Language
NEWS &
EVENTS
02.04.2002
Kemajuan Pengobatan Kanker Payudara
KANKER payudara adalah salah satu jenis
kanker yang bisa dideteksi sejak dini. Salah
satu teknik pemeriksaan konvensional yang
mudah dan murah adalah pemeriksaan payudara
sendiri, yang populer dengan istilah Sadari.
Sadari sebaiknya dilakukan sebulan sekali
setelah haid.
Pemeriksaan lainnya adalah mammogram, yang
biasanya dianjurkan setiap dua tahun sekali.
Ini adalah pemeriksaan radiologi pada
payudara dengan sinar X. Yang mutakhir
adalah pemeriksaan gen BRCA1/BRCA2 bagi
kelompok risiko tinggi.
Kemajuan deteksi dini dan pengobatan kanker
payudara membuat jenis kanker terbanyak
nomor dua pada perempuan itu bukan lagi
suatu penyakit yang sangat menakutkan.
Deteksi dini sangat bermanfaat, karena
dengan teknik pengobatan terbaru kanker
payudara yang ditemukan pada stadium dini
bisa ditangani dengan mempertahankan
payudaranya. "Di Rumah Sakit Kanker Dharmais
program Breast Conserving Therapy (BCT) ini
dijadikan program unggulan untuk terapi
kanker payudara stadium awal," papar dokter
spesialis bedah tumor RSK Dharmais, Samuel J
Haryono.
Upaya mempertahan payudara pada BCT bisa
dilakukan sampai stadium T2 dengan ukuran
tumor kurang dari tiga cm. "Namun, untuk
melakukannya perlu kerja sama multidisiplin
dan pasien perlu mendapat terapi paket
radiasi pascaoperasi," tambahnya.
Penanganan ini sangat bermanfaat bagi pasien
yang masih muda, karena payudara menyangkut
soal estetika. Saat ini sudah 30-an kasus
kanker payudara stadium dini yang ditangani
dengan BCT. Menurut Samuel, dari sisi usia
harapan hidup teknik BCT dibanding dengan
masektomi tidak banyak berbeda. Hanya untuk
kekambuhan memang agak lebih tinggi, sekitar
12 persen.
Kemoterapi
Bagi yang kanker payudaranya terdeteksi
pada stadium yang lebih lanjut, informasi
terbaru dari Kongres Internasional
Pengobatan Anti Kanker ke-12 di Paris, awal
Februari 2002, mungkin bisa membantu
mengurangi kekhawatiran.
Sebagaimana dituturkan ahli hematologi dari
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) dr Zubairi
Djoerban SpPD KHOM, kongres itu membahas
kemoterapi sebelum pembedahan kanker
payudara, yang ternyata bisa memberikan
manfaat lebih besar dibanding kemoterapi
sesudah pembedahan.
Menurut Zubairi, kemoterapi diperlukan
karena kanker merupakan gangguan sistemik.
Meski kanker payudara masih minimal dan
tumor bisa diambil lewat pembedahan, namun
kemungkinan kambuh tetap tinggi. Kemoterapi
berfungsi memberantas sisa-sisa sel kanker
dalam tubuh.
Manfaat adjuvant atau pengobatan penunjang
berupa kemoterapi sebelum pembedahan antara
lain mampu mengurangi angka kekambuhan dan
meningkatkan overall survival (menekan angka
kematian).
Manfaat yang terbesar adalah mengecilkan
tumor dan menurunkan stadium kanker,
sehingga memungkinkan breast conserving
therapy (hanya mengambil tumor tanpa
mengambil seluruh bagian payudara).
Kemoterapi sebelum pembedahan mampu
memperbaiki kondisi tumor lokal (belum
menyebar) yang membengkak dan memborok,
sehingga memungkinkan untuk dibedah.
Diakui oleh Zubairi, kemoterapi sebelum
pembedahan memang mempengaruhi kesiapan
tubuh untuk menghadapi operasi. Namun,
tersedianya obat antimuntah serta obat
penunjang yang mencegah efek samping sangat
membantu kesiapan pasien.
Selain itu sebelum kemoterapi kondisi pasien
akan dinilai lewat pemeriksaan fungsi
jantung dan fungsi ginjal untuk menentukan
dilakukan atau tidak kemoterapi dan memilih
jenis sitostatika yang hendak digunakan.
Antihormon dan antibodi
Pencegahan kanker maupun kekambuhan
kanker payudara bisa dilakukan pula lewat
pengobatan antihormon misalnya tamoxifen.
Kalau kemoterapi dengan sitostatika
menghambat DNA, sehingga menghambat
pembelahan semua sel, tamoxifen bekerja
lebih selektif, yaitu pada reseptor estrogen
dan progesteron. Dengan demikian pembelahan
sel-sel lain tidak terganggu. Pasien tidak
mengalami efek samping seperti kemoterapi,
misalnya, gangguan mukosa (diare, tukak
lambung), rambut rontok dan sebagainya.
Tamoxifen mencegah kekambuhan sampai 50
persen dan menurunkan angka kematian sampai
33 persen.
Regimen kemoterapi konvensional CMF yang
terdiri dari cyclophosphamide, methotrexate,
dan 5-fluorourasil dapat mencegah kekambuhan
25 persen dan menurunkan angka kematian
sampai 17 persen. Regimen yang terbaru,
misalnya, golongan taxan memberikan manfaat
lebih baik dari CMF.
Obat antihormon terbaru arimidex,
sebagaimana dibahas dalam Konferensi Kanker
Payudara Eropa yang berlangsung di
Barcelona, Spanyol, akhir Maret 2002,
memberikan hasil lebih baik dari tamoxifen.
Selain lebih mampu mencegah kanker payudara,
juga lebih sedikit efek samping seperti
kanker endometrium (selaput lendir rahim),
perdarahan vagina maupun penggumpalan darah.
Obat lain untuk kanker payudara adalah
herceptin. Menurut pakar hematologi dari
FKUI/RSCM Prof Dr dr A Haryanto Reksodiputro
SpPD KHOM, herceptin merupakan antibodi
monoklonal yang berfungsi melemahkan sel
kanker. Obat ini bekerja dengan menghambat
gen HER-2/neu (human epidermal growth factor
receptor-2) yang hanya ada di sel kanker dan
menginduksi sel kanker untuk mati
(apoptosis).
Sumber: Kompas
Archive