel-sel kanker dapat segera diatasi dan dicegah penyebarannya.
"Saat ini diketahui, sekitar 70% pasien kanker terlambat dideteksi, sehingga baru datang ke dokter pada saat stadium tinggi. Akibatnya risiko kematian akibat kanker semakin tinggi," ungkap Sutjipto, spesialis bedah onkologi pada ceramah kesehatan mengenai kanker, kemarin di Jakarta.

Lebih lanjut ia memaparkan, 90% dari semua jenis kanker merupakan penyakit yang dapat dicegah. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan melaksanakan pola hidup sehat untuk mencegah obesitas, serta rutin melakukan check up seperti pemeriksaan pap smear dan pemeriksaan radiologi (mammogram).

Menurut catatan WHO, setiap tahunnya kanker payudara meningkat sebanyak 20%. Dalam satu tahun itu, terdapat lebih dari satu juta penderita kanker payudara baru. "Kanker payudara merupakan silent killer, yang membunuh secara perlahan-lahan tanpa diketahui kapan mulai menginfeksi tubuh," ujar Sutjipto.

Penyebaran penyakit kanker di dunia mulai meningkat seiring dengan kemajuan zaman. Pergeseran gaya hidup, pola makan yang menyebabkan kegemukan, polusi udara, radiasi bahan kimia, konsumsi alkohol dan kafein, serta pemakaian hormon menjadi beberapa contoh faktor penyebab timbulnya kanker. Semakin maju suatu negara, peningkatan penderita kanker pun semakin meningkat, lanjut Sutjipto.

"Indonesia dengan masyarakat yang cenderung mengikuti pola hidup Barat juga mengalami peningkatan dalam jumlah pasien penyakit kanker," ujar pria yang juga Ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta ini.
Salah satu contoh mantan penderita kanker payudara adalah Linda Agum Gumelar yang juga Ketua Umum Kowani. "Sembilan tahun yang lalu saya terkena kanker payudara, namun berkat deteksi awal hingga sekarang saya masih sehat serta masih berkesempatan berbuat sesuatu bagi masyarakat dan perempuan," tuturnya.

Linda juga mengatakan, tujuan ceramah kesehatan yang diselenggarakan atas kerja sama Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ), serta Yayasan Daun Teratai, produsen obat tradisional China, adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai kanker khususnya kanker payudara kepada masyarakat. Acara tersebut dihadiri organisasi wanita yang berada di bawah Kowani.
"Berdasarkan riset, saat ini diketahui, 1 dari 10 perempuan terkena kanker payudara," lanjutnya. Namun jika deteksi dini bisa berjalan, diharapkan angka tersebut dapat berkurang.

"Jika mendengar kata kanker sebaiknya masyarakat tidak menganggapnya sebagai vonis, tetapi anggaplah sebagai kata biasa yang dapat diatasi dengan tenang, ikhlas, dan menyerahkannya kepada Tuhan tetapi tetap berusaha melakukan berbagai cara pengobatan yang dapat dilakukan," pesan Linda.
Senada dengan Linda, salah satu mantan pengidap kanker payudara Sonya Parengkuan, yang kini aktif di YKPJ, menuturkan bahwa dengan selalu berpikir positif dan memasrahkan diri kepada Tuhan sangat membantu proses penyembuhan kanker.

Dirinya divonis mengidap kanker payudara stadium 2, dan harus dioperasi keesokan harinya. Hal tersebut sempat membuat istri August Parengkuan ini cukup terpukul. Namun berkat dukungan keluarga ia memutuskan tetap berjuang melawan penyakitnya. Setelah dioperasi, Sonya menjalani 6 siklus kemoterapi dan 28 kali radioterapi. "Dua bulan kemudian saya sudah kembali sehat, segar bugar dan kembali menjalani kehidupan secara normal," aku perempuan yang masih segar dalam usia setengah baya ini.

Kini Sonya memutuskan menjadi aktivis YKPJ untuk menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat agar tidak seperti dirinya yang mengaku lalai melakukan pemeriksaan payudara seperti mammogram. "Saya harap perempuan lain tidak mengalami apa yang pernah saya alami serta bisa mencegah kanker dengan deteksi dini," tuturnya.

Ia juga berpesan bagi yang telah divonis kanker agar menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan di samping melakukan upaya pengobatan. "We do the best, God do the rest," paparnya.

sumber: Media Indonesia
 

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia