Bahasa

NEWS & EVENTS



Indonesia-Singapura Kerjasama Pengobatan Kanker Medik

Para pakar hematologi-onkologi medik Indonesia dan Singapura menjalin kerja sama untuk memperlancar komunikasi dan informasi berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Latar belakangi kerja sama ini adalah karena banyaknya pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri, terutama ke Singapura. Ketersediaan informasi yang tepat mengenai pelayanan medis di Singapura tentang pengobatan yang tepat dan pemulihan kesehatan yang lebih baik lselain itu agar pasien lebih memahami palayanan medis yang ada dengan tujuan berhasil guna dan efektif dalam hal waktu dan biaya.

Kerja sama ini membentuk pengembangan kemitraan di tingkat lembaga terutama hematologi-onkologi medik Indonesia dan Singapura, untuk kemajuan kemampuan profesional medis di kedua negara. Kerja sama sebagai tim yang solid antar kedua negara diharapkan pelayanan kesehatan bagi para pasien bisa lebih meningkat.

Bukan rahasia lagi bila banyak orang Indonesia lebih suka berobat ke Singapura di banding berobat di dalam negeri, meski fasilitas serta kemampuan dokternya sama. Hasil survey yang dilakukan perusahaan farmasi PT Roche menunjukkan ada sekitar 75.000 orang Indonesia yang berduyun-duyun ke Singapura untuk berobat setiap tahunnya. Dari jumlah itu, 10 persen diantaranya datang untuk berobat kanker.

Meski angkanya cukup tinggi, ternyata kedatangan para penderita itu tidak disertai referensi dari dokter-dokter Indonesia. Hal itu tidak saja pemborosan biaya, waktu dan tenaga penderita akibat pemeriksaan yang harus dilakukan dari awal lagi, tetapi juga menyulitkan para dokter Singapura pasca tindakan bila pasien ingin kembali ke Indonesia. Karena dikhawatirkan pengobatan akan berakhir sia-sia bila pasien tidak melanjutkan pengobatannya di tanah air.

Belajar dari pengalaman itu, sejumlah dokter dari beberapa rumah sakit di Singapura menilai perlunya menjalin kerjasama dengan rekan sejawatnya di Indonesia, khususnya dalam bidang hematologi-onkologi medik (Kanker Medik yang berkaitan dengan ilmu darah). Melalui kerjasama itu diharapkan terjadi komunikasi yang selama ini dirasakan "gelap", yang pada akhirnya berdampak pada kemudahan pengobatan.

Seperti dikemukakan dr Karmen Wong dari RS Siloam Gleneagles Singapura yang punya banyak pengalaman dengan pasien-pasiennya dari Indonesia. Ia menyebut umumnya pasiennya tidak punya catatan sedikitpun tentang dokter yang selama ini merawatnya. "Ia hanya menyebut nama dokter budi tanpa alamat maupun nomer telepon yang bisa dihubungi. Padahal, begitu banyak dokter budi di Indonesia," ujarnya.

Prof Tan Yew Oo selaku pimpinan delegasi dokter Singapura membenarkan pernyataan dr Karmen Wong. Pengalaman itu hampir dialami seluruh dokter onkologi medik Singapura. "Itulah salah satu alasan kami perlu menjalin kerjasama dengan pihak dokter Indonesia untuk memudahkan komunikasi.

Prof Dr Arry Haryanto SpPD, Ketua Badan Koordinasi Kerjasama Nasional Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Bakornas Hompedin) mengatakan, pihaknya menyambut baik kerjasama ini karena disadari bukan hal mudah melarang orang untuk berobat ke luar negeri. Tetapi dengan informasi yang benar akan membantu proses pengobatan, serta memperingan biaya pengobatan.

"Meski dari segi fasilitas dan kualitas dokter sebenarnya Indonesia tak kalah dibanding dokter Singapura. Karena kita punya rumah sakit khusus kanker, RS Dharmais. Tetapi kita kan tidak bisa melarang mereka yang ingin berobat ke Singapura, karena itu hak asasinya. Yang penting bagaimana pengobatan itu bisa berjalan efektif," ucapnya.

Menurut dr Arry, ada beberapa hal penting yang perlu disadari pasien. Yaitu perlunya pasien mendapatkan informasi tentang layanan medis yang tepat, terutama kualitas dokternya mengingat terapi kanker membutuhkan kerjasama lintas disiplin medis. Karena itu perlunya informasi tentang sistem rujukan yang tepat.

Selain itu, pasien perlu mempertimbangkan keberlanjutan terapi. Karena tidak semua pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri betul-betul mampu secara finansial. Padahal, terapi kanker membutuhkan tindak lanjut dalam jangka waktu cukup panjang.

"Terapi kanker sebetulnya tidak bisa jauh-jauh dari tempat di mana pasien itu tinggal. Jika pasien berobat ke luar negeri, kemudian melanjutkannya di dalam negeri, maka para dokter Indonesia harus mendapatkan informasi selengkap dan seakurat mungkin tentang terapi yang pernah diberikan kepada pasien," ucapnya.
Hal senada dikemukakan dr Zubairi Djoerban, Ketua Umum Perhimpunan Hematologi & Transfusi Darah Indonesia. Katanya, saat ini dokter-dokter hematologi-onkologi medik di Indonesia telah memiliki panduan standar terapi (protokol) yang telah diterima dan menjadi acuan tata laksana untuk kanker.

"Setelah itu kami akan mengeluarkan informasi yang memaparkan layanan terapi kanker di Indonesia dan Singapura, mulai dari diagnosis, terapi sampai dengan tindak lanjut hingga pemantauan hasil terapi yang mungkin melibatkan dokter-dokter dari kedua negara. Sehingga lebih efektif, praktis dan jauh lebih murah," ucap dr Zubairi.

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website has been funded by unrestricted
educational grant from Roche, a world leader in Oncology