Language

NEWS & EVENTS / Back to the News List

Selasa, 2 April 2002

Trombosis Potensial Menimbulkan Kematian


Trombosis atau bekuan darah dalam pembuluh darah perlu diwaspadai. Selain menurunkan kualitas hidup penderita, juga berpotensi menimbulkan kematian jika bekuan darah terlepas dan menyumbat pembuluh darah yang lebih kecil di jantung, paru, atau otak.

Demikian benang merah pelatihan media bertopik "Trombosis Vena dan Arteri", pekan lalu. Pembicaranya adalah dr Santoso Karo-karo SpJP dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, dr Djumhana Atmakusuma SpPD KHOM dari Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, serta dr Stephanie Danandjaja dan dr Joni Fauzi dari Aventis.

Menurut Djumhana, trombosis bisa terjadi di vena maupun arteri. Trombosis arteri-tergantung tempat terjadinya sumbatan-bisa menyebabkan gangguan mata, tuli mendadak, kejang perut sampai infark jantung dan stroke. Hal serupa terjadi pada trombosis vena. Selain varises, pembengkakan kaki, juga bisa menimbulkan emboli (sumbatan) pada pembuluh darah paru yang mematikan. Tanda emboli paru antara lain nyeri dada tiba-tiba yang meningkat jika mengambil napas dalam, sesak napas, gelisah, batuk kering serta berkeringat.

Gejala trombosis vena dalam antara lain pembengkakan, nyeri, warna kemerahan, peningkatan suhu lokal, tapi seringkali tidak menunjukkan gejala.

Tak seimbang
Ketidakseimbangan faktor yang merangsang aktivitas koagulasi (pembekuan darah) dengan faktor yang mengontrol koagulasi menimbulkan dua kondisi, perdarahan sulit berhenti atau sebaliknya terjadi bekuan darah trombosis. Faktor pencetus trombosis adalah gangguan pada dinding pembuluh darah, gangguan aliran darah atau kelainan darah di mana cenderung mudah menggumpal.

Gangguan pada dinding pembuluh darah-akibat kolesterol, kompleks imun, racun, gangguan aliran darah, bakteri atau virus, enzim atau zat-zat dari asap rokok-mendorong timbulnya aktivitas proses pembekuan darah berupa penggumpalan trombosit (keping pembekuan darah) bersama faktor-faktor pembekuan darah.

Ketidakseimbangan faktor koagulasi menyebabkan proses ini terjadi secara berlebihan sehingga lama-kelamaan menyempitkan pembuluh darah. Bekuan darah juga bisa terjadi di dekat katup vena.

Faktor risiko trombosis antara lain faktor genetik, aterosklerosis, merokok, hipertensi, diabetes melitus, pil kontrasepsi/hormon, pembedahan, trauma, keganasan (kanker), gagal/kelainan jantung, defisiensi enzim, kondisi tidak banyak gerak (misalnya kelumpuhan, rawat baring), kegemukan, usia lanjut.

Pengobatan dilakukan dengan pemberian obat antipenggumpalan darah, antiplatelet, obat trombolisis yang melarutkan gumpalan darah dan jika perlu dilakukan tindakan operasi.

Angina
Santoso Karo-karo mengingatkan bahaya angina pektoris, yaitu ketidakseimbangan antara pasokan dengan kebutuhan oksigen. Umumnya akibat penyempitan pembuluh darah koroner, yaitu pembuluh darah yang mengalirkan darah ke jantung. Penyebabnya antara lain plak akibat kolesterol yang terjadi bertahap sejak muda.

Manifestasi angina adalah sakit atau nyeri dada, dada terasa berat atau terjepit. Lokasi biasanya di bagian tengah atau kiri tulang dada, menjalar ke rahang bawah, leher, bahu, lengan serta punggung.
Disebut angina stabil jika polanya sama, pencetusnya sama, misalnya dada terasa berat jika berjalan cepat 500 meter atau naik tiga tingkat. Kemudian hilang dalam waktu kurang dari lima menit setelah beristirahat. Angina stabil bisa berkembang menjadi angina tak stabil maupun infark miokard akut yang berlanjut pada kematian.

Bila ada angina lebih dari 10 menit disertai rasa lemah, berkeringat dingin atau terjadi angina pada saat beristirahat, sebaiknya segera ke rumah sakit terdekat, terutama yang ada fasilitas untuk menangani. (atk)

Sumber: Kompas
 

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website is supported by
educational grants from Roche Indonesia