Language
NEWS &
EVENTS
02.04.2002
Deteksi Dini Kunci Sembuhkan Kanker
KANKER. Mendengar kata ini, bayangan
orang biasanya adalah sakit parah yang
berkepanjangan, menghabiskan banyak biaya,
dan akhirnya meninggal dunia. Anggapan ini
memang tidak sepenuhnya salah, karena
umumnya para penderita kanker terlambat
untuk berobat.
Keadaan ini jauh berbeda dengan negara maju.
Pemahaman akan pentingnya deteksi dini,
sistem kesehatan yang memadai, dan tingkat
pendidikan yang merata, membuat masyarakat
di negara maju waspada sehingga bisa segera
berobat saat stadium kankernya masih sangat
dini. Ini yang membuat banyak mantan
penderita kanker di negara maju bisa dalam
keadaan sehat dan bugar bisa mengatakan,
"Saya dioperasi kanker di rumah sakit ini 10
tahun lalu."
Deteksi dini belum populer di Indonesia
karena selain ketidaktahuan,
ketidakpedulian, dan ketidakmampuan
finansial, banyak anggota masyarakat yang
memang takut menghadapi kenyataan. Mereka
memilih tidak tahu. "Padahal sayang, karena
dalam kanker ada suatu masa yang disebut
golden time. Waktu yang kalau kita gunakan
dengan baik maka hasilnya akan bagus
sekali," papar Direktur RS Kanker Dharmais
Dr dr Samsuridjal Djauzi.
Dalam penanggulangan kanker, deteksi dini
memang memegang peranan amat penting.
Soalnya makin awal kanker ditemukan, makin
mudah pengobatan, makin baik hasilnya, dan
makin murah biayanya. Namun, karena
diagnosis kanker di Indonesia 80 persen
ditemukan pada stadium lanjut-stadium 3 dan
4-maka biasanya kanker sudah menjalar ke
mana-mana. Tidak heran bila beban penanganan
kanker ini di Indonesia jauh lebih besar
dibanding negara-negara maju.
"Pada stadium lanjut biaya pengobatan bisa
mencapai Rp 70-90 juta," kata Samsuridjal.
Sampai saat ini, data di RS Kanker Dharmais
menunjukkan, kasus kanker tertinggi adalah
kanker payudara. Tetapi, bila data kanker
ovarium dan kanker leher rahim disatukan,
maka kanker ginekologi menduduki peringkat
tertinggi.
Keadaan ini menjadi paradoks, karena kedua
jenis kanker tersebut hasil pengobatannya
akan sangat memuaskan bila ditemukan dalam
stadium awal. Apalagi, teknik deteksi dini
kanker payudara dan kanker leher rahim
sebenarnya sudah relatif murah, mudah dan
cepat dilakukan, serta tidak menimbulkan
rasa sakit.
***
KANKER adalah tumor yang bersifat ganas.
Kalau tumor merupakan benjolan yang bersifat
jinak dan tumbuh lambat, maka sel-sel kanker
tumbuh dengan cepat, merusak jaringan
sekitar, dan menjalar ke bagian lain me-
lalui pembuluh darah dan pembuluh getah
bening. Penyebaran sel-sel kanker ini-lah
yang dalam dunia kedokteran disebut sebagai
metastasis.
Penyebab pasti kanker sampai saat ini belum
diketahui. Namun, hasil penelitian
menunjukkan, sebagian besar kanker dipicu
oleh gaya hidup tidak sehat, seperti
kebiasaan makan yang tidak seimbang,
merokok, minum alkohol, berganti-ganti
pasangan seksual, kontak berlebihan dengan
sinar matahari, serta paparan lingkungan
yang tidak sehat. Misalnya, sering mengisap
bahan kimia seperti tar pada rokok dan bahan
kimia industri, penyinaran ultraviolet atau
radioaktif yang berlebihan, atau pemberian
hormon tertentu yang berlebihan.
Jadi, sebagian besar kanker dapat dicegah
dengan membiasakan diri hidup sehat dan
menghindari faktor-faktor penyebab kanker.
Kalaupun tumor ganas ini masih muncul, maka
umumnya kanker da- pat diobati dengan hasil
baik bila ditemukan pada stadium dini.
Menurut dr Ayi Djembarsari MARS dari Unit
Uji Kesehatan dan Deteksi Dini Kanker RSK
Dharmais, saat ini di unitnya ada lima jenis
deteksi dini kanker: leher rahim, payudara,
prostat, kolorektal, dan hati. "Yang
menggembirakan, deteksi dini sudah diikuti
dengan usia makin muda, mayoritas 50 tahun
ke bawah. Cuma sebagian besar masih
perempuan. Pria sedikit sekali," katanya.
Dalam Program Penanggulangan Kanker Terpadu
Paripurna yang disusun sebagai pedoman
penanggulangan kanker, kebiasaan hidup sehat
dan deteksi dini memang menjadi acuan utama.
Lalu, bila ditemukan kanker harus ada
jaminan terapi kanker yang terjangkau dan
berkelanjutan serta adanya penyehatan
paliatif bagi penderita kanker yang sudah
terminal.
"Pola hidup sehat itu misalnya tidak
merokok, memperbaiki pola makan dengan lebih
banyak makan makanan berserat dan mengurangi
lemak, serta berolahraga secara teratur.
Kalau ketiga hal ini dikampanyekan, maka
banyak penyakit tidak menular yang bisa
dicegah. Ini tidak hanya berlaku untuk
kanker, tetapi juga untuk gangguan jantung
koroner dan sebagainya," papar Samsuridjal.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun
memprioritaskan pembatasan rokok dalam
program penanggulangan kanker. Prioritas
selanjutnya berturut-turut diikuti
pencegahan infeksi, pengobatan kanker yang
dapat disembuhkan, penanganan nyeri efektif,
registrasi kanker, program pola makan sehat,
panduan rujukan, panduan perawatan klinis,
pendidikan perawat, jaringan kanker
nasional, unit evaluasi klinis, fokus
teknologi dasar untuk wilayah, program
penelitian klinis, program penelitian dasar
dan program bantuan internasional.
***
UNTUK mengampanyekan tindakan preventif,
mulai dari hidup sehat sampai deteksi dini,
berbagai cara dilakukan RSK Dharmais. Salah
satunya adalah menjalin kerja sama dengan
puskesmas di empat kecamatan: Cengkareng,
Tambora, Kembangan, dan Palmerah.
Kerja sama yang sudah berlangsung tiga tahun
itu meliputi survei pemahaman tentang
kanker, penyuluhan mengenai kanker dan
deteksi dini, serta mendekatkan fasilitas
penanggulangan kanker ke masyarakat dengan
cara membuka konsultasi kanker di
puskesmas-puskesmas itu pada hari-hari
tertentu.
Upaya penyuluhan ini sudah mulai menunjukkan
hasil yang menggembirakan. Namun, kenyataan
menunjukkan sering kali tidak ada
kontinuitas antara deteksi dini dengan
terapi. "Katakanlah orang bisa menjalani
deteksi dini dengan gratis. Tetapi, kalau
hasilnya tidak dapat ditindaklanjuti,
sebenarnya, kan, jadi mubazir," kata
Samsuridjal.
Karena kendala untuk tindak lanjut biasanya
adalah dana, maka RS Kanker Dharmais coba
membantu untuk terapi lanjutannya dengan
memanfaatkan dana Jaring Pengaman Sosial dan
Subsidi BBM-yang jumlahnya sekitar Rp 1
milyar. Bahkan, saat ini Yayasan Kanker
Indonesia (YKI) sudah bersedia mendanai
biaya pengobatan pasien kanker yang tidak
mampu sampai selesai.
YKI memang mempunyai program santunan obat
sitostatika yang diperlukan untuk kemoterapi
bagi penderita kanker tidak mampu, yang
sudah dimulai sejak 1987. Namun, menurut
Ketua Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi YKI
dr Melissa S Luwia MHA, karena keterbatasan
dana tidak semua penderita kanker bisa
mendapat santunan obat.
"Yang diprioritaskan adalah mereka yang
berusia muda, prognosisnya (ramalan
perjalanan penyakit) baik, jenis kanker
sesuai prioritas YKI, yaitu 10 jenis kanker
terbanyak (seperti kanker leher rahim,
payudara, paru, leukemia, kolorektal,
kulit). Syarat lain pasien tidak dicakup
asuransi, dirujuk dokter ahli onkologi dari
rumah sakit pemerintah serta ada surat
keterangan tidak mampu dari RT sampai
camat," paparnya.
Saat ini dana yang disediakan YKI untuk
santunan obat sitostatika Rp 60 juta per
bulan dan bisa melayani 160-200 kali
pengambilan obat. Untuk meringankan beban
penderita kanker lain yang tidak masuk
persyaratan santunan, sejak tahun 1990 YKI
mengembangkan program penyaluran obat
sitostatika dengan harga pokok sekitar 30
persen lebih murah dari harga pasar. Untuk
itu YKI mendapat izin Departemen Kesehatan.
Untuk mendapatkan obat, penderita atau orang
yang diberi kuasa cukup menunjukkan resep
asli dari dokter onkologi sambil menunjukkan
kartu berobat dari rumah sakit atau klinik
bersangkutan. "Hal ini untuk mencegah
penyalahgunaan obat, misalnya
diperjualbelikan kembali," jelas Melissa.
Tak kurang dari Rp 500 juta per bulan uang
beredar dari penyaluran obat sitostatika dan
obat hormon seperti tamoxifen. Padahal,
penderita yang memperoleh obat dari YKI
hanya sebagian dari penderita kanker secara
keseluruhan. Bisa dibayangkan berapa banyak
kejadian kanker di Indonesia.
Bagaimana dengan penderita dari daerah? Jika
penderita berobat jalan di rumah sakit di
Jakarta, YKI menyediakan pemondokan, yaitu
Sasana Marsudi Husada yang terletak
bersandingan dengan Pusat Diagnostik Dini
YKI di Jl Lebak Bulus Tengah No 9, Jakarta
Selatan. Pemondokan yang bertarif sangat
terjangkau, bahkan gratis bagi yang tidak
mampu ini dilengkapi dengan dokter dan
perawat serta fasilitas antarjemput ke Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo.
***
UNTUK pasien yang memang sudah tidak
memerlukan tindakan di rumah sakit, RSK
Dharmais juga mengembangkan hospice care
atau perawatan pasien di rumah sejak 1996.
"Pasien yang sudah pulang dari rumah sakit
kita tengok, kita lihat kebutuhannya. Kami
juga mengadakan pelatihan perawatan dasar,
seperti memandikan, menyuapi sehingga pasien
tetap terawat di tengah anggota
keluarganya," kata Samsuridjal.
Kerja sama lain dijalin dengan Yayasan
Pelita Ilmu, untuk mengajak remaja perempuan
mengenal Sadari (Periksa Payudara Sendiri)
dan melakukannya secara secara teratur.
"Memang kanker payudara pada umur yang
sangat muda jarang sekali. Umumnya baru
muncul pada usia 30 tahun ke atas. Tetapi,
paling tidak kita menumbuhkan kebiasaan
Sadari sejak usia yang muda sekali dan bisa
diteruskan sampai ia menjadi dewasa bahkan
saat tua nanti," tambahnya.
Oleh karena itu, Samsuridjal memang berharap
program bisa berkembang. Kalau di suatu
sekolah ada 20an remaja perempuan yang ingin
belajar Sadari, misalnya, pihaknya tak akan
segan-segan mengirim orang melatih ke sana.
Upaya ini juga berlaku untuk melakukan
pemeriksaan dini kanker leher rahim dengan
teknik pap smear. "Kalau ada kumpulan
ibu-ibu arisan yang ingin periksa pap smear
misalnya, tetapi untuk ke RS Dharmais
terlalu jauh, maka tim kami bisa datang ke
sana," kata dr Ayi Djembarsari MARS dari
Unit Uji Kesehatan dan Deteksi Dini Kanker.
Menurut Samsuridjal, upaya ini merupakan
salah satu cara mendukung Paradigma Sehat
Indonesia Sehat 2010 dengan tidak larut di
bidang diagnosis dan terapi, tetapi dengan
mencoba untuk keluar dari rumah sakit dan
bekerja sama langsung dengan masyarakat
untuk mengajak mereka peduli kanker.
Sumber: Kompas
Archive