Bahasa

NEWS & EVENTS

Fasilitas Pelayanan Terpadu dalam Pengobatan Kanker
Zubairi Djoerban

Div.Hematologi-Onkologi Medik, Dept. Ilmu Penyakit Dalam
Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia / RS Cipto Mangunkusumo

Perjalanan cukup panjang harus ditempuh seorang pasien kanker, mulai saat gejala ditemukan, diagnosis ditegakkan, pengobatan, pemantauan pasca pengobatan, sampai pemantauan berkala secara rutin bertahun-tahun sesudahnya. Penyakit kanker merupakan penyakit yang kompleks, dimana gangguannya tidak hanya bersifat setempat (lokal) namun juga mengganggu tubuh secara keseluruhan (sistemik). Oleh karena itu pasien akan menghadapi berbagai macam masalah, baik masalah medis maupun nonmedis, yang tidak dapat dipisahkan melainkan saling terkait.

Pengobatan kanker secara garis besar terbagi dalam 3 jenis modalitas yaitu pembedahan, radioterapi, dan dengan obat-obatan. Jenis pengobatan yang dilakukan, baik tunggal atau kombinasi, tergantung dari stadium penyakit kanker. Obat yang digunakan dapat digolongkan menjadi obat sitostatika (obat antikanker standar), terapi biologi, dan terapi hormonal.

Gejala yang terjadi pada kanker bukan hanya akibat desakan dari pertumbuhan tumor namun gejala penyakit diakibatkan oleh kerusakan berbagai organ tubuh seperti penurunan daya tahan tubuh yang menyebabkan gangguan infeksi atau demam hilang timbul; gangguan hipofisis (otak) yang menyebabkan cita rasa hilang, mulut pahit, dan hilangnya rasa lapar; gangguan metabolisme tubuh yang menyebabkan hilangnya nafsu makan dan berat badan turun;gangguan pada saraf yang menyebabkan merasa lemas walaupun cukup olahraga; mengecilnya otot sehingga tungkai dan lengan mengecil, dan sebagainya.

Hal ini semua disebabkan berbagai racun yang dibentuk oleh sel kanker dan disebarkan ke seluruh tubuh. Penderita kanker justru meninggal karena racun ini bukan akibat sel kanker sendiri secara langsung. Disamping itu walupun sifat toksik (beracun) obat-obat kanker ditujukan untuk membunuh sel-sel kanker, namun sifak toksik tersebut juga dapat mempengaruhi sel-sel normal sehingga dapat menimbulkan gangguan fungsi jantung, ginjal, sumsum tulang, dan saluran cerna.

Melihat begitu kompleksnya masalah yang dihadapi pasien kanker, maka pasien kanker harus ditangani oleh sebuah tim terpadu yang terdiri dari para ahli berbagai disiplin ilmu. Tim yang menangani pasien kanker terutama terdiri dari ahli bedah tumor, radiologi, patologi, onkologi medik, radioterapi, dan pelayanan suportif (perawat, ahli gizi, atau pekerja sosial). Selain itu jika diperlukan juga dapat diikutsertakan psikiater, fisioterapis, dll. Tim tersebut juga perlu melibatkan pasien dan anggota keluarganya secara aktif. Komunikasi antar anggota tim yang terkait dilakukan melalui rapat pembicaraan kasus rutin secara berkala atau komunikasi langsung antar anggota tim kapan saja diperlukan. Yang tidak kalah pentingnya adalah adalah komunikasi antara tim dengan pasien dan keluarganya.

Penanganan komprehensif oleh tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu tersebut telah terbukti dapat mengurangi angka kematian, memperbaiki kualitas hidup dan mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan pada pasien kanker payudara. Sebuah penelitian di Amerika juga membandingkan rekomendasi pengobatan inisial pasien kanker antara yang diberikan oleh dokter secara individual dengan panel dokter dari berbagai disiplin ilmu. Ternyata 43% rekomendasi yang dikeluarkan oleh panel multidisplin berbeda dengan pendapat dokter secara individual dan lebih sesuai dengan standar ‘praktek terbaik’ dalam kedokteran.

Saat ini, masih jarang fasilitas kesehatan di Indonesia yang menggunakan pendekatan pelayanan terpadu untuk pasien kanker. Umumnya, pasien ditangani oleh seorang dokter atau tim dokter dari satu disiplin ilmu saja, diputuskan tindakan pengobatannya, baru kemudian dirujuk ke masing-masing bagian yang terkait dengan rencana tindakan pengobatan, jika dokter tersebut merasa perlu merujuknya. Sehingga, seperti yang terungkap pada penelitian di Amerika di atas, seringkali keputusan pengobatan yang diambil tidak sesuai dengan standar ‘praktek terbaik’ karena bagaimanapun pendapat dari beberapa orang ahli yang meninjau dari berbagai sudut tentu akan lebih lengkap dibandingkan pendapat dokter secara individual. Selain itu tidak adanya sistem komunikasi antar pihak yang menangani pasien tersebut juga akan menyulitkan jika ada masalah yang timbul dalam proses pengobatannya.

Sebagai contoh, Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) merupakan salah satu rumah sakit yang menggunakan sistem pelayanan terpadu untuk menangani pasien kanker. Pasien ditangani oleh Tim Kerja (Timja) khusus untuk masing-masing jenis tumor, misalnya kanker payudara, paru, ginekologi, dll. Jakarta Breast Center (JBC) juga menggunakan pendekatan tim multidisiplin untuk menangani pasien kanker payudara. Untuk mewujudkan digunakannya pendekatan multidisiplin pada pasien kanker secara ideal tentu tidak mudah karena hal ini terkait dengan sistem pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia, sistem rujukan, serta ketersediaan dokter yang tidak merata di berbagai daerah di Indonesia.

Untuk daerah seperti Jakarta yang fasilitas dan sumber daya manusianya cukup lengkap, pelayananan pasien kanker dengan pendekatan multidisiplin seyogyanya dapat dilakukan. Untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antara para dokter dan tenaga medis lainnya, pasien, serta keluarga pasien.

Archive

 


 

This website has been funded by

 

This website has been funded by unrestricted
educational grant from Roche, a world leader in Oncology